
Setelah melalui malam panas berdua dengan Laila dalam kamar mandi yang dingin karena ruangan yang full ubin (uhuk! Uhuk!), Kami bangun kesiangan esok pagi nya. Yakni jam 8 pagi!
Dengan sepakat, aku dan Laila memutuskan untuk membalas hadiah spesial dari Arline sepulangnya kami dari honeymoon nanti.
Terutama Laila. Istri ku itu nampaknya begitu mendendam atas kejahilan adik ku itu.
Meski aku sempat heran juga sih. Karena tak mengira kalau Laila akan merasa sangat kesal kepada Arline. Padahal masih kuingat jelas semua keaktifannya Laila menunggangi ku semalam tadi.
Duh. Memikirkannya lagi, malah jadi membuat ku ingin mengulangi kejadian semalam lagi. Tapi aku harus menahan junior ku dari beratraksi. Karena ada jam terbang yang harus kami kejar sekitar dua jam lagi.
Kami bahkan tak shalat subuh! Ini semua adalah hasil dari lilin beraroma perang sang yang semalam habis memenuhi seisi ruangan di kamar yang aku dan Laila inapi.
Yang membuat ku merasa lucu adalah, Laila yang meminta ku agar tak menceritakan perihal ia yang tak shalat subuh pagi ini kepada Nunik.
Lucu benar istri ku itu. Ia begitu takut mendapat ceramah dari sahabat nya sendiri. Hahaha. Lumayan lah. Aku jadi punya amunisi tambahan jika sewaktu-waktu Laila bersikap kelewat emosian nanti nya. Tinggal catut saja nama Nunik dan sebut rahasia tentang tak shalat subuh, maka Laila pastilah akan langsung menuruti perkataan ku.
Ahh.. tapi sepertinya aku juga tak akan tega untuk melakukannya sih. Hhh..
Kami pun akhirnya menaiki pesawat sekitar jam 10 nya menuju Singapura. Untuk melihat koala, seperti yang memang diinginkan oleh istri ku, Laila.
Beruntung nya ada kebun binatang yang menangkari koala di Singapura. Jadi keinginan Laila ku iyu bisa terpenuhi juga.
Sesampainya di Singapura, kami menginap di sebuah kondominium milik Mama. Mama sudah menyiapkan kondominium itu sebagai tempat peristirahatan kami selama honeymoon di negara itu.
Aku dan Laila pun akhirnya menikmati honeymoon yang sangat seru dan menyenangkan. Kami berjalan-jalan di taman Marina Bay di malam hari, menaiki bianglala di Singapore flyer, dan naik berbagai macam wahana di Universal Studios, juga menikmati makan malam romantis di balkon kondominium milik Mama.
__ADS_1
Kami tertawa, bercerita tentang banyak hal, menertawakan dan mengomentari apapun yang melintas di pikiran kami masing-masing, dan menikmati setiap momen kebersamaan kami dengan hati yang bahagia. Atau begitulah kiranya aku.
Dan kupikir Laila pun juga sama bahagia nya seperti ku. Karena aku tak pernah lagi melihat nya bersedih atau melamun kan sesuatu. Yang kutahu kalau ia sering melamun kan mantan nya dulu, Kiyano.
Kiyano. Bagaimana pun juga dia adalah rival ku yang paling tangguh dalam mendapatkan hati Laila. Meski pada awalnya aku mengira kalau Kiyano adalah lelaki yang breng sek, namun setelah perbincangan terakhir ku dengan nya dulu sekali, aku akhirnya menyadari kalau dia sebenarnya cukup gentlemen juga.
Di pertemuan terakhir kami, dengan wajah tegar Kiyano menyalami ku karena akan memperistri Laila. Kiyano juga menitipkan Laila kepadaku. Yang tanpa ia berkata apapun tentulah akan kujaga sepenuh hati wanita ku itu.
Dan akhirnya aku dan Kiyano pun bisa berpisah dalam suasana damai dan bersahabat. Meski kami tak bisa juga dikatakan sebagai sahabat. Karena selama Kiyano masih memiliki perasaan terhadap Laila ku, maka dia akan tetap menjadi rival abadi ku.
Satu minggu kemudian, acara honeymoon kami pun akhirnya berakhir jua. Kami pulang kembali ke kota B dengan hati yang penuh oleh rasa bahagia.
Ku dapati Laila pun jadi lebih tenang mendekati waktu kepulangan kami. Ia tak lagi mudah marah-marah. Dan lebih sering tersenyum atau menertawakan apapun dengan begitu mudah nya.
Aku semakin mencintai Laila ku yang seperti ini. Harapan ku adalah Laila ku bisa senantiasa bahagia hingga usia tua nya nanti. Semoga ia selalu bisa menertawakan apapun dan tak mudah bersedih hati.
Keluar dari bandara, kami langsung menuju rumah yang sudah ku beli untuk Laila.
Rumah lama yang memiliki halaman cukup luas itu kini telah selesai direnovasi. Mama Mutia pun sudah pindah ke sana terlebih dulu kemarin pagi. Begitu yang ku dengar dari Arline yang ikut membantu kepindahannya kematin.
Dan aku merasa sangat puas, saat melihat wajah bahagia nya Laila kala kami sampai di rumah kami. Dengan cerianya ia langsung mengagumi keindahan taman dan kolam buatan yang sengaja ku minta buat saat renovasi kemarin.
Bunga mawar merah. Bunga kesukaan nya Laila ku sayang.
"Waahh!! Indah banget! Kamu sengaja ya minta bunga mawar merah ditanam di depan sini, Yang?" Seru Laila dengan wajah yang berbinar-binar.
__ADS_1
Aku tak sempat menjawab pertanyaan Laila ku. Karena Mama Mutia yang baru saja keluar dari dalam rumah lah yang terlebih dulu menjawab pertanyaan nya itu.
"Demi kamu, Nak. Erlan sudah menyiapkan rumah ini seindah mungkin untuk kamu. Makasih ya, Nak Erlan.." ucap Mama Mutia menghadap padaku di kalimat terakhirnya tadi.
"Buat Mama juga kok Erlan rapihkan rumah ini. Kan Mama juga tinggal di sini bersama kami," ucap ku sambil menyalami ibu mertua ku itu.
Mama Mutia tak membalas ucapan ku lagi. Ia hanya memberiku senyuman hangat, senyuman yang persis identik seperti milik nya Laila.
Tahulah aku dari mana istri ku itu mewarisi senyuman manis milik nya itu.
"Mama! Gimana Ma rumah nya? Semalam Mama nginap di sini kan?" Tanya Laila pada Mama Mutia.
"Ya gimana lagi, Nak. Nyaman banget lag! Apalagi kasur nya," ucap Mama.
"Kasur nya kenapa, Ma?" Tanya Laila penasaran.
Terlebih dulu Mama Mutia memberikan senyuman terima kasih kepadaku. Baru kemudian ia berkata.
"Empuk banget!" Ucap Mama dengan singkat.
Laila tergelak. Aku hanya ikutan tersenyum saja. Ku ikuti pasangan ibu dan anak itu masuk ke dalam rumah sambil bercengkrama tentang banyak hal. Dan aku yang mendengar nya seringkali ikut terkekeh-kekeh.
Penyebab utamanya adalah celotehan istri ku yang memang memiliki sejuta kata-kata ajaib. Semisal, "kasir nya seempuk permen kapas gak, Ma?" Atau juga "gak ada kecoak yang suka nongol lagi, kan, Ma?"
Hahaha. Antara ingin tertawa namun juga merasa miris. Aku mengikuti keduanya di belakang dalam diam. Miris, saat kuingat kalau kehidupan lama istri ku itu pernah mengalami kesusahan yang tak bisa kubayangkan.
__ADS_1
Dalam hati, tekad ku pun semakin kuat. Bahwa aku berjanji untuk memberikan kebahagiaan kepada Laila hingga akhir hayat ku nanti. Itu lah janji ku kepada nya.
***