
Episode 97 : Berfokus hanya padaku seorang!
***
Kiara benar-benar tidak berani bergerak sesuai instruksi dari Alexander, dia membeku diatas ranjang dengan tubuh yang sudah dibalut oleh Selimut tebal.
Yang ia bisa dengar hanyalah suara keran air yang mengalir cukup lama.
Setelah beberapa lama akhirnya Alexander keluar dari dalam kamar mandi, sepertinya Alexander baru saja mandi padahal hari masih siang, rambutnya masih sedikit basah dan handuk di pinggangnya adalah satu-satunya kain yang menutupi tubuh bagian bawah Alexander.
Kiara bisa melihat jika wajah Alexander memerah keluar dari dalam kamar mandi, 'Apakah dia mandi air panas? kenapa wajahnya merah sekali? lalu kapan dia berencana akan melepaskan aku?' gumam Kiara memejamkan matanya sesaat setelah melihat jika Alexander sudah tidak mengenakan pakaian keluar dari kamar mandi.
Dengan sigap dan cepat Alexander mengenakan pakaian rapihnya, sebenarnya masih banyak hal yang harus ia lakukan, jadi dia berencana untuk segera pergi, entah setan apa yang merasukinya tadi sampai membawa Kiara kembali ke mansion dan hendak melakukan hal itu.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, dia melangkah mendekat kearah Kiara.
"Mulai hari ini, berikan jadwal kelas mu pada Pak Roy, ingat ya kau harus pulang tepat waktu dan jangan temui cecunguk sok keren tadi,"
__ADS_1
"Aku harus segera pergi dan kemungkinan akan sangat sibuk bulan ini, aku akan jarang pulang, jadi jangan membuat masalah mengerti?" sembari berkecak pinggang dia dengan keangkuhan yang tinggi berbicara pada Kiara.
Dia masih merasa malu karena tadi Kiara menyadari ada sesuatu yang keras dalam dirinya, bagi seorang pria itu adalah hal yang cukup memalukan.
'Dia akan jarang pulang dan sibuk dalam bulan ini? Yee! mantap, ini adalah keinginan semua budak, biar tahu kau!' teriak Kiara kegirangan dalam hatinya.
Ekspresi wajahnya jadi berubah riang, dan dia mengangguk dengan bersemangat kearah Alexander.
Merasa tidak senang dengan ekspresi wajah Kiara, Alexander segera duduk diatas kasur, Kiara yang tidak bisa bergerak sama sekali tidak bisa memundurkan tubuhnya.
"Lalu, jangan pernah bertemu dengan calon kakak ipar mu itu, namanya Bian kan? jangan sekali-sekali aku tahu kau menemuinya, aku tidak akan memaafkan mu jika itu terjadi," bisik Alexander sembari mengecup dahi Kiara.
Alexander sudah tahu ada sesuatu antara Kiara dan Bian Agler, Alexander tidak melakukan penyelidikan menyeluruh karena dia sebenarnya tidak peduli dengan siapa sebelumnya Kiara bersama, yang penting sekarang hanyalah jika Kiara ada disisinya.
Tetapi Alexander akan sangat marah dan murka jika Kiara berani bertemu dengan Bian Agler itu.
Kiara menelan salivanya, setiap kali nama Bian Agler terdengar hatinya akan ngilu dan dia akan ingat rasa sakitnya.
__ADS_1
Nama itu sangat familiar bagi Kiara, bersama dalam waktu yang sangat lama, separuh hidupnya ia bersama Bian, nama Bian sudah terukir di hatinya.
"Aku tidak akan menemuinya, sebagai gantinya, bisakah jangan menyebutkan nama itu lagi?" ekspresi wajah Kiara lagi-lagi berubah.
Alexander semakin tidak suka, wajah sendu dan ekspresi itu adalah wajah wanita yang sedang mencintai tetapi tersakiti.
"Cih, si Bian itu apa istimewanya sih? bagusan juga aku, jadi ... kau lihat saja aku dan berfokus padaku seorang, jangan memperlihatkan wajah jelek mu ini lagi!" ketus Alexander menarik dagu Kiara dan mengecup bibirnya.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Kiara kembali bergetar dibuatnya, seperti pertama kali dia bertemu dengan lelaki ini.
Aura dan keberadaannya sungguh membuat rasa sakit yang tadi teringat oleh Kiara sirna, dia sungguh berfokus pada lelaki ini sesuai dengan apa yang ia katakan.
.
.
__ADS_1
.
.