
" Aku sudah tidak sanggup hidupmu tanpamu Shilla." ucap seseorang sambil mengelus sebuah foto pernikahan.
Setelah kepergian Shilla akibat kecelakaan tunggal beberapa bulan yang lalu, hidup di sekitarnya berbeda. Dimulai dari keluarganya yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali untuk waktu yang lama.
Apalagi keluarga kandung Shilla sudah memutuskan hubungannya dengan keluarga Revano. Mereka sudah terlalu kecewa dengan menantunya yang berselingkuh hingga mengakibatkan Puteri kesayangannya meninggal bersama calon cucunya.
Begitu juga dengan orang tua Revano sendiri yang sudah tidak mempedulikan anak tunggalnya. Mereka terlalu kecewa dengan sikap dari putera nya dan malu. Hingga tanpa sadar hubungan di antara keduanya semakin merenggang.
Beberapa bulan terakhir hidup Revano sudah hancur. Awal dari putusnya hubungan orang tuanya, pekerjaannya yang semakin terbengkalai hingga menciptakan kerugian besar. Dia sudah tidak mempedulikan wanita selingkuhannya. Ada di pikirannya saat ini adalah Shilla dan Calon anaknya yang sudah pergi untuk selamanya.
Setiap hari dia hanya menghabiskan waktu di kamar, menangis dan meminum bir yang banyak. Berharap agar mulai melupakan Shilla. Tapi sayangnya itu tidak berhasil.
Revano yang saat ini sedang duduk di lantai memandang bingkai foto pernikahannya dengan Shilla. Bisa di lihat wajah Shilla yang tersenyum di foto. Kebalikan dengannya yang memasang wajah datar dan benci kepada Shilla.
Memikirkannya kejahatannya dengan Shilla membuat Revano merasa ingin menangis untuk kesekian kalinya.
" Hiks...aku sudah tidak sanggup menghadapi nya hiks...semua orang pergi meninggalkan ku. aku sudah tidak ingin hidup lagi." ucap Revano yang terisak-isak.
Saat ini tubuhnya terpengaruh alkohol yang diminumnya semalaman.
__ADS_1
Kemudian pandangan Revano tertuju ke arah sebuah pistol yang tersembunyi di bawah ranjangnya. Dengan cepat dia mengambilnya dan mengarahkannya ke dadanya.
" Hatiku sudah hancur karena kebodohan ku sendiri, aku membiarkan kau pergi bersama anak kita, kau memberikan sebuah pelajaran yang begitu kejam kepadaku." ucap Revano sambil menghela nafas nya.
" Biarkan aku menyusulmu dan kita bisa tinggal dalam keabadian bersama sayangku." ucap Revano sambil melirik foto Shilla sebelum menarik pelatuk pistol.
Dor....
...****************...
Deg...
Pangeran kedua Lois yang memerhatikan Aliesa dengan bingung.
" Apa kau baik-baik saja?" tanya Lois dengan datar.
Aliesa yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya sebelum menggelengkan kepalanya.
" Aku baik-baik saja, mungkin aku hanya gugup tadi hehehe..." ucap Aliesa yang berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
Pangeran kedua Lois menghela nafas lega mendengar Aliesa baik-baik saja.
" Syukurlah kalau begitu, jika kau sedang tidak enak badan lebih baik kita mengakhiri pesta ini." ucap Lois sambil meletakkan tangannya di puncak kepala Aliesa dan mengelus rambutnya dengan lembut.
Seketika hal itu membuat Aliesa merona malu dan berusaha menutupi nya. Tapi tak ayal ia menggangguk kepalanya.
Interaksi mereka terus di perhatikan oleh para tamu. Mereka semuanya merasa terkejut melihat sikap Pangeran kedua dan Seorang Lady yang dulunya di juluki Antagonis oleh orang ibu kota.
Saya tidak percaya bahwa Pangeran kedua bisa tersenyum seperti itu...
Dan aku juga tidak percaya bahwa Lady Aliesa bisa bersikap manis dengan pria lain. Setahuku bukannya dia terlalu fokus dengan cinta Pangeran Mahkota.
Mungkin mereka sekarang sedang bersandiwara hahahaha...
Aliesa yang diam-diam mendengarnya merasa jengkel dengan mulut pedas tidak bermutu milik para Lady.
" Jika saja aku bisa membalasnya...
Countine....
__ADS_1