
Pangeran kedua Lois yang menyadari bahwa para pelayan menjelekkan calon isterinya sekaligus ibu dari anaknya. Langsung memandang mereka dengan tajam dan aura yang di sekitarnya membuat sesak para pelayan.
Pelayan yang baru saja membuat seorang singa marah langsung menundukkan kepalanya. Berupaya berdoa supaya nyawa mereka masih aman dari pedang bersinar milik Pangeran kedua Lois.
Sedangkan Flora menyerngitkan dahinya bingung melihat ekspresi ketakutan para pelayan dan ekspresi kemarahan dari Mama dan Papa nya.
" Mama..mengapa mereka terlihat takut?" tanya Flora yang dengan polosnya menunjuk salah satu pelayan yang tidak jauh dari hadapannya.
Pelayan yang ditunjuk Flora badannya langsung bergemetaran takut nyawanya terancam oleh sang Pangeran perang.
Aliesa yang melihat ekspresi ketakutan Pelayan tersebut tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Flora.
" Tidak ada sayang, mereka hanya sedang kepanasan benarkan?" ucap Aliesa sambil melirik pelayan tersebut.
" Betul Lady, saya cuma kepanasan anda tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Pangeran, Lady." ucap pelayan itu yang membungkuk hormat sebelum berlari meninggalkan Aliesa yang kembali tersenyum senang karena berhasil menjahili pelayan tersebut.
Pangeran kedua Lois yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Aliesa yang cukup jahil baginya.
__ADS_1
Setelah itu mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan sampai dimana terdapat sebuah taman yang banyak dihiasi oleh bunga mawar berwarna-warni. Membuat Flora yang melihatnya terkagum dengan keindahannya.
" Mama lihat bunganya cantik sekali." ucap Flora sambil melepaskan genggaman tangannya berlari menuju ke tempat bunga mawar putih di tanam.
Aliesa yang melihatnya hanya tersenyum senang sampai matanya tanpa sengaja melirik ke arah Pangeran kedua Lois yang sedang menatap taman itu dengan pandangan sedih.
Seketika memori pemilik tubuh memasuki Aliesa. Bahwa taman ini adalah milik Selir Aurora dari Kaisar Wiliams, tempat dimana Pangeran kedua Lois dan Selir Aurora menghabiskan waktu bersama-sama. Terkadang juga ia mengingat meskipun samar dia pernah bermain di sini bersama seorang perempuan cantik yang mungkin adalah sang Duchess atau ibunya.
" Mungkin dia sedang merindukan ibunya." batin Aliesa sambil kembali melirik Pangeran kedua Lois dengan sendu.
" Akhirnya kalian sudah sampai." ucap seseorang yang berdiri di belakang Aliesa dan Pangeran kedua Lois.
" Yang Mulia, Kaisar." ucap Aliesa dengan anggun dan suara lembut.
Pangeran kedua Lois hanya menunduk sedikit badannya tanpa mengucapkan apapun.
Kaisar Wiliams yang mendapatkan sifat acuh dari Puteranya hanya memakluminya karena baginya itu sudah biasa.
__ADS_1
" Terima kasih atas salamnya Lady Aliesa sudah lama sekali kita tidak bertemu. Ayo kalau begitu kita akan meminum teh di rumah kaca sepertinya gadis kecil di belakang kalian sudah terlihat kehausan." ucap Kaisar Wiliams sambil tersenyum tipis memandang Flora yang berdiri bersembunyi di belakang Pangeran kedua Lois.
Aliesa yang melihat pandangan Kaisar Wiliams ke Flora langsung menggangguk kepalanya.
Setelah itu mereka meminum teh di rumah kaca yang lebih banyak tertanam jenis bunga-bunga segar yang di rawat dengan baik dan juga tanaman obat.
Aliesa cukup kagum dengan pemandangan rumah kaca itu. Mereka hanya saling berdiam diri sampai Kaisar Wiliams membuka pembicaraan.
" Sudah lama sekali aku menghabiskan waktu bersama dengan Puteraku." ucap Kaisar Wiliams dengan senang bisa menghabiskan waktu dengan Pangeran kedua Lois.
Pangeran kedua Lois mengepalkan tangannya secara diam-diam di bawah meja.
" HM...sudah lama sekali terakhir kalinya adalah seminggu sebelum kematian Ibunda. Betulkah Kaisar." ucap Lois sambil melirik tajam Kaisar Wiliams.
Aliesa hanya diam tanpa berbicara apapun karena ia sudah menyakini bahwa suasana diantara Pangeran kedua dan Kaisar seperti seorang musuh.
" Ternyata gosip itu benar bahwa Pangeran kedua membenci Kaisar." batin Aliesa.
__ADS_1
Countine...