
"Aku sudah siap untuk mengambil semuanya, semua Warisan ku yang di tinggalkan oleh Ibunda." ucap Lois dengan serius.
Viscount yang mendengarnya sontak langsung tertawa terbahak-bahak. Membuat Pangeran kedua Lois yang melihatnya merasa jengkel dengan perilaku sang Kakek.
" Hahahaha.... akhirnya kamu menerimanya juga Lois, Terus mengapa kamu berubah pikiran sekarang bukannya sejak dulu memang kamu sama sekali tidak tertarik apa yang di tinggalkan oleh Ibumu?" tanya Viscount sambil memicingkan matanya menuntut jawaban dari Pangeran kedua Lois.
" Itu bukan urusan anda Kakek, Memang saya mengaku sama sekali tidak tertarik dengan gelar dan warisan yang di tinggalkan oleh Ibunda. Tapi sekarang saya punya seseorang yang harus di lindungi. Saya tidak ingin mereka mengambilnya lagi dariku seperti ibunda." ucap Lois penuh tekat dan matanya terpengaruh oleh dendam kepada seseorang yang sudah dengan teganya membunuh Ibunda nya.
Viscount seketika menegang ia ingat sekitar 15 tahun lalu yang dimana hari kematian Puteri tunggal kesayangannya. Dia begitu benci dengan semua orang yang berada di istana yang terlibat dengan kematian Puterinya. Sebenarnya dirinya agak menyayangkan bahwa Puterinya jatuh cinta dengan Kaisar yang saat itu sudah mempunyai isteri, dan mau menerima menjadi seorang Selir bisa.
Padahal Viscount sudah berusaha mencegah Puterinya untuk menikahi Kaisar itu. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan mengingat sifat Anaknya yang keras kepala itu. Sekarang dia sama sekali tidak begitu menyesali hal itu karena dengan kehadiran Lois cucunya yang membuat nya melunak pada awalnya. Sampai kejadian tragis itu terjadi dia tidak menginjakkan kakinya di istana lagi dan setiap ada pertemuan ia selalu mengutus asistennya untuk menghadap Kaisar, dan sepertinya beliau sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
__ADS_1
Viscount melihat cucunya yang sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia masih sangat mengingat bagaimana tangisan Lois kecil ketika melihat ibundanya dikuburkan. Ia tahu seberapa hancur hati anak itu sampai memutuskan untuk meninggalkan istana dan mengabdi dengan perang. Cucunya sudah seperti iblis yang di kenal di masyarakat sebagai Pangeran tidak berperasaan. Tapi ia tahu bahwa dalam hati kecil Cucunya menyimpan seribu kesedihan di dalamnya.
" Aku tidak akan menanyakan siapa orang yang sudah mengubah mu Lois, Tapi aku senang akhirnya kamu bisa mendapatkan seseorang yang membuatmu bahagia. Jagalah mereka jangan sampai mereka melukainya, dan masalah warisan akan segera aku urus sebentar lagi kamu akan mendapatkan posisi sebagai Viscount Lincoln." ucap Viscount kepada Lois.
Pangeran kedua Lois yang mendengarnya tersenyum tipis. Selain Ibundanya hanya kakeknya saja yang mengerti dengan perasaannya. Ia tahu bahwa saat ini tidak ingin memberitahu siapa orang yang akan di lindungi. Baginya Kakeknya orang yang bijak dalam mengambil keputusan.
" Saat waktunya tiba aku akan memperkenalkan nya kepada Kakek, Tapi sepertinya aku harus menikahi terlebih dahulu." ucap Lois sambil tersenyum dan melupakan sifat formalnya.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Puteri Madeleine sedang menghadap di ruangan Kaisar Wiliams.
__ADS_1
" Salam Ayahanda." ucap Madeleine sambil membungkuk anggun.
Kaisar Wiliams yang melihat keberadaan Puter tunggalnya langsung berdiri dari kursinya dan menyambut nya dengan hangat.
" Akhirnya kamu kembali Madeleine bagaimana kehidupan di Akademi, Apa semuanya menyenangkan?" tanya Kaisar Wiliams dengan lembut.
Kaisar Wiliams hanya bersikap lembut dengan kedua wanita saja yaitu Mendiang Selir dan Puteri Tunggalnya.
Puteri Madeleine tersenyum mendengar pertanyaan dari Kaisar Wiliams.
" Tentu saja semuanya menyenangkan Ayahanda. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu... Apa benar sekarang....
__ADS_1
Countine....