
Esok adalah hari Sabtu. Hampir seminggu sudah berlalu sejak terakhir kali nya aku melihat Bella dan perselingkuhan nya dengan Bayu.
Walau pada mulanya hati ku merasa remuk redam. Tapi setelah beberapa hari berlalu, aku mulai bisa berpikir lebih tenang. Aku telah memikirkan nya matang-matang. Dan aku akan menemui Bella pekan besok untuk mengkonfrontasi nya perihal perselingkuhan nya itu.
Kenapa tak sedari dulu? Kenapa tidak ku labrak saja Bella dan Bayu di malam itu juga?
Hahh.. Di malam itu, aku sangat tidak siap untuk menghadapi Bella dan Bayu. Rasa cinta ku yang terlampau besar kepada Bella lah yang sudah menahan langkah ku dari melabrak mereka.
Saat itu aku masih merasa terkejut, sekaligus juga takut. Takut jika aku menampakkan diri di hadapan mereka saat itu jua, Bella akan langsung memilih Bayu dibandingkan aku. Aku tak siap untuk menghadapi perpisahan dengan Bella, saat itu juga.. Sebut lah aku sudah dibudakkan oleh rasa cinta ku kepada Bella, terlalu lama..
Terlebih lagi hubungan kami sebelumnya kurasa baik-baik saja. Mana ku tahu jika ternyata takdir telah menyimpan kado spesial untukku di malam itu.
Karena nya, aku membutuhkan waktu. Aku membutuhkan ruang untuk ku merenungkan segalanya. Aku juga membutuhkan waktu untuk menangguhkan diri. Meski hingga kini, perih dan peras nya cinta itu masih terasa menyiksa hati ini. Tapi aku tahu kalau aku akan cukup kuat untuk bertahan ke depan nya nanti.
Dan kini, ada satu hal lagi yang ingin ku pastikan. Baru setelah nya aku akan menemui Bella esok Minggu.
Tok. Tok. Tok.
Aku melirik arloji ku. Sudah jam lima lewat sepuluh menit lebih kini. Ku rasa, dia yang ku tunggu sedari tadi akhirnya tiba jua.
"Masuk!" Aku mempersilahkan seseorang di depan pintu untuk masuk.
Dan, benar saja. Begitu pintu terbuka, tampak lah Laila. Yang memasuki ruang kerja ku dengan raut penuh kekhawatiran.
Melihat ekspresi di wajah wanita itu, aku justru ingin tertawa. Ku rasa wanita di depan ku ini pastilah begitu khawatir akan menerima hukuman atas keteledorannya tadi siang yang telah menabrak ku.
Aku jadi teringat kembali pada rasa sakit di bagian perut ku kala troli yang didorong oleh Laila menubruk perut ku dengan cukup kencang. Beruntung aku sempat menahan dengan kedua lengan. Tapi tetap saja, tubrukan itu tak terelakkan juga. Hingga aku langsung tersungkur jatuh pada akhirnya.
Mengingat rasa sakit kala terjatuh tadi, aku jadi terpikir untuk mengerjai Laila lagi. Ceroboh benar pegawai ku yang satu ini. Sudah lah kasar, pemalas, ceroboh pula. Bagaimana bisa aku masih menahan diri untuk tidak memecat nya? Aku sungguhan heran pada pemikiran ku ini.
"Ehem! Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke sini, bukan?" Ucap ku mengawali.
Ku amati wajah Laila yang tampak mengerucut dan semakin menunduk takut. Susah payah ku tahan tawa yang hendak keluar dari tenggorokan ku kala melihat sikap Laila.
Tapi lalu, Laila mengangkat pandangannya. Dan kembali, aku terjebak dalam perangkap mistis yang dipancarkan oleh kedua mata nya yang kelewat besar itu.
Sedari awal pertemuan ku dengan Laila di pinggir danau Mutiara, aku selalu kesulitan memutuskan koneksi mata di antara kami setiap kali aku sudah menatap kedua mata besar nya Laila. Seolah ada magis yang menarik ku untuk menyelami kedalaman mata wanita itu, lalu membuat ku penasaran pada isi dalam kepala dan juga benak Laila.
__ADS_1
"Ya, Pak. Saya telah berbuat kecerobohan tadi siang dan telah menabrak Bapak. Itu kah alasannya saya dipanggil ke sini?"
Suara Laila terdengar tabah di telinga ku.
Aku mengerjapkan mata. Mencoba menyelami isi pikirannya melalui kedua bola mata nan indah itu.
'Tunggu dulu! Kenapa gue mikir mata nya indah? Jelas-jelas mata nya terlalu besar macam bola bekel! Jauh dari kata indah!' aku mengoreksi penilaian ku sendiri atas kedua mata Laila.
"Mendekat lah. Suara mu terlalu kecil karena kamu bicara terlalu jauh di dekat pintu," tegur ku pada Laila.
Laila kemudian mendekat ke meja tempat ku berada. Sehingga jarak di antara kami hanya tinggal dua setengah meter saja.
Dari bangku ku, aku bisa mengamati wajah Laila lebih detail lagi.
Laila masih mengenakan seragam OB nya yang berwarna krem garis merah bata. Sebuah sepatu kets berwarna senada menjadi alas kaki wanita itu. Tinggi Laila cukup standar. Sekitar 165 senti menurut ku. Dengan postur tubuh yang tak gemuk juga tak terlalu kurus.
Kulit Laila berwarna kuning kecokelatan. Mirip seperti sawo matang. Rambut nya yang biasanya ia sanggul ke belakang, kini terlihat terurai bergelombang sepanjang bahu. Warna rambut nya agak cokelat kemerahan.
Tiba-tiba saja aku membayangkan bila wanita itu berdiri di bawah matahari, tentulah pantulan sinar matahari akan membuat warna rambut nya jadi lebih kemerahan. Seperti mahkota api dengan riak yang bergelombang di sekeliling wajah nya yang berbentuk lonjong.
Yang paling menarik perhatian ku adalah dua mata Laila yang terlalu besar bila dibandingkan dengan mata wanita lainnya yang pernah ku temui. Seperti dua bola bekel seukuran sedang dengan manik kecokelatan yang bening dan tampak magis.
Tanpa sadar, aku mengeratkan pegangan ku pada bolpoin yang ku pegang. Teringat kembali oleh ku wajah Laila yang tersenyum lepas kala ia berbincang dengan pemuda OB rekan kerja nya yang sering mengantarkan nya pulang.
Entah kenapa, perasaan tak suka itu kembali hadir menguasai benak ku. Aku tak suka bila melihat Laila tampak akrab dengan lelaki itu. Dan ku rasa aku juga tak akan suka bila Laila dekat dengan lelaki lainnya.
Ku ketahui kini, bahwa aku telah merasakan cemburu pada wanita yang baru ku kenal sekitar tiga minggu yang lalu itu.
Ya. Aku merasakan cemburu pada nya. Dan itu menandakan pula bahwa aku bisa jadi memiliki perasaan suka pada Laila.
"Pak Kiyano?"
Aku tersadar dari lamunan kala ku dengar Laila memanggil nama ku.
Aku berusaha menjernihkan pikiran. Dan kembali fokus ke masa kini.
"Seperti yang sudah kamu duga, saya memang memanggil kamu ke sini salah satunya untuk alasan itu. Kamu sering kali membuat kecerobohan, dan kurang gigih dalam bekerja. Jika saya mau, saya bisa mengajukan nama mu ke staf Personalia, yang kamu tahu sendiri kelanjutannya akan seperti apa," papar ku panjang lebar..
__ADS_1
"Dipecat," aku menyimpulkan.
Ku amati baik-baik wajah Laila yang jadi tampak lebih pucat saat mendengar kata terakhir ku tadi. Dan lagi-lagi, pikiran tak tega itu kembali hadir. Membuat ku jadi susah hati. Aku menyadari, kalau kali ini aku tak akan bisa bersikap objektif terhadap karyawan ku yang satu ini.
Ku hela napas ku cukup dalam. Sementara ku amati wajah Laila yang menunduk lesu. Merasa tak tega untuk mengerjai wanita di depan ku itu lagi, aku pun lanjut bicara.
"Tapi.." ucap ku sambil bangkit dari kursi dan lalu berjalan hingga berdiri bersandar pada meja ku. Kali ini jarak antara aku dan Laila hanya berkisar satu meter saja, tanpa ada lagi meja sebagai pemisah nya.
"Tapi saya akan beri kamu satu kesempatan terakhir."
Seketika wajah Laila terangkat. Dan ya. Sebuah senyuman lepas disunggingkannya kepada ku. Membuat raut wajah nya tampak full manis.
Aku sempat tertegun selama beberapa detik. Sampai ku dengar pertanyaan dari Laila yang meminta kepastian atas ucapan ku tadi.
"Sungguhan, Pak? Aku masih.. maksud ku, saya masih boleh kerja di sini?!" Tanya Laila dengan raut bahagia yang tumpah ruah di wajah nya.
'Manis benar cewek ini. Tapi dia masih kalah cantik dari Bella ku.. ' jalur pikiran ku yang kembali berlayar ke Bella membuat ku kembali merasa sendu.
"Ya!" Aku menyahut singkat.
Kemudian, Laila tiba-tiba saja mendekat dan meraih kedua tangan ku. Dengan tanpa ba bi bu lagi ia langsung menciumi tangan ku, layaknya anak yang hendak berangkat sekolah bersalaman kepada bapak ibu nya.
Merasa tak nyaman dengan sentuhan yang dilakukan oleh Laila, aku langsung melepaskan diri dan kembali menjaga jarak. Aku pun kembali duduk di kursi ku. Sementara Laila terlihat masih tersenyum sumringah menatapku.
Ba dump. Ba dump.
Kembali, debur jantung ku berdentum-dentum.
Ba dump. Badump.
Dentum yang telah lama tak ku rasakan sejak pertama kali aku menyadari rasa cinta ku kepada Bella, istri ku.
Ba dump. Ba dump.
Yakinlah sudah aku kini.
Ku rasa aku memang mulai menyukai wanita di depan ku ini.
__ADS_1
***