Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Bertemu Kiyano Lagi (POV Laila)


__ADS_3

"Laila? Kamu kenapa? Oh! Yoga!"


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


Suara lelaki yang memanggil nama ku itu sungguh amat sangat ku kenal. Suara itu milik Kiyano.


Aku tak buru-buru membalikkan badan. Tubuh ku kini serasa kaku dan tak mampu untuk membalikkan diri.


Rasanya sudah lama sekali sejak aku bertemu dengan Kiyano. Meski begitu, aku masih bisa mengingat jelas rupa mantan kekasih ku itu.


"Apa kabar, Yoga? Lama banget kita gak jumpa. Jangan bilang Lo lupa sama gue!" Ucap Kiyano yang terdengar semakin datang mendekat.


"Mana biss lupa lah sama kawan karib ku yang terbaik di SMA Pancawarna dulu, Kiyano. Alhamdulillah aku baik. Kabar mu juga gimana Kiy? Sehat?"


Kiyano kini sudah berdiri amat dekat di samping ku. Hanya dalam jangkauan tangan saja aku bisa langsung berada dalam pelukan lelaki itu. Tapi tidak. Aku tak lagi berhak untuk melakukan itu. Karena Kiyano telah kembali rujuk dengan Bella, kini..


Aku tak persis mendengar percakapan dua lelaki di dekat ku itu. Sedari munculnya Kiyano tadi, aku seolah-olah telah berubah menjadi patung yang tak bernyawa.


Aku bahkan tak kuasa mengangkat pandangan ku ke arah samping. Tempat di mana Kiyano kini berdiri begitu dekat dengan ku. Aku juga samar-samar bisa mencium aroma parfum khas pemuda itu. Aroma yang mengingatkan ku pada mint dan hamparan pepohonan di puncak gunung yang pernah ku daki, dulu.


'Duh! Fokus, La! Fokus! Anggap aja kamu gak kenal dia.. anggap aja kamu gak kenal!' aku mencoba mensugesti diri ku sendiri agar bisa menormalkan deburan rasa yang menggempur jantung ku kini.


Tapi sayang nya, apa yang kudengar dan dilakukan oleh Kiyano pada detik berikut nya telah membuyarkan hasil sugesti ku pada diri sendiri. Seperti inilah kiranya percakapan Kiyano dengan Pakpol yang ternyata bernama Yoga itu.


"Kamu kenal Mbak nya ini, Kiy?" Tanya sang Pakpol pada Kiyano.


Detik kemudian, tangan Kiyano meraih bahu ku dan menariknya sedikit agar menempel ke bahu nya.


Ba dump. Ba dump.


"Dia ini.."


Dengan cepat aku melepaskan diri.


Ba dump. Ba dump.


'Sialan si Keong, eh, Kiyano ini! Ngapain juga coba dia pegang-pegang bahu ku. Kita kan udah lama putus!' gusar ku tanpa suara.


Dan aku pun langsung melayangkan pandangan marah pada Kiyano. Walau detik berikutnya aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat. Karena kulihat, Kiyano terlihat kurus sekali. Jauh lebih kurus dibanding terakhir kalinya kami bertemu dulu di tempat ini juga.


Kiyano menangkap pandangan ku. Dan ia seolah bisa mengerti dengan apa yang kupikirkan. Matanya mencoba lari dari tatapan ku. Dan ia pun kembali memperhatikan temannya, sang Pakpol yang bernama Yoga itu.


"Dia ini.. teman ku," ucap Kiyano pada akhirnya.


Deg. Deg.

__ADS_1


Aku tertegun. Entah kenapa batin ku terasa sesak kala mendengar pengakuan Koyano atas status ku bagi dirinya.


Teman. Aku hanyalah seorang teman bagi nya. Teman yang telah terlupakan mungkin, lebih tepatnya..


"Oh.."


"Memangnya dia bikin kesalahan apa, Yo?" Tanya Kiyano lagi.


"Ini. Dia gak pakai helm dan ngebut terlalu kencang," tutur sang Pakpol.


"Apa? Memangnya dia bisa naik.." Kiyano menghentikan ucapannya.


Dan sepertinya dia sudah melihat keberadaan Merry ku. Karena selanjutnya ia pun beralih menatap ku dan bertanya.


"Sejak kapan kamu bisa naik motor, La?"


Dengan berani, kujawab pertanyaan nya itu acuh tak acuh.


"Gak ada urusannya sama kamu."


"..."


"..."


Untuk sesaat, suasana malam yang sudah cukup hening, kian terasa dingin. Sang Pakpol lalu tiba-tiba berkomentar.


"Kalian ini kekasih yang lagi marahan ya?"


Sementara itu di detik yang bersamaan dengan ku, Kiyano juga menyahut, "Yah.. bisa dibilang begitu lah.."


"..."


"..."


Dan suasana pun kembali hening.


"Well.. kalau gitu, aku pergi dulu ya. Kalian ngobrol aja dulu. Bye, Kiy! Nanti kontak nomor lama ku aja ya. Kapan-kapan kita ngopi bareng!"


Kiyano mengangguk sekali dan menyahut "Ok, Bro!"


Sementara itu aku buru-buru kembali berusaha mencegah sang Pakpol dari beranjak pergi.


"Eh, Pak! Jangan pergi dulu! KTP sama STNK saya nya dong, Pak!" Aku kembali mengiba pada sang Pakpol Yoga.


"KTP nya Laila kamu tahan, Yo?" Tanya Kiyano di samping ku.


"Iya."

__ADS_1


"Hey, Bro. Sebagai teman, boleh dong gue minta tolong ke Lo.." ucap Kiyano kemudian.


Aku bisa menebak arah pembicaraan ini. Sepertinya Kiyano hendak membujuk Sang Pakpol untuk menyerahkan kembali KTP dan STNK ku. Karenanya aku pun memutuskan untuk jadi tim pendengar saja. Namun..


"Sorry lah, Kiy. Gue gak bisa nih bantuin Lo kali ini. Cewek Lo tetap harus mengurus sidang pelanggarannya ke kantor hari Senin nanti. Atau bayar denda lah 250ribu," ucap sang Pakpol Yoga.


"Yaudah. Gini aja deh. Gue bayar di sini aja ya denda nya. Kasihan banget tuh cewek gue.." ucap Kiyano yang langsung saja kupotong.


"Aku bukan cewek kamu, Kiy!" Hardik ku yang kemudian tak dianggap oleh kedua pria itu.


Keduanya masih melanjutkan pembicaraan mereka.


"Gimana, Yo? Tolongin gue lah.. Lo gak kasihan apa sama gue nih. Atau Lo juga lupa ya sama kejadian waktu di depan pasar Gambyong dulu.."


"Oke. Oke. Gue bantu Lo deh sekali ini aja. Sialan banget aih, Lo, Kiy. Pakai acara ngancem segala lagi. Gak asik Lo ah! Ini Mbak, KtP sama STNK nya!" Ucap Pakpol seraya menyerahkan kembali KTP milikku.


Aku langsung saja sumringah. Dan berterima kasih berkali-kali pada sang Pakpol. Namun ucapan sang Pakpol selanjutnya membuat ku keki seketika.


"Jangan ke saya, Mbak makasih nya. Ke Kiyano aja. Udahlah maafin aja dia. Namanya hubungan pasti ada aja masalahnya," ucap Pakpol Yoga memberikan nasihat.


"Ta..tapi kami ini bukan.."


"Kalau gitu gue pamit ya, Kiy. Lo punya hutang ngopi ya ke gue!" Tutur sang Pakpol pada Kiyano.


"Ok, Bro! Nanti gue kontak Lo lagi ya."


Dan Sang Pakpol pun akhirnya berlalu pergi dengan mobil dinas nya. Meninggalkan ku berdua saja dengan Kiyano di tempat yang sama.


***


"La, gue..."


aku tak menghiraukan Kiyano. Begitu kulihat Pakpol pergi, aku pun segera beranjak kembali ke atas Merry ku.


Ku hidupkan mesin nya, namun aku tak bisa bergerak maju karena Kiyano menghadang tepat di depan ku.


"Minggir!"


"Bisa kita ngobrol dulu, La? please..?" mohon Kiyano.


"Aku ngantuk. Gak tahu apa sekarang udah jam berapa?" Aku bergaya melihat arloji di lengan ku.


"Udah jam sebelas. Waktunya tidur. Aku capek banget nih habis seharian kerja. Jadi tolong ya, minggir!" usir ku tanpa menatap langsung ke mata Kiyano.


Dan perlahan, Kiyano pun menyamping minggir.


"Oke. Kalau gitu kita ngobrol besok ya, La. Besok kamu libur kan?"

__ADS_1


Aku tak menjawab pertanyaan Kiyano. Langsung saja ku tancap gas si Merry dan berlalu pergi meninggalkan pemuda yang masih meninggalkan rasa nyeri setiap kali aku menatap wajah tampannya itu.


***


__ADS_2