Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
S2. Episode 187 : Menikahlah denganku.


__ADS_3

S2. Episode 187 : Menikahlah denganku.


***


Alexander mengecup tangan istrinya sembari menatap intens kearah Kiara, menunjukkan kesungguhan hati.


Setelah Kiara tahu isi hati suaminya, Kiara kemudian tersenyum, dia mengusap pipi suaminya dengan jemari mungilnya.


"Terimakasih Alexander, sungguh ... aku tidak mengatakan ini dengan benar sebelumnya, tetapi sejak awal kau juga adalah rumah untukku, terimakasih sudah meraih tanganku saat lalu dan membawaku ke tempat mu ..." Kiara menggenggam tangan suaminya.


Mengatakan yang sebenarnya, jika dia sesungguhnya telah bersyukur saat Alexander datang menggenggam tangannya, membelanya di hadapan banyak orang dan membawanya pulang.


Alexander menatap dengan jahil saat mendengar itu, dia kemudian mencubit pelan pipi istrinya.


Membuat Kiara kebingungan, mata bulatnya berkedip-kedip lalu menatap aneh kearah suaminya.


"Kenapa mencubit aku? padahal barusan aku sedang serius ..." keluh Kiara memanyunkan bibirnya, lalu menatap dengan kesal kearah suaminya.


"Panggil aku sayang, kenapa memanggil aku dengan nama? kau mau aku menghukum mu malam ini?"


Alexander sudah usai memasangkan cincin di jari istrinya kembali bangkit, dia mengambil kursi yang tersedia dan duduk di sisi Kiara.


Tanpa aba-aba Alex meraih tangan istrinya dan menuntunnya untuk duduk di pangkuannya.


Tentu Kiara kembali panik, lelaki ini suka sekali membuatnya duduk di pangkuannya.


"Ke ... kenapa ...." belum selesai Kiara melanjutkan ucapannya, Alexander langsung mengusap bibir istrinya meminta untuk diam.


"Sssttt ... kedepannya aku akan sangat sibuk, jadi aku harus berdekatan dan bersentuhan dengan mu sebanyak mungkin, jangan komplain!"

__ADS_1


Ketus Alexander semakin mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.


***


Disaat yang sama di sebuah restoran yang berbeda,


"Ehem ... aku ..." Layla sedikit gugup, pipinya merah sekali dan dia tidak bisa menyembunyikan bahasa tubuhnya yang canggung.


Arka yang melihat itu tersenyum lalu dia menatap Layla dengan lembut.


"Ay, maaf ya, aku membuat mu menjadi tidak nyaman, aku mungkin terlalu egois menyatakan perasaanku ku disaat kau belum siap,"


"Tidak apa kok jika kau menolak aku, aku sepertinya terlalu memaksakan perasaan ku kepadamu, aku tidak ingin kau merasa canggung dan tidak enak hati,"


"Perasaanku padamu adalah urusanku, jika kau tidak menerima ku maka aku tidak akan memaksa ..." Arka tersenyum lembut.


Sama seperti sikapnya yang biasa, lembut dan penuh pengertian, dia memiliki sikap yang sangat berbeda dengan adiknya, Alexander.


Entah mengapa Layla yang mendengar itu merasakan rasa nyeri di dadanya.


Dia jadi mengingat dirinya sendiri yang selalu pasrah dan tulus kepada Alex, sekarang dia tahu jika Arka merasakan hal yang sama.


Pasti Arka juga pura-pura tersenyum seperti dia dulu, pura-pura jika segalanya baik-baik saja.


Layla yang merasa bersalah, juga hatinya memang sangat baik meraih tangan Arka dan menggenggamnya.


Layla menundukkan kepala dan pipinya semakin merah.


"Tidak ... aku bukannya tidak nyaman, hanya saja semuanya sangat terburu-buru untukku, aku juga terlalu malu karena malam itu ... ummm, malam itu ... aku tidak ingat apapun, tapi pasti ada yang terjadi diantara kita ..."

__ADS_1


"Aku hanya butuh waktu, jadi ... tolong jangan menyerah terhadap ku seperti yang lain, tunggu aku sampai aku benar-benar siap menerima mu,"


Layla berbicara dengan suara yang bergetar.


Dia tahu lelaki ini sejak ia kecil, lelaki ini sangat baik, dan Layla tidak tega menghancurkan hatinya.


Benar, Layla memang tidak mencinta Arka, sebab hatinya hanyalah untuk Alexander seorang.


Akan tetapi, manusia bisa berubah begitu pula hati, waktu yang berputar akan menjawab segalanya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Arka berdegup sangat kencang, dia menatap kearah tangan mungil Layla yang menggenggam tangannya dengan gemetaran.


"Aku ... aku benar-benar tulus menyayangi mu, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, karena itu ..."


"Ayo kita menikah, kita mulai semua dari tali pernikahan!"


Arka sangat tegas mengatakan hal itu, wajahnya yang tampan dan mirip seperti adiknya, Alexander, hanya saja karakter wajah Arka terlihat lebih lembut ketimbang Alexander.


"Duar!"


Sedangkan Layla yang mendengar permintaan Arka ini membisu dan membeku.


Seperti ada petir yang menyambar, dan seluruh tubuhnya seperti dialiri aliran listrik.


Arka benar-benar polos sekali, dia langsung menyatakan keinginannya tanpa basa-basi, akan tetapi itulah yang membuat dia menarik dan hangat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2