
Episode 124 : Hanya sebagai persinggahan.
***
Sesaat setelah ia melihat berita itu, Alexander Grey mengingat saat dimana layla tiba-tiba meninggalkannya, dia kira Layla meninggalkannya seperti orang-orang yang selalu berkhianat kepadanya, “Apakah ini alasanmu?” seru Alexander merasakan gemuruh di hatinya.
Tanpa berpikir panjang Alexander Grey segera menelepon Yuza kembali.
“Yuza,”
“Iya Bos?”
“Siapkan penerbangan untukku sekarang juga, misi kita harus tetap dijalankan, berikan laporan kepadaku secara berkala,”
Yuza terdiam sebentar, dia tahu apa yang sedang ada di pikiran Bos nya, tanpa pikir panjang lagi, sembari mengotak-atik keyboard di depannya, Yuza segera menyediakan penerbangan pribadi untuk Bos nya mengarahkan semua anggotanya untuk mempersiapkan segalanya secara singkat.
Bagaimanapun Alexander Grey memang memiliki jet pribadi jadi dia bisa melakukan penerbangan kapan pun ia mau, hanya tinggal memerintahkan Yuza untuk menyediakan semuanya.
Tanpa waktu yang panjang lagi, sesuai dengan keinginan Alexander Grey, dia segera melakukan penerbangan ke luar negeri, dimana Layla melakukan pengobatannya secara berkala setiap tahun.
Rasa cemas dan khawatir dirasakan oleh Alexander, bagaimana ia telah mencampakkan Layla karena rasa bencinya kepada keluarganya.
Bagaimana ia tidak mau bersama Layla karena merasa jika Layla hanya barang sisa yang dilempar ayahnya kepadanya.
Sekarang Alexander Grey akan memastikan sesuatu karena itulah ia segera pergi dan meninggalkan beberapa urusan penting lainnya.
***
Disaat yang sama di tempat Layla,
Berdasarkan informasi dari suruhannya, berita itu pastinya sudah tersebar luas, rahasia yang ia jaga selama ini akhirnya dengan terpaksa ia bongkar, dia tidak ingin kehilangan Alexander Grey, satu satunya lelaki yang ia cintai.
__ADS_1
“Kau pasti datang kan? Alexander? Kau pastinya datang kepadaku, aku sudah tidak bisa bersabar lebih lama, aku ingin kau tahu jika aku tidak pernah meninggalkan dirimu,”
Seru Layla sembari berjalan mondar mandir di ruangan pasiennya, dia sedikit gugup, dia takut jika Alexander tidak akan datang walau dia sudah sengaja menyebar luaskan penyakit yang selama ini ia rahasiakan.
***
Di kediaman Alexander Grey,
Kiara yang entah mengapa merasakan perasaan aneh tidak mau berpikiran banyak, dia segera masuk ke dalam kamar pribadi Alexander Grey, dia masih terlalu lelah untuk bisa beraktifitas akibat olahraga panas yang terus berlangsung sejak malam dan pagi itu.
“Ah, tubuhku pegal sekali, dia memang monster, bagaimana mungkin dia memiliki banyak sekali energi!” celetuk Kiara langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Namun beberapa saat kemudian matanya tertuju pada sebuah ponsel yang disediakan Alexander Grey untuknya, ponsel baru yang dibelikan Alexander Grey untuknya, senyuman tipis entah mengapa tertoreh di wajah Kiara.
“Dasar penggoda, walau dia kejam dan membingungkan dia selalu saja membuat perasaan ku hangat dan merasa diterima, seolah dia selalu membuat diriku spesial!” ketus Kiara bangkit dan mengambil ponsel keluaran terbaru itu.
Ponselnya memang sepertinya telah hilang karena pelarian mendadaknya kemarin dengan Bian Agler, jadi Alexander membelikan Kiara ponsel tanpa sepengatahuan dirinya.
Berita yang dibaca oleh Alexander Grey sekarang dibaca oleh Kiara sekarang,
"Ternyata kita berpisah lebih cepat dari dugaan ku,” Kiara berbicara pelan, entah mengapa merasakan hatinya seperti tercabik-cabik.
Dia sebenarnya ingin pergi, tetapi disaat yang sama, di seluruh dunia ini yang menerima dirinya hanyalah Alexander Grey dan Bian Agler.
Namun sekarang keduanya telah memiliki wanita nya masing-masing, dia benar-benar hanya seperti persinggahan yang bisa di tinggalkan kapanpun.
Tanpa ia sadari dia mematikan ponselnya, membaringkan tubuhnya di ranjang yang luas, dia kembali ke titik awal, dia menangis dengan sangat pilu, dia sudah mempersiapkan hatinya tetapi dia tidak tahu akan sesakit ini.
“Aku sudah memperingati diriku sendiri, aku sudah mempersiapkan hatiku, tetapi selalu saja sakit, entah kenapa rasanya sangat sakit, apa yang harus aku lakukan setelah ini,” Kiara menangis memuaskan sakit hatinya.
Dia hanya terbaring di kasur, sampai malam, Pak Roy dan para pelayan mengetuk pintu untuk memberikan Kiara makanan, seharian Kiara tidak makan, tetapi Kiara tidak mau makan.
__ADS_1
Sampai pagi harinya lagi, Kiara sadar betapa bodohnya dirinya yang berbaring tidak berdaya itu.
Sudah satu hari terlewati, dia memeriksa jika Alexander bahkan tidak pulang dan menelepon dirinya seperti yang Alexander katakan, Alexander seperti hilang dan pergi begitu saja.
Dia bangkit dan melihat wajahnya di cermin, matanya sudah bengkak karena air matanya sendiri, “Kata siapa kau berhak menangis Kiara, sedari awal kau memang bukan siapa-siapa kan? Jadi tegarkan hatimu dan lakukan saja peran mu,” Kiara berbicara dengan pantulan dirinya di cermin, wajahnya yang menyedihkan benar-benar terlihat.
Sekarang ini dia menjadi sendiri dan keberadaan Alexander entah mengapa memberikan ruang kosong yang menyakitkan di hatinya, sekeras apapun Kiara menahan dan membalut lukanya, tetap saja rasanya sakit dan nyeri.
Satu minggu telah lewat, Alexander Grey bahkan tidak nampak sedikit pun, Kiara tetap ada di kediaman Alexander Grey, tetapi dia sadar jika semuanya sudah tidak akan kembali seperti sebelumnya.
Angan-angan dan mimpi yang telah lalu harus segera ia lupakan, ia sudah mengemas bajunya, buku-buku kuliahnya dan semua barang nya di kediaman itu.
Ia akan memberikan alasan pada Pak Roy untuk pergi ke kampus, dan setelah itu dia tidak akan pulang, dia akan mencari tempat tinggal yang murah dan melupakan mimpinya yang meramaikan hatinya di tempat ini.
Semua barang-barangnya telah ia kirimkan melalui pengiriman paket secara sembunyi-sembunyi, dia menitipkan barang-barangnya yang memang sedikit di rumah Rose, satu satunya temannya.
***
Pagi itu Kiara sudah bersiap-siap, dia sedang ada di depan para pelayan dan Pak Roy, juga di sisi kirinya ada mobil pribadi lengkap dengan supir untuk mengantarkan Kiara ke kampus, karena sudah satu minggu dan sudah waktunya Kiara kembali kuliah.
“Pak Roy, aku berangkat dulu ya, Bapak jaga kesehatan ya,” seru Kiara dengan senyumannya yang tulus, hal itu dibalas Pak Roy dengan anggukan dan senyuman ramah pula dan setelah itu Kiara masuk kedalam mobil.
Mata Kiara memperhatikan kediaman yang terasa dekat dengannya itu, “Selamat tinggal semuanya, aku tahu setelah kembalinya Layla aku tidak akan pernah bisa menempati hati yang sama, aku harus pergi sendiri karena itulah peranku, hanya sebagai persinggahan,” gumamnya telah keluar dari gerbang super besar.
Mulai hari ini Kiara akan memulai kehidupannya yang baru, mencari pekerjaan baru dan kuliah dengan baik dan benar, dia akan kembali ke kehidupan Kiara yang biasanya.
.
.
.
__ADS_1
.