
Aku tidak tahu bisa memaafkan mu atau tidak tapi aku boleh bertanya?" tanya Shilla sambil memandang Aliesa yang asli.
Aliesa terdiam sejenak sebelum mengganggukan kepalanya.
" Mengapa kau bisa mencintai putera mahkota? Mengapa kau sangat di benci keluarga mu? dan kau tega memperlakukan Flora seperti itu padahal dia adalah darah dagingmu sendiri? Aku tidak habis dengan perbuatan mu itu." ucap Shilla sambil menyerngitkan dahinya.
" Hah...aku tidak yakin cintaku kepada putera mahkota atau cuma Obsesi, tapi aku mengingat saat diri ku masih kecil. Aku pernah menangis karena kematian ibuku dan Ayah sangat membenciku. Sampai ada seseorang yang menghampiri ku dan menghiburku disitulah awal aku mencintainya. Tapi setelah aku pikir-pikir kembali anak laki-laki itu yang ku anggap Putera Mahkota ternyata salah." jeda Aliesa sambil menampilkan senyum sendunya.
Membuat Shilla yang melihatnya merasa iba walaupun bagaimanapun di saat kita kecil tidak ada seorangpun yang mau di benci keluarga nya sendiri. Apalagi di tuduh sebagai pembunuh.
__ADS_1
" Kedua masalah kematian ibuku, ketika usiaku tujuh tahun ada seseorang yang mendatangi kamarku ia melayangkan sebuah belati kepadaku. Mungkin karena saat itu usiaku masih muda sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan nya. Aku hanya diam sampai tiba-tiba saja di depanku ibuku sudah berdiri dengan perut yang sudah berdarah membasahi gaunnya hiks....kemudian pembunuh itu menyerahkan belati tersebut di tangan ku hiks... Sampai dimana hiks..." ucap Aliesa yang tidak bisa melanjutkan nya karena menangis mengingat kenangan buruknya.
Shilla yang mendengarnya langsung memeluk Aliesa mengelus punggung nya berusaha menenangkannya. Shilla memejamkan matanya ia mendapatkan ingatan dimana Aliesa kecil yang hanya bisa berdiam ketika semua orang menuduhnya sebagai pembunuh. Kebencian nya dengan Aliesa sedikit berkurang setelah mendengar kisah sedih ini. Tapi tindakannya terhadap Flora bukan sesuatu yang baik untuk dilakukannya.
" Aku sama sekali tidak mengerti semua penderitaan mu itu Aliesa. Tapi tindakan keluarga mu juga salah bagaimana bisa mereka menuduh seorang gadis kecil berusia tujuh tahun sebagai pembunuh. Juga tindakan mu terhadap Flora juga salah, aku sampai menangis. Mengingat bagaimana Flora yang harus bekerja keras mengumpulkan kayu bakar di hutan untuk di jual." ucap Shilla yang berusaha tetap mengendalikan emosinya mengingat setiap tangisan Flora ketika ia memberikannya sebuah perhatian yang selama ini tidak pernah di dapatkan nya.
Aliesa hanya bisa menundukkan kepalanya merenungkan kesalahannya terhadap Puteri kandungnya.
Shilla yang sedari tadi mendengarnya hanya terdiam sampai tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang membuat pengelihatannya berkurang. Ia ingin menyentuh tubuh Aliesa tapi sayangnya.
__ADS_1
...****************...
" Hah....hah...."
Aliesa yang membuka matanya dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia bangun melihat matahari yang sudah terbit.
Aliesa mengingat mimpinya semalam pesan pemilik tubuh.
" Apa aku bisa melakukannya." gumam Aliesa dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Countine...