Become A Mother

Become A Mother
Budak


__ADS_3

"Aku tugaskan kau untuk mengawasinya karena aku sudah melihatnya berada di ibu kota hari ini." ucap Duke Christopher dengan tatapan datar.


Asistennya yang bernama Hans menggangguk kepalanya.


" Baiklah, Yang Mulia Duke saya akan menyuruh seseorang untuk mengawasi Nona muda, dan saya mendapatkan sebuah surat untuk anda dari Pangeran kedua." ucap Hans yang memberitahukan sebuah kiriman surat dari Pangeran kedua.


Duke Christopher menyerngitkan dahinya mendengar hal itu ia heran setahunya hubungannya dengan Pangeran kedua tidak begitu dekat atau seorang musuh. Selama ini Duke Christopher cukup netral tidak memilih diantara Pangeran Mahkota dan Pangeran kedua. Meskipun Puteri angkatnya memaksanya untuk mendukung Pangeran Mahkota tapi tidak di hiraukan.


" Baiklah akan saya baca suratnya." ucap Duke Christopher sebelum berjalan berlalu menuju ruang kerjanya.


Ketika kakinya melangkah menuju ruang kerjanya ia kembali membalikan badannya saat melewati sebuah ruangan yang sudah di kunci dengan sihir. Tidak ada satupun orang yang bisa membukanya selain dirinya bahkan untuk anak-anaknya sekalipun. Dengan meletakkan tangannya di daun pintu tidak lama kemudian pintunya terbuka menampakkan sebuah ruangan gelap. Duke Christopher menepuk kedua tangannya seketika ruangan itu terbuka ia memandang seisi ruangan dengan tatapan sendunya. Seolah mengingatkan nya dengan kenangan yang indah di masa lalu.


" Aku rindu dengan kehangatan keluarga kita sayang." ucap Duke Christopher sambil melirik matanya ke sebuah lukisan yang terpajang di dinding.


...****************...

__ADS_1


Lenguhan suara gadis yang mulai membuka kedua matanya.


" Apa kau sudah bangun?" tanya Aliesa yang berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah nampan yang berisikan semangkuk bubur dan air putih.


Gadis itu yang melihat keberadaan Aliesa langsung menatapnya dengan tajam sambil tangannya berusaha mencari sesuatu untuk melindungi dirinya. Aliesa yang melihatnya langsung menghampirinya sambil meletakkan nampan itu di atas meja setelah itu ia memegang tangan Gadis itu yang tampaknya sangat dingin.


Gadis itu langsung memberontak ketika kedua tangannya di pegang oleh Aliesa.


" Jangan memberontak aku tidak akan melukai mu. Tenanglah aku cuma menyelamatkan mu tadi." ucap Aliesa dengan suara tegas dan sorotan mata lembut.


" Jadi sebenarnya siapa kau? Mengapa kau ingin menolong ku?" tanya Gadis itu dengan suara pelan.


Aliesa melihatnya hanya tersenyum seolah ia sudah memperkirakan bahwa Gadis itu memilih sebuah trauma.


" Mungkin karena sifat kemanusiaan ku yang tidak tega meninggalkan seorang gadis kecil tergeletak di jalan tanpa ada seorangpun yang peduli untuk menolongnya." ucap Aliesa.

__ADS_1


Sebenarnya Aliesa sedikit geram dengan sikap para warga kota yang sama sekali tidak mau membantu gadis itu ke rumah sakit. Padahal di ibu kota sudah ada sebuah rumah sakit gratis yang di khususkan untuk rakyat miskin.


" Kalau begitu terima kasih anda sudah menolong budak ini." ucap gadis itu yang mengucapkan terima kasih kepada Aliesa.


Aliesa yang mendengarnya sedikit menyerngitkan dahinya.


" Memangnya bagaimana bisa kamu menjadi seorang budak. Bukannya budak di ibu kota sudah di hapuskan oleh Kaisar?" tanya Aliesa sambil mengelus rambut Gadis itu dengan lembut.


Setelah itu Gadis itu menceritakan bagaimana dirinya di jual oleh kedua orang tuanya, dan berbagai penyiksaan yang ia dapatkan selama bekerja sebagai budak. Aliesa yang mendengarnya sampai terenyuh bagaimana bisa ada orang tua yang dengan teganya menjual Puterinya hanya demi harta.


" Jadi siapa bangsawan yang menjual budak?" tanya Aliesa yang membuat gadis itu gugup seketika.


" Maaf....


Countine...

__ADS_1


__ADS_2