
Lois merasa heran dengan sikap Aliesa yang seperti menghindarinya sepanjang hari ini. Seakan Aliesa sengaja menyibukkan dirinya ketika Lois ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Sampai Flora yang melihatnya juga terheran-heran dengan sikap Mama dan Papa nya hari ini.
" Mama, apa kau baik-baik saja?" tanya Flora yang saat ini berada di dapur bersama Aliesa.
Aliesa yang sedang membuat adonan kue terpaku sejenak.
" Tidak, Mama sangat baik-baik saja." ucap Aliesa yang berusaha tetap tersenyum.
" Benarkah terus mengapa Mama seperti menghindari Papa. Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Flora lagi.
Aliesa diam mendengar pertanyaan Flora yang seakan menjebaknya. Tidak mungkin bukan dia menjawab bahwa dirinya dan Lois tidak bertengkar. Melainkan dirinya malu mengingat kejadian di danau kemarin. Apalagi mereka sempat berciuman dibawah matahari terbenam.
__ADS_1
Memikirkannya membuat wajah Aliesa memanas. Seumur-umur dirinya tidak pernah mendapatkan perlakuan romantis dari pria. Awalnya dia tidak percaya bahwa Lois adalah seseorang yang sulit bersikap romantis atau kita sebut sundere. Tetapi Lois tidak malu-malu melakukan nya di depannya.
" Tidak....tidak kita tidak mungkin bertengkar sayang. Sekarang lebih baik Flora bantu Mama untuk mencetak adonannya. Kita akan membuat Cookies dan membagikannya kepada semua orang." ucap Aliesa yang berusaha mengalihkan perhatian.
Flora yang mudah teralihkan langsung menggangguk kepalanya setuju. Mengingat dirinya sangat menyukai makanan manis.
" Huh.... selamat." ucap Aliesa sambil bernafas lega.
...****************...
Membuat Pangeran Mahkota Alarick yang sedang berlatih pedang dibuat berdecak risih melihat sikap Puteri Mahkota Annika yang seperti anak ayam mengikuti induknya dari belakang.
Bahkan Asistennya Arthur menyadari sikap risih dari Putera Mahkota Alarick kepada Puteri Mahkota Annika. Sampai sekarang terkadang dirinya masih heran dengan perubahan sikap Pangeran Mahkota yang berubah terhadap semua orang termasuk kepada Puteri Mahkota yang sangat ia cintai.
__ADS_1
" Jika anda merasa tidak nyaman dengan keberadaan Puteri Mahkota, Apa saya bisa membantu anda untuk menyuruh beliau pergi?" tanya Arthur dengan sikap sopan nya.
" Tidak perlu biarkan saja, lagipula nanti dia capek sendiri. Tidak perlu membuang tenaga untuk mengusirnya. Lebih baik kita pergi untuk mengerjakan tugas lain saja." ucap Alarick dengan santai sebelum melangkahkan kakinya pergi dari lapangan latihan sambil melewati Puteri Mahkota Annika dengan tenang.
Puteri Mahkota Annika yang melihatnya tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya melihat keanehan Pangeran Mahkota Alarick kepadanya. Bahkan ia bisa melihat tatapan benci Pangeran Mahkota menembus tulang nya.
Arthur yang sedari tadi menonton hanya mengangkat bahu acuh sebelum menyusul Pangeran Mahkota Alarick yang sudah jauh dari pengelihatannya.
Puteri Mahkota Annika marah melihat untuk kedua kalinya Pangeran Mahkota Alarick mengacuhkannya lagi. Apa benar Pangeran Mahkota Alarick sudah bosan kepadanya karena sampai sekarang dirinya belum kunjung hamil atau ada wanita lain.
" Dua asumsi itu aku harus menyelidiki nya tidak akan aku biarkan Alarick berpaling dariku. Dia harus terus berada di sisiku supaya aku bisa menjadi seorang Ratu dan menguasai seluruh kekaisaran hahahaha...." ucap Annika sambil tertawa keras mengingat sekarang suasana lapangan latihan sepi. Membuatnya leluasa mengeluarkan sifat aslinya.
Tetapi sayangnya tanpa di sadari oleh Puteri Mahkota Annika ada seseorang yang mendengar semua perkataan dan memandangi nya dengan jijik.
__ADS_1
" Sudah aku duga istana ini busuk.....
Countine...