Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Arline (POV Laila)


__ADS_3

Setelah beberapa hari istirahat di rumah, syukurlah cedera di lengan ku berangsur pulih. Setelah dirasa tangan ku sudah lebih baik, aku pun kembali bekerja di rumah Mama Ilmaya. Dan ku sadari perlakuan pelayan terhadap ku kini mulai berbeda.


Aku tak ingin memusingkan apa pendapat para pelayan di sana. Toh aku tak berbuat jahat apapun di rumah ini. Aku juga tak merugikan siapaun. Dan yang paling jelas, aku tak menggoda pria mana pun di rumah ini.


Terkecuali mungkin Erlan saja yang paling sering menjadi bahan godaan ku setiap hari nya. Itu pun jika sesekali ia muncul di pertengahan siang atau sore menjelang kepulangan ku.


Seperti ketika bekerja di pabrik tekstil dulu, Erlan kembali menjabat sebagai ojek langganan ku sepulang nya aku bekerja. Aku sih jelas tak menolak nya. Toh aku mendapat tumpangan gratis. Hehehe..


Suatu pagi, aku sedang mengajak Oma berjalan-jalan di halaman. Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan kemunculan seorang wanita bertubuh mungil yang.. serasa amat ku kenal.


Wajah nya khas oriental. Dengan bulu mata yang lentik pada mata nya yang bulat indah bak buah badam.


"Kamu care taker nya Oma yang baru ya?" Tanya wanita muda itu dengan ramah.


Aku menatap linglung pada wanita itu.


'Di mana ya kami pernah bertemu? Rasanya aku sangat mengenali wajah nya! hmm..' aku sibuk mengingat-ingat.


"Hello! Are you here?"


Aku terkejut saat wanita di depan ku itu mengibaskan jemari nya tepat di depan wajah ku.


"Nama ku Arline. Kamu Laila kan? Mama udah cerita banyak tentang kamu lho!" Ucap Arline secara beruntun.


Tring..


'Arline? Hmm... Seperti pernah mendengar nama nya. Tapi juga kayaknya gak pernah deh. Ah tauk ah!' buru-buru ku buyarkan lamunan ku.


"Hay, Nona Arline! Ya. Aku Laila. Mama?"


"Cukup Arline saja. Iya. Mama Ilmaya," koreksi Arline.


"Ooh.."


Ku amati wajah wanita di depan ku ini lekat-lekat. Dan aku baru tersadar pada kemiripannya dengan Mama Ilmaya.


'Oh! Sepertinya dia putri nya Mama Ilmaya. Pantas saja aku merasa tak asing dengan wajah nya. Ku pikir kami pernah bertemu di mana..' gumam batin ku sendiri.


"Hay, Oma! Maafin Arline ya, Oma. Arline baru sempat main lagi. Tugas di lab lagi agak banyak nih. Oma merasa baikan?"


Aku mengamati interaksi Arline dengan Oma Ruth.


Oma Ruth umumnya tak banyak bicara. Ia lebih sering menjawab sapaan orang lain dengan senyuman, anggukan atau gelengan kepala.


Menurut Mama Ilmaya, dulunya Oma Ruth masih sehat bugar. Namun sejak Opung meninggal, kesehatan Oma Ruth tiba-tiba saja menurun. Tahu-tahu ia sudah tak lagi bisa berjalan sejak setahun yang lalu dan hanya mengandalkan kursi roda untuk bisa pergi ke mana-mana.


"Arline..makan?"


Aku tertegun. Baru saja Oma Ruth bicara kepada Arline. Aku jadi teringat dengan kejadian kemarin, saat aku yang asyik bercerita panjang lebar pada Oma Ruth tentang kegiatan sehari-hari mama ku, tiba-tiba mendengar Oma bicara padaku. "Sabar.. Laila.." Padahal sebelum-sebelumnya aku lebih sering melakukan percakapan monolog dengan Oma Ruth.


Dan kini, Oma Ruth pun kembali bicara kepada Arline.


'ah.. tentu saja. Arline kan cucu nya. Jadi pastilah Oma juga punya semangat untuk bicara padanya,' aku kembali bergumam.

__ADS_1


"Hey! Laila!"


Aku tersentak bangun dari lamunan singkat ku.


'Duh! Laila! Kebiasaan jelek mu yang suka melamun ini harus cepat-cepat dihilangkan nih!' ku tegur diri ku sendiri.


Aku memandang malu pada Arline yang memandangi ku sambil menyengir. Tanpa sadar, aku juga membalas cengiran nya itu.


"Bisa tolong ambilkan crackers? Oma kayaknya mau ngemil deh!" Ucap Arline meminta tolong.


Aku mengernyit, sebelum akhirnya berkata.


"Maaf, Nona--"


"Panggil Arline saja, Laila.." Arline mengoreksi ku lagi.


"Err.. iya, Arline. Menurut ku Oma sebaiknya menghindari makan crackers terlebih dulu. Crackers kan cemilan kering ya? Memakan itu terlalu sering khawatirnya bisa membuat kerongkongan Oma lecet-lecet. Bisa jadi karena itu juga jadi Oma jarang bicara.." Aku memaparkan alasan.


"Oh.. gitu ya. Tapi Opung dulu suka banget makan crackers makanya Oma juga jadi suka.. aku gak kepikiran kalau itu bisa bikin kerongkongan Oma lecet-lecet.." gumam Arline menyesal.


Kemudian, aku duduk berjongkok hingga tatapan ku lurus dengan mata Oma. Lalu aku bicara langsung kepada wanita renta itu.


"Gak apa-apa ya Oma, crackers nya diganti sama buah aja? Buah pepaya atau semangka gimana? Itu banyak airnya, segar lho, Oma!" Aku membujuk Oma.


Pada mulanya Oma mengerutkan dahi, pertanda tak suka dengan usulan ku. Namun setelah beberapa lama, ia akhirnya menyahut juga. "Ya. Semangka.."


Aku tersenyum lebar. Merasa senang karena usaha membujuk ku berhasil. Langsung saja aku bangun berdiri.


"Kalau gitu, aku titip Oma sebentar ya, Lin. Aku mau ambil buah semangka dulu. Kemarin sih aku udah minta Buk De Yanti untuk membelinya."


Aku tak sempat mendengar sahutan Arline dan bergegas berlari menuju dapur. Aku hanya sempat melihat tatapan takjub yang ditujukan Arline kepada ku. Entah untuk alasan apa.


***


Sore harinya, aku sedang duduk bersama seluruh keluarga Mama Ilmaya. Ada Mama Ilmaya, Tuan Gilbert, Arline, dan juga Oma Ruth.


Aku duduk di samping Oma yang masih asik melihat tayangan di televisi tentang acara memasak. Dan aku ikutan serius melihat tayangan itu bersama Oma.


"Laila! Ya ampun! Kamu tuh beneran suka melamun ya?"


Aku tersentak kaget saat menerima sebuah tepukan yang cukup kencang di bahu kiri ku.


"Adidadida!" Aku tak sengaja jadi me latah.


"Arline! Jaga sikap mu! Kasihan kan tuh Laila nya kaget!" Mama Ilmaya menegur Arline.


Ku lihat Arline menyengir malu lalu meminta maaf kepada ku.


"Maaf ya, La. Udah kebiasaan sih."


"Maaf ya, Laila. Arline ini memang anak nya suka tepak-tepok sana sini.."


"Err.. gak apa-apa, Bu."

__ADS_1


Tak lama kemudian, perhatian semua orang tertuju pada ku. Aku pun jadi salah tingkah dan keceplosan bicara.


"Ke..kenapa ya? Apa maskara ku luntur?" Tanya ku entah pada siapa.


Detik berikutnya, Arline sontak tertawa kecil. Sementara Mama Ilmaya dan Tuan Gilbert hanya memberikan senyuman ramah kepada ku.


Tanpa sadar ku garuk kepala ku yang tak gatal. Dan barulah ku sadari kalau ternyata aku sedang memegang potongan cake yang adalah cemilan keluarga majikan ku ini. Entah sejak kapan ternyata aku sudah ikutan nyemil bersama mereka.


Bagai memegang besi panas, aku langsung saja meminta maaf. "Maaf!" Dan bergegas memasukkan sisa potongan cake di tangan ku ke dalam mulut.


Tapi lalu aku tersadar kalau sikap ku mesti lah terkesan tak sopan.


'Mau dikeluarin lagi kok ya rasanya lebih gak sopan! Duh, Lail! Emang sih nonton tv enak nya sambil ngemil. Tapi kan ini bukan di rumah mu sendiri! Kamu tuh lagi kerja, il! lagi kerja!!' aku menjerit dan kesal pada diri ku sendiri.


Pada akhirnya aku hanya bisa menunduk lesu dan mengucapkan permintaan maaf ku lagi. "Maaf Ibu, Tuan, Nona Arline.. Laila tadi gak sadar udah makan kue nya.." ucap ku dengan nada pasrah.


Dan, detik berikutnya, tawa Arline pun pecah membahana.


"Buahahahaa! Mama! Laila benar-benar lucu ya?! Arline gak bisa bayangin kalau dia beneran jadian sama..!"


"Husyy! Arline!" Mama Ilmaya terlihat panik saat menegur Arline.


Sayangnya, aku sudah mendengar ucapan Arline dan melihat gelagat mencurigakan dari Mama Ilmaya.


Aku mengerutkan dahi. Mencoba menebak arah pembicaraan mereka tadi.


'dengan.. siapa? Siapa yang mereka kira akan jadian dengan ku? Apa mereka mau mencomblangi ku dengan seseorang?' benak ku mulai merambah liar.


"Laila! Jangan dengerin omongan Arline ya! Dia ini suka asal omong. Kita tuh memang suka main jodoh-jodohin orang. Cuma main-main doang kok! Jadi tolong jangan diambil hati ya, Laila," Mama Ilmaya mencoba menenangkan ku.


Tapi aku belum merasa tenang. Karena penasaran, akhirnya aku kembali keceplosan bertanya.


"Memangnya Mama Ilmaya dan Arline jodoh-jodohin aku sama siapa?" Tanya ku pada Mama Ilma.


Mama Ilmaya terlihat bingung dan sedikit panik. Aku jadi kian curiga. Namun kemudian Arline menyahut.


"Itu loh sama pegawai di sini juga. Sopir kami itu tuh, siapa Mam namanya? Oh, ya, Erlan!" Tutur Arline dengan nada yang kelewat girang dan aneh menurut ku.


Begitu nama Erlan disebut, spontan saja aku kembali keceplosan.


"Erlan?! Dihh.. enggak. Jangan deh, Lin! Level nya beda sama Laila. Dia mah cabe ijo. Kecuali digodok, Laila gak terlalu suka sama cabe ijo!" Tutur ku ceplas ceplos.


Tiba-tiba saja, ketiga orang di ruangan itu terdiam dan menatap ku aneh. Merasa malu sendiri, aku buru-buru berdalih untuk segera pergi dari ruangan keluarga itu.


"Err.. Oma udah tidur. Laila mau bawa Oma ke kamar dulu ya, semua!" Pamit ku terburu-buru sambil mendorong kursi roda Oma Ruth.


Tak lama kemudian, dari kejauhan ku dengar suara tawa Arline yang kembali pecah. Kali ini ini tawanya lebih kencang dari pada yang kedua tadi.


Samar-samar aku juga mendengarnya bicara, "Kasihan sekali, Kakak.. dia dapat pasangan yang sama aneh nya dengan ku!"


Aku tak bisa mengerti maksud ucapan Arline itu.


'Ah.. pasti mereka sekarang sedang menggosipkan orang lain lagi. Haduh.. haduh.. gak nyangka. Orang kaya juga ternyata suka bergosip ya!' gumam ku dalam diam.

__ADS_1


***


__ADS_2