
Hahaha....anda ingin sekali membuat saya hancur sehingga dengan beraninya menawarkan sebuah kerja sama. Tetapi sayangnya jawaban ku adalah tergantung apa keuntungan yang akan saya dapatkan dari kerja sama ini." ucap Lois sambil melipat tangannya di dadanya dengan tatapan mata angkuhnya.
Pangeran Mahkota Alarick yang bukaannya merasa tersinggung malah ia tersenyum miring mendengar ucapan Lois.
" Aku akan memberikan tahta Kaisar kepadamu nanti dan kau bisa menangkap orang yang membunuh Selir Aurora." ucap Alarick dengan santainya sebelum tiba-tiba tubuhnya ke dorong ke dinding.
Bruk..
Sampai membentuk sebuah lubang di dindingnya Lois langsung bergerak cepat dan mencengkram baju Pangeran Mahkota Alarick dengan kuat. Sorot matanya penuh dengan dendam.
Pangeran Mahkota Alarick yang melihatnya tersenyum sambil meringis kesakitan karena bibirnya sedikit mengeluarkan darah.
" Wah...anda sangat kuat Lois. Ternyata gelar tersebut bukan sebuah omong kosong." ucap Alarick yang berusaha masih bersikap tenang meskipun saat ini nyawanya sedang dalam bahaya.
" Jangan berani-berani nya kau menyebut nama ibundaku. Kau dan ibumu adalah orang yang busuk karena berani mengambil nyawa orang yang tidak bersalah. Seumur hidupmu aku tidak akan pernah bekerja sama denganmu." ucap Lois yang setelah dengan kasar melepaskan cengkraman sampai membuat Putera Mahkota Alarick jatuh.
__ADS_1
Pangeran Mahkota Alarick langsung batuk karena jujur saja cengkraman dari Lois membuatnya sedikit susah bernafas. Setelah merasa baikan Pangeran Mahkota Alarick berdiri dan memandang datar Lois.
" Itu semuanya terserah padamu adikku, Tapi aku sudah berbaik hati untuk memberikan bantuan meskipun sekarang kau menolaknya. Aku akan berusaha untuk berhenti menjadi boneka bagi mereka." ucap Alarick sambil mengepalkan tangannya mengingat bahwa selama ini dia hanya dijadikan boneka politik oleh Ratu Rieta.
Lois yang mendengarnya hanya mengacuhkannya dan kemudian berjalan keluar dari ruangan Pangeran Mahkota Alarick tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Selama perjalanan di lorong Lois memikirkan perkataan Pangeran Mahkota Alarick yang terlihat bersungguh-sungguh. Tetapi dirinya tidak ingin di tipu oleh seseorang yang dianggap musuhnya.
Ketika Lois ingin berjalan menuju ruang tahta Kaisar Wiliams tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Ratu Rieta yang berjalan di sisi berlawanan.
Tetapi Lois tidak bisa menunjukkan raut wajah tidak sukanya secara langsung dia membungkuk di hadapan Ratu Rieta dengan malas.
" Salam Ratu." ucap singkat Lois yang menampilkan ekspresi datar.
Ratu Rieta yang mendengarnya tersenyum dibalik kipas di tangannya.
__ADS_1
" Sudah lama tidak bertemu Pangeran terakhir kita bertemu adalah pernikahan anda dengan Lady Aliesa." ucap Ratu Rieta sambil tersenyum manis.
Sayangnya Lois tidak mudah bisa di tipu sedemikan rupa oleh Ratu Rieta.
" Tentu saja bukannya ini keinginan Ratu untuk saya meninggalkan istana. Mengingat posisi saya semakin kuat dengan kehadiran seorang anak. Bukannya itu yang berusaha untuk anda singkirkan Ratu?" tanya Lois sambil tersenyum miring melihat sekilas Ratu Rieta yang pucat.
Tentu saja ucapan Lois membuat Ratu Rieta merasa meradang. Apalagi semua rencananya sudah mulai berantakan dimulai dari Lois memiliki seorang anak sampai dimana sikap anaknya sendiri berubah menjadi mengacuhkannya.
" Terserah menurut anda, Yang Mulia. Tetapi tetap saja anda tidak akan bisa mendapatkan apa yang ingin kau dapatkan selama aku masih hidup. Apalagi setelah aku melenyapkannya." ucap Ratu Rieta yang menampilkan ekspresi licik.
Lois yang mendengarnya mengepalkan tangannya dengan kuat.
" Akhirnya.....
Countine...
__ADS_1