
Tiba-tiba saja pintu kamar Pangeran Mahkota Alarick terbuka dan masuklah Puteri Mahkota Annika dengan wajah malu-malu.
" Yang Mulia." ucap Annika dengan lembut.
Pangeran Mahkota Alarick yang mendengarnya langsung membalikkan badannya dan ekspresi nya seketika menjadi datar ketika mengetahui siapa yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.
" Ada sesuatu yang penting Puteri Mahkota." ucap Alarick dengan datar tanpa mempedulikan wajah lembut Puteri Mahkota Annika.
Puteri Mahkota Annika yang terkejut melihat ekspresi dingin dan datar ditampilkan Pangeran Mahkota Alarick kepadanya.
" Apa saya membuat anda marah, Yang Mulia. Saya merasa sedih ketika anda mengacuhkan saya tadi?" tanya Annika dengan wajah sendu.
Pangeran Mahkota Alarick memutar bola matanya malas melihat ekspresi wajah Puteri Mahkota Annika yang sendu itu.
" Dasar cengeng, padahal ketika aku menjadi suami Shilla dia tidak pernah menampakkan kesedihan nya. Ketika aku mengacuhkannya. Bahkan aku sama sekali tidak peduli kepadanya saat itu." batin Alarick dengan wajah penyesalan nya.
__ADS_1
Sepertinya Puteri Mahkota Annika salah paham melihat ekspresi penyesalan dari Pangeran Mahkota Alarick. Membuat ia merasa percaya diri kembali dikarenakan Pangeran Mahkota Alarick mungkin menyesal mengacuhkannya tadi. Pastinya dia akan meminta maaf kepadanya dan memberikannya gaun yang mewah.
Memikirkannya membuat Puteri Mahkota Annika tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.
Membuat Pangeran Mahkota Alarick yang melihatnya bergidik ngeri. Ia seakan melihat seseorang yang gila dibawah kolong jembatan.
Tetapi segera Pangeran Mahkota Alarick mendatarkan ekspresi nya kembali.
" Jika tidak ada di sampaikan oleh Puteri Mahkota silahkan pergi dari kamar saya. Saya butuh istirahat." ucap Alarick mengusir Puteri Mahkota Annika dari kamarnya.
" Apa maksudmu Alarick aku ini isterimu yang mendampingi mu selama 5 tahun terakhir. Bagaimana mungkin kau berani mengusir ku seperti itu. Apa salahku kepada mu?" ucap Annika dengan meninttikan air matanya.
Pangeran Mahkota Alarick sama sekali tidak merasa iba telah membuat Puteri Mahkota Annika menangis. Menurutnya isterinya sekarang mirip sekali dengan para wanita yang di zamannya suka menggoda nya dulu.
Sekarang dia sudah mengeraskan hatinya untuk tidak membuka nya selain Shilla.
__ADS_1
" Tidak ada, sekarang kau pergilah besok kita akan ada acara pesta dansa." ucap Alarick yang membalikan badannya tidak mempedulikan Puteri Mahkota Annika lagi.
Puteri Mahkota Annika hanya diam mematung melihat sikap perubahan dari Pangeran Mahkota Alarick.
" Baiklah jika itu keinginan anda, Yang Mulia. Kalau begitu saya permisi selamat malam." ucap Puteri Mahkota Annika yang keluar dan menutup pintunya.
Pangeran Mahkota Alarick yang melihat bahwa Puteri Mahkota Annika sudah pergi menghela nafas lega. Setidaknya dia bisa beristirahat malam ini sebelum ada sesuatu yang terjadi besok.
Terutama permasalahannya dengan Pangeran kedua yang saat ini sedang berada di kediaman Viscount Lincoln. Seorang bangsawan yang mengabdikan dirinya di dalam medan perang. Kaisar sangat menghargainya apalagi beliau adalah mantan mertua nya.
Sayangnya karena kejadian kematian Selir Aurora akibat dibunuh dikediamannya membuat nya semakin buruk. Dimulai hubungan Kaisar dan Viscount hancur, Sampai Pangeran kedua Lois yang tidak mempedulikan nya dan memutuskan menghabiskan waktunya di Medan perang. Ketika masih muda.
" Setidaknya dia tidak seperti Pangeran Mahkota yang pengecut itu. dan bahkan lebih mempercayai seonggok sampah daripada berlian." ucap Alarick.
Countine...
__ADS_1