
Selesai melaksanakan makan malam bersama Viscount dan Pangeran kedua. Saat ini Aliesa sedang menemani Puterinya di kamar untuk tidur.
Sedangkan Viscount dan Pangeran kedua sedang ada urusan penting bersama dengan Duke Christopher.
Entah dirinya tidak mengerti mengapa sampai sekarang Duke Christopher belum pergi dari sini.
" Mama, Apa Puteri Mahkota orang jahat?" tanya Flora tiba-tiba.
Tentu saja pertanyaan dari Flora sedikit membuat Aliesa tersentak terkejut.
" Mengapa Flora berpikir bahwa Puteri Mahkota orang jahat, bukannya Flora pernah mendengar kebaikan Puteri Mahkota membantu orang susah?" tanya Aliesa balik.
Dirinya masih di bendung penasaran dengan ucapan Flora.
" Flora sebelumnya pernah bertemu dengannya. Ketika itu Puteri Mahkota sedang berada di desa, dan saat aku mendekatinya untuk memberikannya bunga. Di sana Puteri Mahkota membuang bunga tersebut . Hal itu membuat Flora kecewa. Sejak itu Flora berasumsi bahwa Puteri Mahkota bukan orang yang baik." ucap Flora yang mengungkapkan rahasia nya dengan tampang polosnya.
Deg...
__ADS_1
Aliesa yang mendengarnya tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Mendengar rahasia Flora yang baru saja dibicarakannya.
" Apa jadi sebelumnya Flora pernah bertemu dengannya tapi bagaimana bisa." batin Aliesa bertanya-tanya.
Ketika Aliesa ingin menanyakan lebih lanjut lagi sayangnya Flora sudah memejamkan matanya. Hal itu membuat Aliesa segera mengurungkan niatnya.
Mungkin dia bisa membicarakan nya besok sebelum upacara pernikahan. Kemudian Aliesa menyelimuti tubuh Flora supaya merasa hangat dari udara dingin malam.
Sebelum meninggalkan kamar Aliesa menyempatkan diri untuk mengecup kening Flora.
" Selamat tidur sayang, maafkan Mama yang belum bisa jujur. Siapa diri Mama sebenarnya." ucap Aliesa yang setelah meninggalkan kamar.
Sedangkan di sisi lain Pangeran kedua sedang berdiskusi bersama Viscount Lincoln dan Duke Christopher. Mengenai rencana mereka kedepannya.
" Aku sama sekali tidak percaya bahwa dia yang telah membunuh isteriku." ucap Duke Christopher sambil mencengkram gelas yang berisi alkohol.
Duke Christopher merasa marah setelah mendengar cerita Pangeran kedua Lois mengenai dalang pembunuhan isterinya. Awalnya dirinya tidak mempercayai semudah itu sampai Pangeran kedua menunjukkan bukti-bukti nya.
__ADS_1
Dan kemudian setelah membacanya akhirnya Duke Christopher mulai mempercayai nya, dan sekarang dirinya sedang keadaan kacau dengan baju yang berantakan dan wajah nya yang biasa menampilkan ekspresi dingin tergantikan dengan raut wajah sedih penuh penyesalan.
Pangeran kedua Lois yang melihatnya hanya diam tapi di dalam hatinya dirinya ingin sekali membunuh orang itu dengan kejam. Setelah apa yang dilakukan nya kepada kedua orang berarti dalam hidupnya.
Viscount Lincoln menghela nafasnya merasakan aura sihir yang cukup kuat yang mengisi seluruh ruang kerjanya. Sebenarnya dirinya merasa ingin sekarang pergi ke tempat itu dan membunuhnya. Tetapi dirinya tidak boleh bertindak gegabah dia ingin melakukannya secara perlahan-lahan.
" Apa kita harus memberitahukan nya kepada Kaisar. Supaya dia tidak pergi atau kabur?" saran Viscount Lincoln yang tentu saja membuat kedua empu melototkan mata mereka dengan tajam.
" Aku tidak akan pernah memberitahu nya kepada pria tua itu. Bahkan tadi kami sempat berselisih paham meskipun secara tidak langsung beliau membela ku. Tetapi aku masih membencinya." ucap Lois sambil mengepalkan tangannya mengingat bagaimana Kaisar Wiliams yang berani mengangkat tangannya menampar Ratu Rieta.
Duke Christopher yang mendengarnya menggangguk kepalanya setuju sebelum memulai berbicara.
" Pangeran itu benar. kita tidak bisa membicarakannya kepada Kaisar sebelum mendapatkan bukti nya." ucap Duke Christopher sambil melipatkan kedua tangannya di dada sambil memasang raut wajah angkuhnya.
Viscount Lincoln menghela nafasnya sebelum dia menggangguk kepalanya pelan.
" Jadi sepertinya kita butuh rencana lagi, Tapi yang menjadi pertanyaan ku. Kapan....
__ADS_1
Countine...