
Sekarang kita kembali menjalankan perjalanan dan ingat....satu hal aku benci penghianat." ucap Lois.
Setelah mengatakan hal itu Lois langsung kembali menaiki kudanya dan memacunya melanjutkan perjalanan.
Sedangkan para pengawal tadi saling melirik sebelum bergidik ngeri melihat aksi dari Pangeran kedua yang tidak kenal ampun terhadap musuhnya.
" Aku tidak akan membuat masalah terhadap pangeran perang. Aku tidak ingin terbakar seperti mereka." ucapnya sebelum kembali juga menaiki kuda menyusul Pangeran Lois yang sudah jauh.
Lois memacu kudanya dengan cepat karena dirinya sudah malas ingin segera cepat sampai ke istana dan menyelesaikan urusannya. Sekarang Lois merasa rindu dengan Aliesa apalagi setelah kejadian semalam yang membuatnya merasa senang. Memikirkan itu tanpa sadar membuatnya tersenyum tipis.
Tidak lama akhirnya Lois sampai di depan gerbang utama istana para penjaga yang melihat kedatangan nya langsung membuka gerbang dengan sihir dan membungkuk hormat.
Lois menghiraukan mereka sambil mengendarai kuda nya masuk ke dalam istana.
" Selamat datang, Yang Mulia. Pangeran Mahkota sudah menunggu anda di ruang kerjanya." ucap Asisten Pangeran Mahkota Alarick yaitu Arthur.
Lois melirik sekilas sebelum turun dari kudanya dan berjalan melewatinya dengan santai. Arthur yang melihatnya hanya menghela nafasnya karena dirinya sudah tahu bagaimana sifat dingin Pangeran kedua yang sudah mendarah daging itu.
Tetapi ada suatu hal di khawatirkan oleh Arthur yaitu perseteruan Pangeran Mahkota dan Pangeran kedua yang berujung duel seperti tahun sebelumnya.
__ADS_1
Sepanjang di lorong Lois hanya menampilkan ekspresi datar nya sambil melihat banyak pelayan yang membungkuk takut kepadanya. Tapi Lois tidak mempermasalahkan itu setidaknya mereka tidak akan mengganggunya.
Lagipula Lois harus berbicara dengan Kaisar Wiliams setelah ini. Sampai di ruang kerja Pangeran Mahkota. Lois langsung saja membuka pintu sebelum kemudian masuk.
Lois hampir tercengang mengapa tidak di depannya dirinya melihat seolah hampir tidak mungkin terjadi. Sebab Pangeran Mahkota duduk dengan tenang sambil mengerjakan pekerjaannya tanpa ribut atau melimpahkan nya kepada Asisten nya.
" Saya tidak percaya bahwa anda bisa berubah secepat itu. Bukannya itu sedikit mencurigakan." ucap Lois bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
Pangeran Mahkota Alarick yang mendengarnya langsung menghentikan pekerjaannya dan memandang Lois dengan sorot mata serius.
" Akhirnya kau sudah datang Adikku bagaimana kalau kita minum teh di taman. Tidak mungkin bukan bahwa saya tidak menyambut kedatangan tamu sendiri." ucap Alarick dengan sorot mata datar dan dingin seperti Lois.
Lois mendengarnya berdecih memandang rendah Pangeran Mahkota Alarick seperti sebuah kotoran.
Mengetahui bahwa Lois menolaknya Pangeran Mahkota Alarick menghela nafasnya sepertinya memang hubungannya dengan nya adalah musuh bukan seperti saudara seayahnya.
" Dia memang membenci pemilik tubuh ini, aku jadi ragu untuk meminta bantuannya. Tetapi jika tidak di lakukan rencana awal ku bisa gagal menyingkirkan mereka." batin Alarick berpikir.
Lois hanya diam sambil menunggu jawaban dari Pangeran Mahkota Alarick. Sambil melipatkan tangannya di dadanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Pangeran Mahkota Alarick berbicara lagi.
" Saya butuh bantuan mu untuk menyingkirkan ibu dan isteriku dari istana." ucap Alarick dengan mata dinginnya mengingat bertapa bencinya dirinya kepada kedua wanita itu.
Lois yang terkejut mendengarnya mengetahui bahwa Pangeran Mahkota Alarick menyingkirkan ibu kandungnya sendiri.
" Mengapa istana ini semakin berubah setelah kepergian ku dari sini.... bahkan aku sekarang bisa melihat sorot mata kebencian...
Countine....
Maafkan Author yang sudah tidak up sekitar hampir seminggu....
**Tapi bukan karena Author malas cuma kemarin Author habis menyelesaikan Utbk masuk PTN negeri.
Jadi lebih kurang seminggu yang lalu Author belajar...
Mohon maaf sekaligus berterimakasih karena masih mau membaca cerita Author yang terkadang kurang jelas...
Doakan Author mendapatkan PTN negeri ya....
__ADS_1
Kalau begitu
See you**...