
Aliesa terus mengikuti kemana Lois membawanya pergi. Sepanjang perjalanan ia penasaran apa yang ingin Lois tunjukan kepadanya.
Ingin sekali Aliesa bertanya tapi setelah ekspresi Lois ia mengurungkan niatnya. Sampai mereka berada di sebuah hutan yang berada di belakang kediaman Viscount Lincoln.
Melihat hutan itu membuat pikiran negatif bermunculan di otak Aliesa.
" Lois kau akan membawaku kemana? Mengapa kita berada di sini? Apa kau ingin membuang..." ucap Aliesa yang sejak tadi berbicara panjang lebar terhenti ketika Lois menaruh jari nya di bibirnya.
Membuat Aliesa seketika bungkam Lois yang melihatnya hanya tersenyum. Aliesa yang melihatnya dalam hati tidak bisa percaya.
" Apa tadi barusan dia tersenyum lebar kepadaku." batin Aliesa.
" Tenanglah aku tidak akan mungkin melakukan itu dan singkirkan pikiran kotor itu dari otakmu." ucap Lois sambil menyentil kening Aliesa sebelum melanjutkan perjalanannya.
Aliesa meringis ketika keningnya di sentil cukup kencang.
" Cih...suami yang tidak berperasaan." ucap Aliesa mencibir Lois, sebelum kemudian menyusul Lois yang sudah masuk ke hutan.
Aliesa melihat ke sekitar hutan yang banyak akar-akar yang merambat keluar membuatnya harus berjalan pelan-pelan dan pohon-pohon yang menjulang tinggi ke atas. Dia merasa lebih rileks menghirup udara segar yang jarang ia rasakan ketika dulunya tinggal di kota.
__ADS_1
Sampai Aliesa merasa ada sebuah cahaya terang yang tidak berada jauh darinya membuat mempercepat langkahnya. Lois yang melihatnya menggelengkan kepalanya dengan tingkah kekanakan Aliesa.
" Woah.....
...****************...
" Yang Mulia, Pangeran Mahkota Alarick sudah hampir sampai di istana. Apa anda ingin menyambutnya?" tanya Juan kepada Kaisar Wiliams yang baru saja menyelesaikan rapatnya dengan para bangsawan.
Kaisar Wiliams yang saat ini baru saja berada diruang kerjanya mengerutkan keningnya.
" Cepat sekali, dia sampai baiklah saya akan menyambutnya." ucap Kaisar Wiliams yang kembali berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
" Salam, Yang Mulia. Apa anda ingin menyambut Putera Mahkota?" tanya Ratu Rieta sambil membungkuk anggun di hadapan Kaisar Wiliams.
Tetapi sayangnya Kaisar Wiliams hanya mendatarkan wajahnya. Membuat Ratu Rieta yang sedari tadi diam mencengkram gaunnya dengan erat. Memang sejak sebulan lalu setelah kembalinya Kaisar Wiliams dari kediaman Viscount Lincoln beliau berusaha menghindari nya. Bahkan ketika makan malam Kaisar Wiliams lebih memilih menghabiskan makanannya di ruang kerjanya.
" Benar sekali Ratu." ucap yang bukan berasal dari Kaisar Wiliams melainkan Juan.
Ratu Rieta yang melihat keterdiaman Kaisar Wiliams hanya berusaha bersikap tenang. Jangan sampai ia terlepas kendali dan menghancurkan semua rencananya.
__ADS_1
...****************...
" Woah...ini indah sekali." ucap Aliesa yang langsung berlari menuju ke sebuah danau yang indah.
Lois yang melihatnya merasa senang membawa Aliesa datang kemari. Aliesa tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika melihat sebuah danau yang indah dan besar, air nya tampak jernih. Apalagi tidak jauh dari sana Aliesa bisa melihat taman bunga.
Membuat nya seperti berada di dunia dongeng cerita kesukaan semasa kecil. Kemudian Aliesa menyentuh air jernih tersebut dan mengambilnya dengan tangannya untuk membasuh mukanya.
" Segarnya." ucap Aliesa yang merasa sensasi segar di air tadi.
" Aku senang kau menyukainya." ucap Lois yang berjalan mendekat.
Aliesa yang mendengarnya langsung menorehkan kepalanya dan terkejut melihat wajah Lois yang tinggal beberapa senti.
Apalagi Aliesa bisa merasakan hembusan nafas dari Lois
sebelum....
Countine....
__ADS_1