Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Aku tidak marah.


__ADS_3

Episode 168 : Aku tidak marah.


***


Di rumah sakit,


Kiara sudah tertunduk malu, dia juga takut disaat yang bersamaan, wanita seperti dirinya mana mungkin mendapatkan restu dari ibu Alexander.


Apalagi dia hanyalah wanita sebatang kara yang baru saja dibuang oleh keluarga angkatnya.


Di seluruh dunia ini, hanya ada dua orang yang menerima Kiara apa adanya tanpa meminta atau mengharap timbal balik


Bian, lelaki yang sepertinya telah terkubur dengan sendirinya akibat keadaan yang tidak mendukung.


Dan satu lagi, Alexander, lelaki arogan dan berkuasa yang menuntut hak atas dirinya namun disaat yang bersamaan melindunginya dengan caranya yang sangat posesif.


Selain itu, Kiara benar-benar tak memiliki seseorang yang memang sungguh menyayangi nya.


Dahlia sekarang sudah melangkah mendekat, dia duduk di kursi yang ada di sisi ranjang pasien Kiara.


Dengan ketakutan dan rasa bersalah yang teramat besar, Kiara memegangi perutnya yang masih rata.


Dia memang baru saja mengetahui jika dia sedang hamil, dan walau batin dan dirinya sendiri belum siap dengan fakta ini, akan tetapi dia tidak akan mau menghilangkan bayi di dalam perutnya.


Ya, dalam pikiran Kiara sekarang sudah seperti sinetron atau novel, Kiara merasa jika Dahlia pasti menyuruh dirinya menggugurkan kandungan lalu menyuruhnya pergi dengan cara memberikan uang yang sangat banyak.


Jika di pikirkan secara logika sebenarnya pantas jika Dahlia meminta hal itu, sebab Kiara hanyalah seorang wanita yang tidak memiliki kedudukan juga disaat yang bersamaan, Alexander telah memiliki tunangan yang sah.


"Nyo ... Nyonya ... sa ... saya mau meminta maaf terlebih dahulu, saya tahu saya salah dan saya tidak tahu diri sampai bisa hamil tanpa pernikahan dengan putra anda,"

__ADS_1


"Saya tahu saya tidak pantas meminta maaf tetapi saya ... saya tidak ingin bayi ini digugurkan,"


Kiara dengan segala kerendahan hati, dengan suara bergetar hebat dan menundukkan kepalanya serendah mungkin.


Kiara mengenal dirinya sendiri, tahu posisinya, jadi dia selalu saja menjadi orang pertama yang akan meminta maaf dan menundukkan kepalanya.


Bukan karena Kiara bodoh, akan tetapi sikap seperti itu sangat dibutuhkan oleh orang tak memiliki apapun, mungkin terdengar kejam tetapi dunia memang bekerja dengan cara yang kejam dan tidak adil.


Dan Kiara, di usia yang begitu muda, sudah mengerti akan hal itu.


Dahlia yang terkejut sekali mendengar ucapan wanita yang sudah pernah ia jumpai di hari ulangtahun suaminya merasa hatinya sangat sakit.


Wanita muda yang seharusnya tidak mengalami segala hal yang menyakitkan, hanya dari nada suaranya saja Dahlia sudah tahu jika wanita yang mengandung bayi putranya adalah wanita polos yang sepertinya terpaksa terjerumus dengan putranya yang arogan itu.


"Kenapa kau menundukkan kepalamu dan meminta maaf?"


Dahlia bertanya dengan hati-hati namun nadanya sedikit tegas, Dahlia ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Kiara.


"Ma ... Maafkan saya Nyonya, tetapi saya sudah terbiasa hidup seperti ini, saya harus meminta maaf terlebih dahulu agar setidaknya saya terhindar dari amarah, saya juga sadar saya salah besar, jadi sudah sewajarnya saya meminta maaf ...."


Kiara yang terbiasa mengalah, besar dengan kebiasaan meminta maaf dan mementingkan kepentingan orang lain.


Akhirnya Dahlia menyadari, mengapa Layla tidak bisa membenci wanita muda ini walau Kiara telah merebut putranya darinya.


Sikap gadis muda ini terlalu baik dan dewasa sebelum waktunya, siapapun yang melihat Kiara dan menyadari sikap terlalu baiknya pastilah tidak akan mampu membencinya.


"Angkat wajahmu ...." Dahlia meminta Kiara agar segera mengangkat wajahnya.


Walau bingung, Kiara menuruti, bagi Kiara pasti ia akan diberikan tamparan, karena telah lantang meminta maaf atas segala kesalahannya.

__ADS_1


"Deg!"


Saat Dahlia melihat wajah Kiara, rasa sakit di dadanya kembali lagi, Dahlia sudah melihat wajah Kiara saat di perayaan ulang tahun suaminya, saat itu Dahlia bisa melihat jika Kiara bukanlah wanita jahat.


Sama seperti sekarang, wajah polos dan tulus, mata bulat dan senyuman penuh ketakutan.


Kiara masih saja merasa dia melakukan kesalahan karena mengandung anak dari putranya.


"Terimakasih ..." Dahlia mengatakan kata terimakasih dengan sangat lembut sembari menitikkan air mata.


Tentu saja, Kiara yang merasa dia akan menerima tamparan langsung syok.


Dahlia kemudian tersenyum sangat lembut, "Terimakasih karena wanita seperti mu adalah wanita pilihan putraku, tenang saja ... aku tidak marah, malah aku senang, artinya dengan kehadiran cucu mungkin hati suamiku akan melembek,"


Firasat nya sebagai seorang ibu tidak akan pernah meleset, wanita ini pasti akan membawa kedamaian di dalam keluarga nya.


Apalagi permusuhan antara suami dan putranya, entah mengapa Dahlia yakin jika Kiara pasti bisa membuat keduanya damai.


"Ini adalah kesempatan langka ...." Dahlia segera meraih tangan Kiara yang masih kebingungan.


"Aku akan mengurus sisanya, mengenai Layla sebenarnya dia adalah wanita yang sangat baik tetapi karena kehamilan mu, maka dia harus menikah dengan Arka, aku akan mengurus segalanya, aku hanya memiliki satu permintaan,"


"Tolong yakinkan Alex agar segera pulang,"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2