
Kereta kuda terus berjalan melintasi jalan ibu kota. Sampai dimana terdapat sebuah bangunan seperti kastil yang letaknya jauh dari pusat ibu kota.
Aliesa yang melihatnya menyerngitkan dahinya bingung. Bukannya seharusnya dirinya di bawa ke istana.
" Yang Mulia, bukannya kita seharusnya ke istana?" tanya Aliesa sambil memiringkan kepalanya.
Membuat Pangeran kedua Lois yang sedang bermain dengan Flora mengalihkan pandangannya saat Aliesa bertanya kepadanya.
" Tidak, untuk saat ini kita akan tinggal di kediaman Viscount, Apa kau kecewa?" tanya Lois sambil mengangkat sebelah alisnya.
Aliesa langsung mengalihkan pandangannya tidak ingin memandang Pangeran kedua Lois.
" Tidak sama sekali, malahan aku senang tidak datang ke tempat terkutuk itu dan bertemu dengan wanita ular." ucap Aliesa yang bergumam pelan.
Tetapi Pangeran kedua Lois yang memiliki pendengaran tajam mendengar gumaman Aliesa tersenyum tipis. Karena ia tahu apa yang dimaksud wanita ular oleh Aliesa.
" Itu nama yang pantas untuk mereka." ucap Lois sambil bersmirk.
Aliesa yang sempat melirik dibuat tercengang karena mendengar jawaban sama sekali tidak diduga nya.
__ADS_1
" Bukannya Pangeran kedua seharusnya tidak berkata itu kepada mereka. Apa sebenarnya yang dia rencanakan." batin Aliesa sambil sekali-sekali melirik lagi Pangeran kedua Lois yang sedang kembali bermain dengan Flora.
Melihat senyuman Flora yang terlihat cerah membuat Aliesa yang melihatnya merasa terharu. Mengingat Flora tidak pernah bahagia selama hidupnya karena perilaku asli dari pemilik tubuh yang sama sekali tidak mencerminkan seorang ibu. Meskipun pemilik tubuh sudah mengucapkan maafnya tapi tidak apik Aliesa terkadang masih dengannya.
" Wah...ini seperti istana." ucap Flora yang kagum dengan bangunan yang berada tidak jauh darinya.
Pangeran kedua Lois yang melihatnya tersenyum senang sambil tangannya mengelus rambutnya.
" Ini menjadi tempat tinggal kita sekarang, Flora." ucap Lois.
Flora sontak membalikan badannya sambil matanya berbinar-binar menatap Pangeran kedua Lois.
Aliesa hanya menggangguk kepalanya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Ketika kereta kuda berhenti Pangeran kedua Lois turun terlebih dahulu untuk membantu Aliesa dan Flora.
Aliesa bisa melihat seorang pria paruh baya yang datang menyambut nya.
" Senang bisa melihat anda kembali setelah 6 tahun Lady Aliesa." ucap Viscount yang ternyata datang menyambut kedatangan calon isteri dari cucu nya.
__ADS_1
" Senang juga bertemu dengan anda Tuan Viscount." ucap Aliesa yang menyadari bahwa pria paruh baya itu merupakan Viscount Lincoln kakek dari pangeran kedua.
Viscount Lincoln yang mendengarnya tersenyum sebelum pandangannya tertuju kepada seseorang yang berdiri bersembunyi di belakang Cucunya.
" Aku sama sekali tidak menduga bahwa sekarang Cucu ku sudah menjadi seorang Ayah." ucap Viscount Lincoln sambil melirik sekilas Pangeran kedua Lois.
Pangeran kedua Lois yang mengerti bahwa Kakeknya sedang bercanda kepadanya hanya memutar bola matanya malas.
Entah sejak kapan setelah hubungan nya dengan Kakeknya yang sempat merenggang mulai membaik. Jadinya Pangeran kedua Lois tidak terlalu canggung dengan nya tidak seperti sikap Viscount kepada Kaisar Wiliams yang masih dingin.
" Hallo Nona kecil siapa namamu?" tanya Viscount Lincoln kepada gadis kecil yang memeluk kaki Pangeran kedua Lois.
Flora yang mendengar sapaan ramah dari Viscount Lincoln dengan perlahan menampilkan wajahnya yang sebelumnya tadi bersembunyi karena merasa tidak nyaman menjadi perhatian orang-orang.
" Flora Alexandra." ucap Flora sambil tersenyum manis.
Membuat Viscount Lincoln yang melihatnya terpaku.
" Aurora....
__ADS_1
Countine....