Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Aku akan melenyapkan kalian!


__ADS_3

Episode 106 : Aku akan melenyapkan kalian!


***


Alexander mencoba menghubungi Kiara, tetapi nomornya tidak aktif, sama sekali tidak bisa dihubungi olehnya.


“Awas kau ya!” geram Alexander tetap mencoba menghubungi Kiara.


Saat matahari mulai terbit, saat itulah Alexander dan Pak Roy sampai ke kediaman keluarga angkat Kiara.


Bagaimanapun Alexander datang saat subuh menjelang pagi ke mansion nya, jadi sudah sudah sewajarnya ia sampai di kediaman Kiara saat pagi sudah menyingsing.


Alexander dengan lantang langsung keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Pak Roy yang sigap dan hormat.


“Tuan, boleh tahu ada apa?” salah seorang pembantu yang ada dikediaman Bella menanyai Alexander yang dengan entengnya hendak masuk kedalam rumah itu.


Alexander segera menatap tajam kearah pak Roy, mengirimkan kode agar segera membereskannya.


“Ah, halo, permisi sebentar, kami ada urusan di dalam,” dengan sigap Pak Roy langsung menjelaskan pada pembantu itu, sedangkan Alexander langsung masuk kedalam rumah.


“KIARA! Keluar dan ayo pulang!” teriak Alexander dengan semena-mena didalam rumah, mengejutkan semua orang.


Apalagi Bella yang sudah menangis semalam suntuk karena pelarian calon suaminya dan Kiara.


Kebencian Bella semakin mendarah daging pada Kiara, dia akan membalas Kiara seribu kali lipat jika bisa.


Semua anggota keluarga langsung turun kebawah, termasuk ibu dan ayah Bella, termasuk Bella sendiri.


“Tu … Tuan Alexander,” dengan wajah sedih ibu Bella langsung datang ke hadapan Alexander Grey.


“Kenapa kalian yang datang? dimana Kiara?” bentak Alexander merasa jika sesuatu telah terjadi pada Kiara, mengingat betapa bodohnya si Kiara itu.


Ibu Bella langsung menceritakan semuanya, ditambah sandiwara Bella, Bella merasa ini adalah kesempatan langka untuk menghancurkan hubungan Alexander dan Kiara.


Dia yakin jika Alexander tahu Kiara kabur bersama calon suaminya, maka Alexander akan membuang Kiara dan Bella bisa melakukan apapun terhadap Kiara.


Setelah mendengar semua penjelasan, wajah Alexander semakin murka, kemarahan dan kekecewaan seperti bercampur, matanya semakin tajam dan tangannya yang mengepal seolah ingin meninju sesuatu.

__ADS_1


“Jika apa yang kalian ceritakan barusan adalah kebohongan, maka kalian akan aku hancurkan! Paham!” geram Alexander dengan nada yang datar dan rendah tetapi menekan.


Dia langsung melangkahkan kakinya pergi sembari mengambil ponsel di sakunya.


“Halo!”


“Kau tahu dimana dia kan? cepat kirimkan lokasinya padaku,”


Alexander langsung menghubungi Yuza, Alexander tahu jika Yuza tahu segalanya, dan sengaja tidak memberitahukannya pada Alexander.


“Bos, apakah kau sudah tertarik pada gadis itu? bagaimana jika dia menghalangi rencana kita, dia juga sudah mengkhianati mu, jadi …” belum sempat Yuza menyelesaikan ucapannya, Alexander langsung berteriak.


“DIAM!”


“Aku bilang diam, aku yang bisa menentukan siapa yang bisa berkhianat padaku, jika dia sungguh mengkhianati aku, maka tanganku yang akan mengakhirinya sendiri!"


"Jadi cepat kirim lokasinya padaku, SEKARANG!” geram Alexander langsung mematikan panggilan itu, dan membuka pesan melihat lokasi yang langsung dikirimkan oleh Yuza.


Baru kali ini, Yuza melihat Bosnya murka padanya, membuatnya bergetar takut, gadis itu sepertinya memang telah menarik perhatian Bosnya.


Segera setelah Alexander menerima lokasi Kiara, dengan cepat ia memerintahkan Pak Roy menuju lokasi yang sangat jauh dari lokasi mereka sekarang.


Segala pikiran yang aneh yang membuat emosinya semakin meledak sudah mengendalikan dirinya, bagi Alexander, dua orang menghabiskan malam bersama tentu pasti melakukan sesuatu.


Alexander sudah menahan terlalu lama, menghargai keputusan Kiara, Alexander tidak terima direndahkan oleh Kiara, jadi jika benar Kiara mengkhianatinya maka berakhirlah hidup Kiara.


Pak Roy sedikit takut melihat ekspresi Alexander yang sangat berbeda saat sebelum memasuki rumah Kiara, rasanya ekspresi yang sekarang penuh aura membunuh dan terlihat sangat menyeramkan.


***


Disaat yang sama, ditempat pelarian Kiara dan Bian,


Mereka tidak tahu arah tujuan mereka, yang penting mereka bersama, kemanapun tidak masalah, Bian Agler menggenggam tangan Kiara, mereka sedang ada dalam bus, dan mereka hendak sampai di sebuah desa dekat pantai.


“Kiara, bangunlah,” bisik Bian saat ia melihat matahari menyingsing begitu indah.


Kiara yang bersandar di bahu Bian membuka matanya dan melihat matahari terbit itu, matanya langsung berbinar apalagi mengetahui yang ada disisinya sekarang bukanlah orang lain melainkan Bian Agler.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati pemandangan matahari terbit dari dalam bus yang berjalan, mereka juga sudah bisa mencium aroma laut, rasanya sangat menyenangkan dan membuat tenang.


Hanya beberapa menit setelah itu mereka sampai di terminal pemberhentian mereka, senyuman merekah keduanya sembari bergandengan tangan, mereka turun dari bus, melangkahkan kaki mereka kemanapun angin menuntun keduanya.


Dan beberapa saat setelah mereka keluar dari stasiun, Kiara dan Bian hendak melihat pemandangan laut sebentar.


Mereka hanya butuh berjalan beberapa menit saja dan pantai yang sangat indah sudah bisa mereka lihat.


Kiara langsung berlari kearah tepi pantai, angin pagi langsung menyambutnya, rambutnya terurai disapa oleh angin, senyumannya yang merekah yang saat lalu sempat hilang terlihat lagi.


Kiara yang berpikiran polos dan tulus berharap ini adalah awalan hidup barunya, bersama seseorang yang ada dihatinya.


“Bian, aku,” Kiara membalikkan badannya, hendak mengajak Bian berlari menikmati pantai, tetapi ia tidak menemukan Bian, dia lihat kesana kemari tetapi tidak ada Bian disana.


“Bi … Bian, jangan menakuti ku, kau dimana?” seru Kiara berlari hendak mencari Bian.


Ketakutan seolah meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja menghampirinya, sampai pada saat sekumpulan lelaki berjas hitam muncul dihadapannya dan mendekat kearahnya.


Kiara hendak kabur dengan berlari, tetapi sudah terlambat, dia sudah dikepung, dan dia juga langsung ditangkap oleh mereka.


Berbeda dengan Bian yang dibawa kembali pulang, Kiara dibawa para penjahat bayaran itu ke sebuah rumah kosong dekat pantai, dia diikat dan dikurung disana.


“Siapa kalian? siapa yang menyuruh kalian?” teriak Kiara saat melihat para bandit itu mengelilinginya.


Dalam pikiran Kiara, para bandit ini jika bukan suruhan keluarga Agler maka pasti suruhan Alexander Grey karena dirinya telah berani kabur dari sisi Alexander Grey.


“Pfftt, hahaha, bodoh sekali, kau akan mati disini, seseorang yang sangat dekat denganmu memerintahkan kami untuk segera membunuhmu, jadi kau tutup saja mulutmu dan hadapi kematian mu sendiri!” seru salah satu lelaki itu sudah memegang pistol dan mengarahkannya pada Kiara.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentarnya ya, maaf jika masih banyak kesalahan ketik.

__ADS_1


Jika sudah ada waktu luang nanti akan author perbaiki, semoga Novel ini bisa menghibur kalian yaa, hehe


Sayang kalian banyak banyak. Lope you sekebon jeruk dah 🤍🍊


__ADS_2