Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Permintaan Maaf Bella (PoV Kiyano)


__ADS_3

Aku tak sempat melihat mu..


Aku tak sempat menatap mata mu..


Sungguh ku rindu kepada mu..


Andai saja kau tahu..


...


Aku tak sempat menyapa mu..


Aku tak sempat berbincang dengan mu..


Tapi biar lah ku tak apa..


Karena, kau selalu di hati ku..


(Lagu ini adalah lagu ciptaan Mel lainnya. Latar cerita terciptanya lagu ini adalah kejadian wafat nya salah satu teman terdekat Mel. Duluuu sekali kejadian nya.


..


hhh.. semoga Allah mengampuni segala dosa2 nya dan mengumpulkannya di jannah nya para riyadush shalihin.. aamiin.. Allahumma aamiin..)


"Oke Dear everybody, jumpa lagi dengan saya, Moniq di acara kesayangan kita, Melodi Malam.."


"Tadi telah kita dengar senandung sedih nya Lazuli Nun yang berjudul 'Tak Sempat' ya. Gimana, berhasil bikin mellow kalian gak nih? Kalau Moniq sih kena banget ya aroma bombay nya, gays."


"Lagu ini adalah request-an dari sohib kita yang udah sering banget request lagu-lagu sedih. Kita panggil aja dia Mr. K ya. Roman-roman nya sih Mr. K lagi patah hati gitu deh gays. Kita doain aja yaa biar Mr. K cepat ketemu jodoh terbaik nya--".


Klik.


Aku mematikan saluran radio di ponsel ku. 'Jodoh Pengganti' katanya? Cih. Aku hanya butuh Laila. Hanya dia, dan dunia ku akan kembali sempurna.


Sayang nya sejak tiga minggu yang lalu, aku tak pernah lagi melihat Laila ku. Aku terlalu malu untuk menemui nya lagi. Karena setiap kali kami bertemu, hanya tangisan dan tangisan saja yang bisa ku ukir di wajah manis nya gadis ku itu.


Ego ku telah menahan diri ini dari melangkah pergi untuk menemui Laila lagi. Karena aku tak sanggup jika harus melihat cinta ku menangis lagi karena ku.

__ADS_1


Ah.. sungguh peras benar jalan cinta yang mesti ku lalui.


Dimulai dari mencintai Bella, lalu merasa ter khianati oleh nya, lalu mengenal Laila, dan hati ku mulai jatuh cinta kepada nya.


Sampai akhirnya ku sadari bahwa pengkhianatan Bella sesungguh nya hanya sebuah ke salah pahaman semata, Namun cinta ku bersama Laila malah kandas jua pada akhir nya.


Dan kini, aku pun kembali bersama Bella, meski hatiku tak lagi tergerak untuk mencintai nya. Karena rasa cinta ku telah beralih sepenuh nya teruntuk Laila. Namun sayang nya, aku dan Laila tak lagi bersama.


Hah! Tega benar takdir mempermainkan perasaan ku. Kenapa tidak dibuat nya aku mencintai Bella selama nya saja? Atau aku bersama dengan Laila selamanya?


Kenapa aku harus berpisah dengan orang yang sangat ku cintai?


Laila.. Laila.. aku membutuhkan nya. Ia seolah sudah menjadi udara untuk ku bisa bernapas. Karena semenjak kepergian nya, aku selalu merasakan sesak yang tak berujung di dalam hati ku.


Laila.. Laila ku sayang.. pada akhirnya aku hanya mampu mencintai nya dalam bilik kelam secara diam-diam.


***


"Nanti Mas harus pergi ke pesta ini ya, Mas. Jangan enggak lho!" Titah Bella kepada ku dari atas pembaringan nya.


Ku amati wajah pucat nya Bella dari sisi kasur. Kedua tangan kami saling bertautan dalam ikatan yang berlandaskan oleh rasa kasih.


Bella menerima semua penyertaan dan perhatian yang ku berikan kepada nya. Dan ia tak mengeluh bilamana aku tak lagi bisa memberikan lebih dari sekedar penyertaan semata.


Penyertaan ini pada akhirnya mengikat hubungan kami dalam sebuah jalinan hubungan yang baru. Yakni persahabatan.


Entah lah. Aku tak tahu bila Bella masih mencintai ku seperti dulu atau tidak. Ia lebih sering jadi seorang yang pendiam akhir-akhir ini. Terutama sejak ia mulai semakin sering bolak/balik pergi ke rumah sakit untuk berobat dan kemoterapi.


Penyakit Bella kian mengganas. Malah saat ini kanker yang diderita nya sudah mendekati stadium akhir.


Tubuh istri ku itu kini hanya tinggal tulang yang berbalut kulit. Mahkota di atas kepala nya pun telah lama habis oleh sebab rontok. Hasil perbuatan dari kemoterapi yang ia jalani selama ini. Sehingga Bella lebih sering mengenakan hijab praktis atau topi kupluk sejak beberapa hari terakhir ini.


"Mas Kiy.." Bella kembali menegur ku.


Sehingga aku pun akhirnya buru-buru menyahut, "Ya. Mas akan pergi ke sana, Dek."


Aku mengusap pelan punggung tangan nya Bella. Mencoba menemukan kelembutan tangan yang dulu pernah membagikan waktu dan perhatian nya yang utuh kepada ku.

__ADS_1


Cinta yang pernah terjalin antara aku dan Bella mungkin bukan lah cinta yang sempurna. Namun cinta yang sudah berubah menjadi kasih persahabatan ini telah mengajarkan ku tentang penerimaan yang ikhlas terhadap jalan takdir yang harus kami lalui.


Jika saja bukan karena Bella, aku mungkin telah hilang arah saat Laila memutuskan untuk pergi meninggalkan ku. Karena penyertaan yang dilakukan oleh Bella selama ini, telah membuat ku tersadar atas kehidupan yang masih ku jalani dan akan ku hadapi sampai waktu yang tak ku ketahui batas nya.


Melihat Bella yang berjuang melawan penyakit nya, aku serasa ditampar untuk tak senantiasa bermuram durja. Bella saja yang terbaring sakit di pembaringan nya masih bisa membagikan senyuman pada orang-orang di sekeliling nya. Jadi kenapa aku yang masih bugar malah tak bisa?


Dari Bella aku belajar bahwa kita harus selalu memiliki tujuan dalam hidup ini. Seperti Bella yang memiliki tujuan untuk bisa sembuh dari kanker nya, sehingga ia pun berusaha dan tak henti berusaha melakukan pengobatan.


Jadi aku pun akhirnya tergerak untuk melanjutkan kembali hidup ku kini. Meski tanpa Laila. Meski jalan ku masih terasa gelap gulita tanpa nya.


Seiyanya, aku harus menargetkan tujuan baru agar bisa tetap melanjutkan hidup ku lagi. Demi Mama dan juga adik ku. Dan terutama adalah demi diri ku sendiri.


Karena kita tak bisa menggantungkan hidup kita pada tangan orang lain. Oleh sebab kendali itu hanya kita sendiri lah yang memegang nya.


Hendak kau bawa hidup mu ke mana? Menuju jalan suram kah? Atau jalan indah kah? Itu semua tergantung pada diri kita sendiri.


"Mas.."


Aku yang tadi nya sudah hendak berbalik untuk pergi ke kota B dan menghadiri acara pesta kolega nya ayah mertua ku, pada akhirnya harus kembali berbalik menghadap Bella.


"Bella minta maaf ya, Mas. Karena Bella sudah membuat Mas banyak menderita," tutur Bella dengan wajah yang tiba-tiba saja sudah bersimbah oleh air mata.


"Hush! Jangan ngomong gitu, Dek.."


Bella lalu terlihat menggeleng lemah.


"Tapi Bella memang sudah banyak bersalah sama Mas.. dan juga Laila.."


Deg. Deg.


Mendengar nama Laila, seketika jantung ku serasa hendak berhenti berdetak.


"Bella minta maaf karena sudah membuat Mas dan Laila terpisah.."


Mendengar pernyataan Bella barusan, seketika itu pula aku langsung dirundung oleh rasa penasaran.


"Apa maksud ucapan mu itu, Dek?" Tanya ku langsung kepada Bella dengan jantung yang kian berdebur kencang.

__ADS_1


***


__ADS_2