Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Kau tukang selingkuh!


__ADS_3

Episode 87 : Kau tukang selingkuh!


***


Masih di kafe X,


Layla bisa melihat pandangan mata Alexander, ada sesuatu yang aneh, tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, cara Alexander memandang dan melihat gerak-gerik Kiara, tatapan itu terlalu dalam dan aneh, rasanya sangat sakit melihat bagaimana orang yang ia cintai melihat wanita lain dengan tatapan itu.


Tubuhnya menjadi bergetar hebat, dia hampir tidak bisa berdiri dengan tegap, dia harus pergi dengan cepat sebelum dia tidak bisa menutupi rasa sakitnya, sebelum dia terjatuh dan menjadi pusat perhatian orang banyak.


“A … Alexander, aku sudah memberikan apa yang ingin aku berikan, aku akan pergi sebentar, ingatlah jika aku akan tetap menunggumu, jangan lupakan jika aku akan tetap mencintaimu,” Layla yang sudah berkeringat dingin, dengan cepat meninggalkan Alexander, dia harus segera pergi untuk menutupi rasa sakit dan lukanya.


Saat melangkah menjauhi Alexander, Layla merasakan banyak kekhawatiran, dia merasa sepanjang waktu perlahan Alexander melangkah menjauhinya dan perasaannya mulai memudar, rasanya seperti Alexander memang tidaklah mencintainya.


“Tidak mungkin, aku yakin masih ada aku di hatinya,” seru Layla meyakinkan dirinya dan menepis segala kemungkinan yang buruk yang sedang ada di kepalanya.


Alexander yang merasa kesal dan tidak suka saat anak laki-laki yang sok keren dihadapan Kiara mengirimkan pesan setelah Layla pergi kepada Kiara.


Dia tidak tahan hanya melihat anak laki-laki itu dekat dan berbicara dengan Kiara, rasanya dia ingin menghanguskan tempat ini saat anak laki-laki itu dengan percaya dirinya mendominasi Kiara.


Bagi Alexander, satu-satunya orang yang bisa mendominasi Kiara adalah dirinya, tidak boleh ada satu orangpun yang bisa kecuali dia.


***


Setelah mengirimkan pesan, Alexander berjalan dengan lantang menuju mobilnya, disana supir pribadinya sudah menunggu tetapi dia suruh keluar sebentar karena dia akan berbicara dengan serius dengan Kiara kali ini.


Kiara yang sudah mendapatkan pesan itu mulai berjalan menuju mobil Alexander, dia sedikit takut namun rasanya dia merasa dia tidak melakukan kesalahan apapun, jadi tidak ada alasan bagi Alexander untuk memarahinya.

__ADS_1


Disamping itu Alexander juga bertemu dengan wanita yang ia sukai, untuk apa Alexander marah hanya karena dia bersama teman-teman kuliahnya?


Itulah apa yang ada di kepala Kiara sekarang sembari melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam mobil Alexander.


“Glek!”


Kiara menelan salivanya gugup sebelum akhirnya masuk kedalam mobil itu.


“Kau tidak melakukan kesalahan Kiara, untuk apa kau takut! Kuatkan dirimu, dasar penakut, aih!” seru Kiara pelan sembari mengepal kedua tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.


“Cklek!”


Hanya beberapa detik setelah ia membuka pintu mobil Alexander, tangannya sudah ditarik oleh Alexander sampai ia terjerembab masuk dan langsung terbaring.


“Srek!”


Alexander menarik Kiara sampai ia terjatuh ke pangkuan Alexander,


Juga baru saja Alexander bertemu wanita lain, untuk apa Alexander menariknya ke pangkuannya lagi.


“Diam lah! Kau tukang selingkuh!” geram Alexander mengambil sapu tangan dan mengusap telapak tangan Kiara dengan keras dan penuh tekanan.


“Cecunguk yang sok keren itu tadi memegang tanganmu kan?"


"Kotor! Aku harus membersihkannya, beraninya dia! Aku akan mencari tahu siapa dia! Keluarganya dan memberinya pelajaran!"


"Beraninya dia berjalan kearah mu dan sok keren seperti tadi!"

__ADS_1


"Sialan! Hanya memikirkannya saja sudah membuatku ingin menghancurkan tempat ini!” geram Alexander masih mengusap telapak tangan Kiara penuh obsesi dan tekanan.


Mendengar itu Kiara heran bagaimana Alexander bersosialisasi dengan sikapnya yang sangat pemarah dan penuntut begini.


“Jadi, kau akan mencari tahu seluruh informasi mengenai Alan dan menghancurkannya begitu? Hanya karena dia memegang tanganku secara tidak sengaja?”


Kiara sudah menyerah, dia juga sudah pasrah dalam posisi tengkurap di pangkuan Alexander dan membiarkan tangannya diusap oleh Alexander.


“IYA! KENAPA? Kau keberatan?” Dengan intensitas tinggi dan tekanan juga mata yang tajam Alexander menjawab Kiara.


Jika saja Kiara menjawab iya maka Alexander akan benar-benar menghancurkan keluarga Alan.


“Ahh,” Kiara menghela nafasnya panjang.


“Dia itu hanyalah teman satu kampus ku, kami kebetulan satu kelompok dan harus mengerjakan proyek untuk presentasi awal bulan ini, karena itulah kami bersama."


"Juga aku tidaklah terlalu cantik atau menarik untuk menjadi seseorang yang dia sukai, dia itu hanya membantuku mengambil berkas yang aku jatuhkan tadi, jadi ….”


Belum sempat Kiara menjelaskan hubungannya dengan Alan secara panjang lebar, Alexander langsung memotong pembicaraan Kiara ….


“Kau cantik, kata siapa kau tidak cantik? Menurutmu kenapa aku menjadikanmu teman ranjang ku jika kau tidak cantik? Oh, atau kau sedang melindungi dia? begitu?” sekarang Alexander benar-benar marah seperti seorang singa yang marah karena makanannya direbut oleh orang lain.


Rasanya Alexander begitu aneh, kenapa bisa begitu marah hanya karena melihat anak laki-laki satu kampus Kiara membantu Kiara mengambil berkas yang dijatuhkan oleh Kiara.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2