
Lois POV...
Setelah aku bersiap berpakaian yang tidak menarik pihak luar mengetahui identitas ku. Aku mengubah warna rambut dan mata menjadi cokelat.
Mengingat warna rambut dan mata yang sangat mencolok dengan keturunan kekaisaran terutama mata emas yang aku miliki. Meskipun aku membenci hal itu, Tapi aku sama sekali tidak membenci warna rambut putih yang di turunkan ibuku yang merupakan seorang Puteri Count.
Aku memacu kuda dengan kecepatan sedang menuju ibu kota. Aku bisa melihat bagaimana banyaknya penerangan dan suara ramai dari kota mengingat hari ini merupakan festival cahaya.
Sebenarnya aku sama sekali tidak menyukai tempat ramai. Aku terkadang menghabiskan waktuku cuma di ruang kerja dan berlatih.
Aku tidak seperti Pangeran Mahkota yang merupakan Kakak tiriku yang pandai bersosialisasi dan mendapatkan hati para bangsawan untuk memudahkannya mendapatkan tahta.
Sampai di Festival aku menghentikan kudaku di salah satu rumah warga dan untuk meminta tolong untuk menjaganya selama aku menikmati festival.
Untung saja pemilik rumah itu memiliki sifat yang baik. Bahkan mereka menawarkan diriku untuk mengunjungi rumah mereka. Tentu saja hal itu langsung aku tolak mengingat bagaimana jika mereka tahu bahwa diriku merupakan seorang Pangeran kedua yang dikenal kejam dan haus darah di Medan perang.
Aku berjalan-jalan menikmati festival yang sepertinya sangat daripada tahun lalu. Ia juga sama sekali tidak terlalu menikmatinya karena tujuannya yaitu untuk mencari seseorang yang duga merupakan salah satu pelaku penculikan anak-anak kecil yang meresahkan ibukota.
__ADS_1
Aku melihat sekeliling dan melihat sebuah keluarga yang tampak bahagia dengan sepasang suami-istri dan anak mereka saling bercanda bersama. Aku hanya bisa tersenyum sendu sampai tidak menyadari bahwa aku menabrak seseorang.
Sampai orang itu menjatuhkan makanannya tapi bukan itu saja yang membuatku terkejut karena melihat wanita itu.
Wanita yang aku temui beberapa Minggu yang lalu di hutan. Seorang wanita yang dengan beraninya mendekatinya dan menyembuhkan lukanya. Seorang wanita yang pernah menghabiskan satu malam dengannya.
Wanita itu adalah Aliesa Alexandra seorang anak Duke Christopher.
Lois end POV....
Aliesa sama sekali tidak mengenali orang di tabraknya karena saat ini dia menggunakan penyamarannya.
Sedangkan orang yang menjadi sasaran kekesalan Aliesa hanya memasang wajah datarnya sampai sesekali melirik Flora yang menatapnya dengan bingung.
Lois yang merasa ada seseorang memandang nya langsung mengalihkan pandangannya tertuju ke seorang gadis kecil yang memiliki rambut dan mata cokelat seperti ibunya.
" Apa anda sudah selesai Nona memarahi saya, lihatlah anak anda memandang anda dengan bingung." ucap Lois sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Mendengar ucapan Lois membuat Aliesa mengalihkan perhatian nya dan ia melihat Flora menatapnya dengan bingung. Aliesa yang khawatir bahwa Flora kecewa melihat makanan nya terjatuh langsung berjongkok.
" Maafkan Mama sayang karena telah menjatuhkan makanan mu, Apa Flora mau membelinya lagi?" ucap Aliesa yang meminta maaf sekaligus menawarkan Flora untuk membeli makanan sate seperti tadi.
" Flora mau tetapi Tuan itu yang harus membelikannya, karena dialah makanan nya jatuh. Bukannya kata Mama setiap kita berbuat kesalahan kita harus bertanggung jawab." ucap Flora dengan polosnya.
Membuat Lois yang mendengarnya sedikit terkejut tapi tidak lama kemudian ia kembali memasang senyuman yang sudah lama tidak pernah ia tampilkan setelah kematian Ibundanya.
Kemudian Lois berjongkok menyamakan tubuhnya dengan Flora.
" Baiklah Paman akan membelikannya untuk Flora, Tapi Flora harus menemani paman berkeliling festival bersama, apa mau." ucap Lois sambil mengelus rambut Flora.
Aliesa yang mendengarnya memicingkan matanya curiga dengan suara Lois yang sepertinya ia pernah dengar.
" Tapi permasalahannya aku pernah dengarnya dimana ya." batin Aliesa yang sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang berusaha ia hindari.
Countine...
__ADS_1