
Dan dimulailah kehidupan kami di rumah yang baru selesai direnovasi itu.
Setelah beberapa hari tinggal di rumah baru, kami mengunjungi rumah keluarga ku. Kami membawa serta oleh-oleh yang telah kami siapkan untuk semua orang di rumah itu.
Laila bahkan sengaja membelikan cindera mata pajangan mini untuk dibagi-bagikannya pada para pembantu di rumah Mama Ilmaya. Dan semua pembantu pun mengucapkan terima kasih mereka kepada nya.
Aku bersyukur karena aku menikahi seorang wanita yang begitu murah hati. Tak menyangka juga sih karena istri ku itu sempat-sempat nya mengingat jumlah pembantu di rumah Mama dengan sangat tepat.
Selain itu, Papa Ulum juga masih bekerja di sana sebagai penjaga kebun. Namun dalam perbincangan singkat ku berdua dengan Papa kandung nya Laila itu, aku mendapat pengakuannya. Kalau rencana nya Papa akan kembali menikah sirih dengan Mama Mutia tiga minggu mendatang. Alhamdulillah..
Saat mendengar pengakuannya itu, aku bersikeras meminta Papa untuk ikut pindah tinggal ke rumah ku saja. Apalagi rumah ku dan Laila juga memiliki banyak ruangan kosong. Jadi Papa bisa bersama-sama dengan Mama menuntas kan hobi berkebun nya mereka.
Pada mulanya Papa Ulum menolak saran ku itu. Namun, setelah Laila mengetahui tentang kabar orang tua nya yang akan menikah kembali, istri ku itu langsung mengotot minta Papa nya untuk berhenti bekerja.
Laila malah berani mengancam untuk meminta pada Papa Gilberth (ayah kandung ku) agar memecat Papa Ulum. Dan aku dibuat ternganga kala mendengar saran nya Laila itu. Aku sendiri tak pernah terbersit untuk memakai cara yang sedikit agak kelewat bar-bar itu. Tapi Laila malah... Yah. Begitu lah.
Tapi ancaman Laila itu terbukti ampuh. Karena akhirnya Papa Ulum mau mengikuti saran kami berdua. Dan istri ku kembali mengejutkan ku. Karena ia langsung bersorak riang "Yeah!" Sambil merangkul leher ku erat dan mengecup pipi ku.
Hmm.. lumayan lah.. lumayan. Tak biasa-biasanya juga kan Laila berani melakukan PDA di hadapan orang lain. Tapi semakin hari Laila semakin terbiasa mengecup pipi atau memeluk pinggang dan leher ku, meski masih ada orang terdekat di sekitat kami berdua.
Dan itu jelas sangat membuat ku senang.. dan juga bahagia. Karena aku semakin yakin kalau secara perlahan Laila sudah terbiasa dengan keberadaan ku dan bahkan mungkin ia sudah melupakan perasaan lama nya terhadap Kiyano.
Ya. Mestilah begitu.
Di hari menikah kembali nya Papa Ulum dan Mama Mutia, kami mengalami sebuah insiden yang tak terlupakan.
Saat itu, kami sedang makan-makan bersama yang lain nya. Ketika tiba-tiba saja Laila mual-mual hebat saat memakan udang. Bahkan ia sampai pingsan sekeluarnya ia dari kamar mandi. Beruntung saat itu aku sigap menangkap tubuh istri ku itu. Karena aku ikut menemani Laila membersihkan diri nya yang muntah-muntah di kamar mandi.
Seluruh orang yang hadir di rumah kami itu terlihat panik. Begitu pun juga dengan ku. Kami khawatir jika Laila keracunan makanan atau sakit perut. Namun di perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba saja aku tersadarkan oleh dugaan ku terkait penyebab Laila jadi seperti ini.
__ADS_1
Dan, benar saja. Di rumah sakit itulah kami akhirnya menerima kabar kehamilan Laila yang ternyata telah memasuki usia sepuluh minggu.
Aku ingat, saat itu Arline yang ijut menemani ku ke rumsh sakit langsung bersorak kencang, kala mendengar penuturan sang dokter wanita.
Adik ku itu bahkan sengaja meng goyang-goyangkan bahu nya Laila agar ia segera terbangun. Arline ingin ia lah yang memberi tahukan kabar itu kepada Laila.
Tapi aku buru-buru menghentikan sikap brutal nya itu. Alhasil Arline pun mau tak mau berhenti bersikap bar bar. Dan menunggu Laila tersadar dengan sendiri nya, bersama dengan ku.
Saat masih menunggu, Mama Ilmaya menelpon kami. Ia menanyakan kabar Laila kepada ku via sambungan telepon.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Laila, Lan? Kenapa dia bisa sampai pingsan begiyu?!" Tanya Mama Ilmaya dengan khawatir.
Dengan cengiran lebar yang ku rasakan menghiasi wajah ku, aku pun menjawab pertanyaan Mama secara langsung.
"Laila hamil, Ma! Kata dokter, Laila ternyata sedang mengandung saat ini!" Aku berseru senang.
Di samping ku, Arline ikut menyerobot bicara ke dekat ponsel ku.
Ku toyor saja kepala Arline agar menjauh. Namun saat aku hendak kembali bicara, terdengar suara Laila di belakang kami (aku dan Arline). Entah sejak kapan Laila ternyata telah terbangun dan ikut mendengarkan percakapan telepon ku dengan Mama Ilmaya.
"Apa, Yang?! Aku benar hamil?!" Tanya Laila dengan suara yang masih terdengar lemah di telinga jku.
Aku langsung menghampiri Laila dan menyerahkan ponsel ku kepada Arline. Namun Arline balas menyerahkan ponsel ku kembali ke tangan ku. Dengan cepat, Arline lebih dulu berlari hingga berdiri di samping Laila.
Kemudian adik ku itu emmeluk Laila dengan sangat erat sambil menyelamati kehamilan nya Laila. Dan aku langsung menegur nya.
"Pelan-pelan, Lin! Ada dua anak ku itu di perut nya Laila!" Kecam ku spontan kepada Arline.
"Ups! Maaf kakak ku terbawel.. aku lupa, Kak.. dan kamu Kakak ipar ku yang paling manis sedunia, selamat yaa! Ternyata kamu duluan yang bisa ngasih cucu ke Mama. Gak apa-apa deh. Aku ikutan senang bareng-bareng sama kamu, La.." ucap Arline dengan tulus.
__ADS_1
Aku pun tersadar. Kalau Arline memang belum hamil di usia pernikahannya yang ke tiga bulan ini. Kekesalan ku pada adik ju itu pun langsung sirna. Tergantikan oleh rasa iba ku kepada nya.
Karena aku pun tahu, kalau Arline sebenarnya berharap bisa jadi yang pertama memberikan cucu dalam keluarga inti kami. Ia pernah mengatakan kepada ku dulu sekali (saat kami berdua belum mengenal Laila). Kalau ia ingin anak nya nanti lah yang akan gantian dipanggil kakak oleh anak-anaj ku. Dan itu berarti anak nya lah yang harus terlahir lebih dulu.
"Kenapa sih lihatinnya begitu banget? Memang nya di muka Alin ada belek apa, Kak?" Tanya Arline saat mendapati ku menatap nya terlalu lama.
Mendengar ucapan nya yang jo rok itu, ekspresi iba ku pun langsung menguap. Tergantikan oleh kekesalan ku kembali kepada nya.
"Dasar! Jorok nya kamu tuh gak tertolong, deh, Lin!" Ledek ku kemudian.
Aku lalu menghampiri Laila juga hingga berdiri di sisi seberang nya Arline. Terlebih dulu ku kecup kening istri ku itu dengan rasa sayang dan terima kasih yang tak terbatas.
"Makasih ya, Sayang.. iya. Kita akan jadi Mommy dan Daddy untuk kedua anak kita ini. Selamat ya, Yang.." ucap ku sedikit tersendat oleh perasaan haru yang mengharu biru di dalam dada.
"Sungguh, Yang? Ini beneran kan?" Tanya Laila kembali dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya. Serius. Dua rius. Ribuan atau jutaan rius deh buat kamu, Yang," ucap ku lagi.
"Alhamdulillah.. " seru Laila dengan suara lirih.
Dan aku ikut berhamdalah di samping istri ku ini.
Suasana haru itu sayangnya harus diambyarkan oleh selorohan Arline yang sudah bisa dipastikan kacau sangat. Dengan santai nya, Arline malah mengejek kami berdua.
"Mommy? Daddy? Idihh.. kenapa enggak Mama dan Papa aja sih panggilan kalian nanti? Terus nanti aku jadi apa dong? Aunty gitu? Onti.. onti.. nanti malah diplesetin jadi Onta lagi. Gak mau ah! Ganti udah! Mama Papa aja lah!" Saran Arline berapi-api.
Aku langsung melepas pelukan ku pada Laila. Dan dengan konpak nya, aku dan Laila pun langsung berkata kepada Arline dengan kalimat yang sama.
"Mending diam aja deh, Lin!" Ucap ku dan Laila secara bersamaan.
__ADS_1
(Pelafalan kata "aunty" memang sedikit mirip dengan pelafalan kata "onti")
***