
" Tidak mungkin itu pedang milik Nicholas, SIALAN KAU." ucap Annika sambil berteriak marah.
Kaisar Alarick yang melihat ada sebuah pedang di tangannya cukup dibuat terkejut. Tapi ia bisa menyembunyikan dengan baik apalagi ia mendengar ucapan Annika barusan.
" Mengapa dia sangat apa ada sesuatu pada pedang di tangannya. Aku akan mencobanya." pikir Kaisar Alarick.
Pedang memiliki desain lurus dengan motif naga dipegangnya. Membuat pedang ini unik adalah pedang tersebut berwarna hijau dan ada sihir yang kuat.
" Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan tapi sekarang waktunya kau untuk mati." ucap Kaisar Alarick langsung berjalan cepat menuju Annika.
Annika yang masih marah berusaha mengendalikan emosinya dan mengeluarkan sebuah pedang hitam berjalan mendekati Kaisar Alarick.
" MATI KAU YHAAA...." ucap Annika yang mencoba menghunus dada Kaisar Alarick dengan pedang.
" TIDAK AKAN AKU BIARKAN." ucap Alarick yang juga menggunakan senjata nya.
Mereka saling menghunus pedang suasana sedikit senyap. Sampai tiba-tiba saja Annika terjatuh.
Kaisar Alarick juga terjatuh sambil memegang tangan nya yang berdarah karena terkena goresan pedang Annika.
__ADS_1
" Kaisar."
Mendengar suara seseorang memanggilnya membuat Kaisar Alarick membalikan badannya dan melihat Lois yang sedang di berjalan dengan Aliesa. Dirinya bernafas lega setidaknya keadaan adiknya tidak parah. Pandangannya berpindah ke Aliesa yang memberikan senyum lembut sebuah senyuman yang mirip dengan Shilla. Sekarang Kaisar Alarick baru menyadarinya dan tidak ada keraguan bahwa Aliesa adalah Shilla.
" ARGGGH...."
Suara teriakan yang berasal dari belakang membuat Kaisar Alarick membalikan badannya lagi melihat di sana Annika yang sedang terbaring sambil berteriak kesakitan.
Dengan susah payah Kaisar Alarick berdiri dan berjalan pincang mendekati Annika. Entah kenapa ada sebagian hatinya merasa tidak tega melihat wanita yang pernah menjadi isterinya kesakitan mungkin ini adalah perasaan sisa tulus pemilik tubuh kepada wanita yang di cintai nya. Meskipun wanita itu hanya memanfaatkan nya.
Lois yang melihat Kaisar Alarick berjalan mendekati Annika ingin mencegahnya sebelum tangannya di genggam Aliesa dan melihatnya menggelengkan kepalanya.
Lois yang mendengarnya langsung mengurungkan niatnya dan memandang ke depan. Begitu juga Aliesa yang hanya memperhatikan mereka dari jauh.
" Aku harap kalian bisa menyelesaikan masalah hingga selesai. Aku mempercayakan semuanya kepadamu Kaisar atau Revano." batin Aliesa sambil tersenyum.
Melihat sikap Kaisar Alarick membuat Aliesa akhirnya tersadar jika pria yang selama ini menjadi kakak iparnya merupakan suami di masa lalunya.
" Sepertinya aku butuh bicara kepadanya nanti." gumam Aliesa pelan sehingga tidak ada satupun mendengarnya.
__ADS_1
Annika yang berusaha menahan rasa sakit nya memandang Kaisar Alarick yang berdiri menjulang di atas nya air matanya mulai keluar.
" Al..Al..." ucap Annika yang memanggil Kaisar Alarick sambil merentangkan kedua tangannya.
Kaisar Alarick yang melihatnya hanya diam tapi tangannya menggenggam tangan Annika.
" Apa kau baik-baik saja?" tanya Alarick dengan datar.
" Maaf...kan ...aku....maaf kan...aku Al... keserakahan...hah...hah..." ucap Annika yang berusaha berbicara sekaligus bernafas.
Annika merasakan sakit di dadanya tapi ia berusaha menahannya. Ia ingin berbicara dengan Kaisar Alarick untuk terakhir kalinya.
" Keserakahan membuatku menjadi buta....aku hanya memanfaatkan mu untuk mendapatkan posisi sebagai Ratu uhuuk....tapi aku sangat mencintaimu dengan tulus...sekali lagi maafkan ak...u..."ucap Annika sebelum memejamkan mata nya untuk terakhir kalinya.
Kaisar Alarick yang melihat Annika menghembuskan nafas terakhirnya melepaskan tangan Annika dan meletakan di atas dada.
" Aku memaafkan mu Annika beristirahatlah dengan tenang bersama jiwa Alarick...
Countine...
__ADS_1