Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Hukuman dengan makna yang berbeda.


__ADS_3

Episode 110 : Hukuman dengan makna yang berbeda.


***


Dia lupa misinya adalah untuk bertahan hidup, entah kenapa hal itu tertanam di kepalanya, seolah dialam bawah sadarnya ada seseorang yang sangat penting menyuruh Kiara untuk tidak menyerah dan untuk tetap bertahan hidup.


***


Pagi hari di mansion Alexander Grey,


Kiara yang sudah terbangun sekarang sudah turun dari ranjang, dia tidak menemukan Alexander di sisinya dan itu adalah hal yang baik.


Dia berjalan ke kamar mandi, dia melewati cermin, dia menoleh sejenak lalu melanjutkan langkahnya, tetapi sesaat kemudian dia berhenti dan matanya terbelalak, dia melangkah mundur dan memastikan apa yang ia lihat di cermin.


“Astaga! Aku sudah seperti hulk, semua tubuhku bertanda biru, sebenarnya lelaki itu manusia atau singa sih? kenapa dia suka sekali menggigit? berapa hari tanda ini akan hilang ya?!” geram Kiara memeriksa disekujur tubuhnya semuanya penuh dengan tanda biru yang diberikan oleh Alexander.


“Tarik nafas, lalu buang, tenangkan dirimu Kiara, tenanglah, kau terlalu dramatis, hidupmu sudah seperti sinteron menyedihkan beberapa hari ini! kembalilah ke kenyataan dan realistis lah!”


Ketus Kiara lagi mengatur pernafasannya.


Dia kemudian membersihkan dirinya, lalu memilihkan baju berkerah tinggi, saat dia sudah selesai memakai dress tertutup itu, berketetapan sekali kamar Alexander diketuk oleh pelayan.


“Tok … Tok … Tok!”


“Nona, anda diperintahkan Tuan untuk segera kebawah, beliau sudah menunggu anda,” pelayan itu memanggil Kiara dari luar.


“Jadi dia belum pergi? sebenarnya sampai kapan dia berencana mengurungku! aku hanya ingin bertahan hidup kenapa sangat susah ya ampun!” benak Kiara mengasihani dirinya.


“Ba … baik, sebentar,” seru Kiara tidak memiliki pilihan lain selain menurut, dia tidak ingin diikat lagi seperti tadi malam.


“Huh!" Kiara menghembuskan nafasnya.


Dia masih terlalu malu untuk melihat Alexander, apalagi setelah melewati malam yang gila seperti tadi malam dengannya.


“Tenang Kiara, dia hanya lelaki bejat, bayangkan saja dia seperti itu, turuti saja semuanya, kau juga sudah tercemar, jadi lakukan sampai kontrak usai!” geram Kiara mengusap dadanya agar tidak berdebar terus.


Dia melangkahkan kakinya keluar ruangan dan berjalan menuju lantai bawah dimana Alexander menunggunya.


Dari arah tangga saja Kiara sudah melihat Alexander duduk dengan angkuhnya, sembari membaca surat kabar, wajahnya ditutupi oleh surat kabar itu jadi Kiara tidak bisa melihat wajahnya.


'Kenapa dia biasa saja, setelah melakukan hal itu padaku? dia bersikap seolah semuanya normal dan bahkan bisa membaca surat kabar?!' benak Kiara yang wajahnya sudah semerah tomat matang.

__ADS_1


Dia menunduk dan menutup pikirannya agar tidak membayangkan kejadian gila tadi malam.


Kiara merasa jika Alexander terlalu tenang, setelah melakukan hal buas seperti tadi malam, rasanya disini yang risau dan resah hanya Kiara saja.


'Ah, iya aku lupa, baginya melakukan hal itu hanyalah seperti rutinitas biasa, tidak seperti aku, yang baru pertama kali dan merasa itu sangat berharga! apa sih yang aku harapkan!' gumam Kiara menyadari jika sedari awal posisi mereka sudah berbeda.


Kiara tidak tahu, jika Alexander sebenarnya mengintip dari balik surat kabar itu, sebenarnya dia tidak benar-benar membaca dan hanya berpura-pura.


“Kenapa aku bersikap malu sih? sejak kapan seseorang sepertiku menjadi malu?” geram Alexander mengintip Kiara yang berjalan kearahnya.


“Cara jalannya sangat kaku, apakah dia masih kesakitan, tadi malam memang terlalu gila,” ucapnya lagi sembari menelan salivanya, jika mengingat kejadian tadi malam.


Rasanya kejadian tadi malam seolah tidak nyata, Alexander juga kehilangan kendali dirinya, dan hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.


"Ehem!"


Alexander mencoba bersikap biasa, dia tidak ingin menunjukkan jika sebenarnya dia juga merasa malu di hadapan Kiara.


"Kalian boleh pergi, aku ingin berbicara berdua dengan gadis nakal yang tidak bisa diatur ini!" perintah Alexander pada seluruh pelayan yang ada di sekitarnya.


Alexander menutup surat kabar yang ada di tangannya, dan mengikuti perintah tuan mereka, para pelayan itu pun bergegas pergi dari tempat itu.


"Glek!"


Kiara sesaat lupa jika hidupnya sekarang bukanlah hanya miliknya seorang.


Dia terikat kontrak dengan Alexander Grey, dan kemarin dia baru saja melanggar kontrak yang artinya dia akan menerima hukuman.


"Kiara," panggil Alexander dengan matanya yang tajam seperti biasa.


"I ... Iya Tuan?" Kiara yang tadi duduk melonggar otomatis langsung duduk tegap dan sopan, dia tiba-tiba saja gugup, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Alexander untuknya lagi.


"Kenapa kau jauh sekali! cepat kemari!" ketus Alexander sekarang melipat tangan.


"Habislah aku, apakah dia akan melakukan hal seperti tadi malam? adegan panas yang membuat aku sangat lelah! tidaaakkkk!" batin Kiara lagi-lagi berteriak.


Isi kepalanya sudah penuh akan adegan nakal yang membuat nya merinding.


Tanpa memiliki pilihan lain, Kiara mendekat duduk di dekat Alexander Grey.


Melihat sikap Kiara yang seperti siput yang terpojok selalu saja menghibur Alexander.

__ADS_1


Lalu tanpa aba-aba ....


Alexander menarik tangan Kiara, lalu membuatnya duduk di pangkuannya.


"Sayang, kau masih terlalu jauh, begini baru yang namanya dekat," Alexander berbisik sembari menyeringai.


Wajah nakal super menyebalkan itu terlihat lagi oleh Kiara.


Rasanya wajah super menyeramkan dan dingin tadi malam lenyap tak tersisa.


'Seram, sangat menyeramkan! apakah dia lupa kejadian tadi malam? kenapa dia bisa berubah secepat ini?!' benak Kiara kebingungan dengan sikap Alexander Grey yang selalu saja berubah-ubah.


"Apa hukuman ku? katakan saja, aku tahu aku salah dan melanggar kontrak, jadi cepat lah katakan," Kiara menunduk, dia langsung to the point.


Dia tahu Alexander bukan seorang yang mudah memaafkan, apalagi kesalahan nya sangat fatal, jadi hukuman yang akan ia terima pasti juga akan sangat berat.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Mendengar kata hukuman membuat jantung Alexander hampir meledak, jantungnya berdegup sangat cepat, wajahnya menjadi sangat merah.


"Hu ... hukuman?" serunya pelan sembari menelan salivanya.


'Apa dia mau hukuman seperti tadi malam? diikat dan menghabiskan malam dengan berolahraga panas? apakah dia suka gaya seperti itu? duh, nakal sekali!' Alexander berbicara dalam dirinya sembari membayangkan hal nakal.


Yah, bagaimanapun isi kepala Alexander jika menyangkut Kiara tidak akan jauh dari adegan seperti itu.


Berbeda dengan bayangan super gila Alexander, di dalam bayangan Kiara, dia akan menerima hukuman mengerikan.


Seperti dicambuk atau disiksa, dibuang ke hutan atau laut, tentunya adegan mengerikan yang ia pernah tonton di televisi.


Kedua orang yang menyebut kata yang sama, yaitu hukuman, tetapi imajinasi mereka berdua sangat berlawanan arah.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentar membangun nya ya, aku tahu masih banyak kekurangan, maafkan author untuk hal itu ya.

__ADS_1


Jangan lupa masukin favorit juga, biar author makin semangat update nya.


__ADS_2