
Mendengar itu Pangeran Mahkota dan Lois saling melirik satu sama lain dengan pandangan sulit. Sampai Pangeran Mahkota berdehem untuk mencairkan suasana.
" Tidak Ayahanda tadi saya dan Pangeran kedua hanya saling menyapa saja." ucap Pangeran Mahkota Alarick sambil tersenyum menawan.
Mendengar nya Kaisar Wiliams melirik ke arah Pangeran kedua Lois yang sejak tadi hanya memasang wajah datarnya. Lois yang menyadari tatapan Kaisar kepadanya langsung kembali menatapnya.
" Apa benar yang di ucapkan Pangeran Mahkota? Pangeran kedua." ucap Kaisar Wiliams yang meminta kepastian kepada Pangeran kedua Lois karena ia tahu bahwa Puteranya yang satu ini tidak akan berani membohongi nya.
" Tidak, Yang Mulia. walaupun hubungan saya dengan Kakak tidak dekat tapi kami tidak akan saling menyerang." ucap Lois sambil melirik Pangeran Mahkota Alarick yang tampaknya sedang bernafas lega karena kelakuan nya tidak ketahuan.
Melihat suasana yang semakin memanas Ratu Rieta langsung menenangkan Kaisar Wiliams dengan cara memegang tangan nya dengan lembut.
" Benar ucapan Pangeran kedua suamiku, ini masalah anak-anak saja saya yakin Pangeran Mahkota tidak akan tega menyerang adik kesayangannya. Betulkan Pangeran Alarick." ucap Ratu Rieta sambil memandang lembut Pangeran Mahkota Alarick.
__ADS_1
Melihat itu langsung saja Pangeran Mahkota Alarick menggangguk kepalanya.
" Benar kata Ibunda saya tidak mungkin menyerang adik kesayangan saya. Saya sangat menyayangi nya seperti Brieta." ucap Pangeran Mahkota Alarick menyankingkan.
Kaisar Wiliams bernafas lega karena dugaan nya selama ini salah tanpa mengetahui sifat asli dari puteranya itu.
" Syukurlah, aku senang kalian bisa bersikap seperti kakak dan adik. Meskipun ibu kalian berbeda tapi tidak memutuskan ikatan saudara masing-masing. Kalau begitu aku harus kembali ke kamar ku sekarang dan saat ini aku tidak ingin mendengar nya lagi. Apa kalian mengerti Pangeran Mahkota dan Pangeran kedua." ucap Kaisar Wiliams sambil memandang datar Pangeran Mahkota Alarick dan Pangeran kedua Lois.
Setelah itu Kaisar Wiliams keluar dari ruang makan bersama Ratu Rietta. Melihat kepergian Kaisar Wiliams. Pangeran Mahkota Alarick memasang wajah jijik nya kepada Pangeran kedua Lois.
" Meskipun kau telah membantuku jangan harap aku akan berhutang budi kepadamu. Aku tidak sudi berhutang kepada seorang anak dari pelacur uhuuk..." ucap Alarick yang tiba-tiba saja tubuhnya terdorong menuju dinding.
Lois yang melakukan nya memandang Pangeran Mahkota dengan dingin sambil berdiri di hadapannya ia membisikkan sesuatu.
__ADS_1
" Jangan sekali-kali kau menghina ibuku atau aku akan membongkar semua rahasia. Jangan dikira karena aku merupakan anak seorang Selir kau bisa seenaknya, dan untuk kau Puteri Mahkota urus suamimu yang tidak bertanggung jawab itu." ucap Lois panjang lebar sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan sambil mengeluarkan aura hitamnya.
Puteri Mahkota Annika yang melihat keadaan Suaminya langsung berjalan cepat menuju ke arahnya.
" Alarick kau baik-baik saja?" tanya Annika sambil memasang wajah khawatir.
Pangeran Mahkota Alarick yang sudah terbebas pun berdecih sambil mengepalkan tangannya. Ia sama sekali tidak menyukai Lois lebih kuat daripada dirinya. Dirinya yang harus sempurna daripada dia. Mungkin seharunya dirinya sudah membunuhnya sejak dia masih kecil. Tapi sayangnya Ayahandanya memantaunya dari jauh supaya ia tidak berani melakukan sesuatu kepada Lois.
Pangeran Mahkota Alarick tahu meskipun Selir kesayangan Ayahandanya sudah mati. Tapi tetap saja beliau lebih menyayangi anak kesayangannya. Sungguh Alarick sangat benci kepada Lois ingin rasanya ia membunuhnya dengan kedua tangannya. Sayangnya ini bukan waktu yang tepat ia harus memikirkan cara supaya Lois bertekuk lutut di hadapannya.
" Aku akan....
Countine...
__ADS_1