
" Mama Flora sudah kenyang." ucap Flora sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika melihat Aliesa ingin menyuapinya lagi dengan bubur.
Aliesa menghela nafasnya menggangguk karena dia mengetahui bahwa anak kecil yang sedang sakit susah makan. Lagipula Flora sudah makan sekira lima sendok.
" Baiklah, kalau begitu Flora harus meminum obatnya." ucap Aliesa sambil menyodorkan sebuah mangkuk yang merupakan obat yang di racik dari tanaman herbal jadi terlihat seperti sebuah ramuan.
Flora yang melihat nya juga menjauhkan wajahnya sambil menutup hidungnya.
" Flora tidak mau minum, obat itu seperti sebuah kotoran." ucap Flora melihat warna obat itu yang berwarna hijau tua.
" Tetapi Flora harus meminumnya supaya cepat sembuh dan bisa makan kue buatan Mommy lagi." ucap Aliesa yang membujuk Flora dengan embel-embel kue.
Mata Flora sedikit berbinar mendengar kata kue sebelum akhirnya wajahnya menggangguk setuju. Aliesa yang melihatnya tersenyum senang sambil menyodorkan mangkuk itu kepada Flora.
Sebenarnya Flora merasa jijik melihat obat itu tapi karena dia bisa makan kue nantinya. Ia terpaksa meminumnya demi kue Flora harus berkorban. Dengan menutup hidungnya menggunakan jari Flora perlahan meminum obatnya. Rasa pahit menyentuh tenggorokan nya membuatnya langsung batuk.
" Uhuuk...uhuuk..."
__ADS_1
Aliesa yang melihat Flora batuk langsung menyodorkan air minum yang langsung diminum oleh Flora.
" Hah...leganya akhirnya obat itu menghilang juga dan Flora berharap tidak akan meminumnya lagi." ucap Flora sambil menggelengkan kepalanya.
Aliesa tertawa pelan mendengar ucapan Flora yang menurutnya lucu.
Ceklek...
Lois yang baru saja masuk ke dalam kamar Flora di sungguhkan kedua malaikat nya sedang tertawa membuat hatinya merasa senang.
Aliesa yang menyadari kedatangan seseorang langsung membalikkan badannya sambil memberikan senyumannya.
Lois memberikan senyumannya sambil berjalan mendekati Aliesa dan Flora.
" Tenang saja aku sudah mengurusnya dengan benar dan Dokter tersebut sudah aku tutup mulut nya untuk tidak memberitahu menara sihir jika tidak ingin kehilangan seseorang yang dia sayangi." ucap Lois sambil tersenyum miring.
...****************...
__ADS_1
" Tolong, lepaskan aku. Aku ini seorang Dokter dan aku akan melaporkan nya kepada pemimpin sihir." ucap Dokter sambil berteriak dan menggoyangkan pintu jeruji besi.
Sayangnya tanggapannya di acuhkan oleh penjaga. Sampai tidak lama kemudian seseorang datang.
" Anda berani sekali berurusan dengan keluarga Viscount dan Duke." ucap nya sambil tersenyum.
Dokter tersebut yang mendengarnya langsung mengadahkan kepalanya badannya seketika gemetar melihat seseorang yang dijuluki ksatria bermata petir.
" Kau Viscount Lincoln." ucap nya sambil matanya bergetar melihat pria paruh baya yang memandangnya dengan geli.
" Anda tidak perlu terkejut dengan kedatangan ku Dokter Amos. Saya cuma datang dengan baik-baik dan melakukan kesepakatan." ucap Viscount Lincoln yang menyihir sebuah bangku untuk dirinya duduk.
Dokter tersebut yang mendengarnya langsung berdiri dan memandang sengit Viscount Lincoln.
" Apa itu saya harap setelah ini anda bisa mengeluarkan saya dari sini. Supaya saya bisa cepat-cepat untuk memberitahunya kepada Pemimpin sihir dengan kedatangan seorang Saintess." ucap Dokter tersebut sambil tersenyum senang karena dirinya akan banyak mendapatkan emas dari pemimpin sihir.
Viscount Lincoln yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
" hahahaha.... sayangnya harapan itu tidak akan terjadi Amos. Anda tidak akan mengingat apa yang terjadi di sini." ucap Viscount Lincoln sambil mengeluarkan sebuah cahaya hijau dari tangannya dan melemparkannya kepada Amos.
Countine...