Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Payung bocor.


__ADS_3

Episode 54 : Payung bocor.


***


Perlahan tapi pasti Kiara mendengar suara langkah mendekat kearahnya, satu-satunya orang yang ada dikepalanya sekarang hanyalah Bian, dia tidak bisa membohongi dirinya jika dia masih tidak bisa melupakan atau melepas Bian dari hatinya.


Seperti hubungan yang telah terikat tali seumur hidup, mereka sudah bersama sejak dulu dan mengalami banyak hal bersama-sama, tidak semudah itu mengatakan akhir dan selesai, itu hanya apa yang diucapkan oleh mulut bukan hati.


Mungkin semua orang juga pasti akan melakukan hal yang sama, akan bersikap bodoh jika sudah menyangkut perasaan.


“Apakah dia sungguh datang kesini?” seru Kiara mengangkat wajahnya dan melihat siapakah orang yang datang untuknya.


“Kak Bi …” ucapnya saat mengangkat wajahnya, tetapi seseorang yang ia lihat dihadapannya membuatnya sangat terkejut, matanya melebar dan dia membeku sesaat.


Matahari yang sedar tadi menyilaukan matanya sudah dihalangi oleh lelaki yang berdiri dihadapannya, matanya tajam dan ekspresi diamnya seolah membawa hawa dingin bagi Kiara, waktu seolah berhenti dan hanya angin yang bergerak.


Kiara yang duduk dan Alexander yang berdiri melihat kearah Kiara, mata mereka bertemu dan sesuatu yang seolah ajaib terjadi pada diri Kiara, rasa seperti waktu yang bergerak lambat itu terjadi sekali lagi.


Sesuatu yang baru dan membuat perasaan risau tetapi mendebarkan, seolah Kiara sedang ada digerbang kehancuran, seolah saat lelaki ini menggenggam tangannya maka tidak akan ada lagi cara untuk kembali.


Tetapi anehnya rasa khawatir dan takut itu didominasi oleh tatapan dinginnya, rasa takut dilihat oleh orang-orang yang menghinanya seolah membeku dan tidak diingat lagi, seolah lelaki yang membawa kehancuran ini akan menghancurkan mata dan mulut yang menghinanya.


Lelaki ini seperti payung bocor, setengah melindungi dari hujan tetapi setengah lagi melukai tangan pemiliknya karena kawat yang sudah terkelupas.


Alexander yang melihat mata kosong dan air mata yang belum mengering terdiam sebentar, melihat dengan banyak pertanyaan dikepalanya, dia mendekat dan kakinya bertumpu untuk bisa melihat Kiara dari jarak yang lebih dekat.


Masih terdiam dan memandangi Kiara, tangannya mengusap air mata Kiara yang bahkan tidak berhenti mengalir.


Angin yang semakin kencang seolah menggambarkan betapa marahnya Alexander sekarang, dilihatnya tangannya yang basah oleh air mata wanita bodoh yang tiba-tiba ada dalam kehidupannya ini.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah bilang kepada mu? Jika ada yang menindas mu dan hendak melukaimu kau harus mengadu padaku?"


"Bukankah aku sudah bilang kepada mu, jika kau memang harus menangis maka itu harus karena ku bukan karena orang lain!"


"Kenapa kau sangat bodoh menangis sendiri ditempat sepi seperti ini, jika ada orang jahat yang mengincarmu dan membawamu, lalu harus kemana aku mencarimu?”


Kiara tahu, dari nada suaranya yang menekan dan matanya yang tajam tetapi ber-aura dingin, Alexander merasa harga dirinya terluka karena barangnya diusik oleh oranglain, lelaki menyeramkan yang seperti pisau bermata dua bagi Kiara ini tidak suka jika ada barang yang sedang ia mainkan dipermainkan oleh orang lain juga.


Kiara yang sadar diri kemudian menunduk, “Maafkan aku Tuan, aku bersalah,” ucap Kiara tidak ingin menambah masalah dan bebannya, dia tidak ingin berdebat dengan Alexander disaat seperti ini.


Tetapi diluar dugaan, Alexander tidak membentak Kiara seperti biasa, melainkan tangan Alexander diulurkan untuk Kiara.


“Ayo kita pulang!”


Kata-kata yang membuat jantung Kiara berdebar begitu cepat, kata ayo kita pulang seperti udara segar yang menyembuhkan luka hatinya, kata ayo kita pulang seperti harapan baru yang mengatakan jika di dunia yang luas ini masih ada tempat untuknya pulang.


***


Tanpa menunggu lebih lama, juga tidak suka memperlambat waktu, Alexander langsung menarik tangan Kiara.


“Kau memang lebih lambat dari siput!” ketus Alexander menggenggam erat tangan Kiara, hendak membawanya kembali pulang.


Tetapi tiba-tiba Alexander teringat akan luka kaki Kiara, dia berhenti sebentar dan langsung berjongkok untuk melihat luka yang ada dilututnya, seperti yang dia duga, perbannya sudah hampir lepas dan lukanya kembali memar.


Alexander memperbaiki perbannya dengan perekat yang masih bisa direkatkan, “Jika kau masih tidak bisa mengurus luka kecilmu ini, aku akan mematahkan kakimu saja, agar lukanya lebih besar dan kau tidak akan bisa kemanapun!” ketus Alexander menatap tajam kearah Kiara.


Dia sangat tidak suka, bagaimana perempuan ini bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


Lalu ....

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Kiara, Alexander segera bangkit dan menggendong Kiara di tangannya, Alexander hanya diam saja dan berbicara seadanya, seolah ada kemarahan yang sedang ia tahan.


Pak Roy yang sudah menunggu di mobil melihat sikap tuannya pada Kiara, Pak Roy sedikit tersenyum, sikap Alexander yang keras dan arogan memang merepotkan tetapi jika ada seseorang yang ingin ia lindungi maka dia akan melakukannya dengan sangat tulus.


***


Ditempat itu, Bian Agler yang hanya terlambat beberapa menit sebelum Alexander melihat apa yang sedang terjadi, dia memukul dahan pohon sampai tangannya berdarah.


“Harusnya itu aku!” geram Bian dengan amarah dan rasa sakit di hatinya.


Dia juga sudah melihat berita yang menyudutkan Kiara, dia sudah menyelidiki siapa yang menyebarkan gosip itu dan sudah tahu jika itu Bella.


Bian langsung tahu jika Kiara pasti berada ditempat yang sering mereka kunjungi dahulu, tetapi yang dilihat Bian bukan hanya Kiara, tetapi lelaki yang sepertinya perlahan telah berada dikehidupan Kiara.


Hatinya sangat sakit saat Alexander Grey menggenggam tangan Kiara dan bahkan menggendongnya, rasanya dia tidak rela, seharusnya yang ada disisi Kiara itu dirinya, tetapi waktunya selalu tidak tepat.


Seperti sekarang, masih banyak urusan yang harus ia luruskan dan selesaiakan, dia juga masih harus memantaskan diri sampai akhirnya bisa dengan percaya diri menjemput Kiara.


Urusan keluarganya yang rumit dan berbahaya membuat Bian tidak ingin melibatkan Kiara, dia ingin melindungi Kiara dalam diam, dia tidak ingin Kiara terkena imbas ketamakan keluarganya yang sedang memperebutkan posisi teratas untuk menjadi CEO utama di perusahaan keluarganya.


Tetapi rasanya semuanya semakin rumit dan menyakitinya, tetapi dia yakin hatinya dan Kiara tidak semudah itu bisa dihancurkan, benang yang menyatukan mereka masih utuh, dia hanya ingin sedikit waktu lagi agar bisa membawa Kiara pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2