Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Keputusan Kiara.


__ADS_3

Episode 155 : Keputusan Kiara.


***


Alexander yang menerima panggilan Layla hendak menjawab panggilan itu, Alexander merasa Layla sudah tahu jika dia tidak akan bisa melepaskan Kiara.


Dan oleh karena Layla sudah tahu baiknya dia memberitahukan yang sesungguhnya secara personal sekarang melalui panggilan itu.


“Halo?” sahut Alexander sekarang sudah ada di balkon kamar sedang menjawab panggilan Layla.


Layla yang sudah mabuk itu menangis dengan kuat.


“Kenapa kau jahat sekali kepadaku? Kenapa kau menghancurkan hatiku? Aku selalu menunggumu, setia kepadamu, kenapa kau melakukan ini padaku?”


Layla berteriak, dia sudah tidak lagi menjadi Layla yang anggun itu, perasaan sakit hatinya telah membuatnya kehilangan akal dan pikirannya.


Saat Layla berteriak dan terdengar tidak dalam kondisi baik, Alex bisa mendengar suara-suara ricuh di sekitar Layla.


Sepertinya Layla tengah ada di tempat yang ramai sekarang.


“Layla, ada dimana kau sekarang? Kenapa banyak suara disitu? Jangan bilang kau sedang mabuk?”


Alexander memicingkan matanya, belum pernah Layla berperilaku seperti ini, apalagi mabuk mabukan.


“Heh, kau pura-pura peduli padaku, padahal kau hanya menggunakan aku untuk melindungi orang yang kau cintai itu!"


"Alexander, apa pernah di hatimu kau menganggap aku? Ha?"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hatiku sakit sekali, bagaimana ini?” Layla semakin menangis, sembari menepuk-nepuk dadanya, dia ingin rasa perihnya sedikit hilang.


Hatinya yang lembut namun rapuh, sekarang telah hancur dan tidak mudah untuk diobati lagi.

__ADS_1


“Alexander, jika aku mati saja saat itu dan tidak melakukan pengobatanku mungkin aku tidak akan merasa sakit seperti ini kan? Aku berjuang untukmu tetapi kau memilih yang lain, kenapa kau menghancurkan aku? Kenapa?” Layla melempar ponselnya dan dia duduk di tengah keramaian sembari berteriak menangis.


Orang-orang yang ada di bar melihati dirinya, tetapi Layla tidak peduli, yang bisa ia lakukan hanyalah meneguk lebih banyak minuman dan berteriak sekuat yang ia bisa.


“Layla!"


"Halo?”


Alexander berteriak sedikit panik, apalagi saat panggilan itu putus.


Saat Layla berteriak semakin kencang dan tangisannya menjadi lebih kuat, entah kenapa Alex khawatir, sesuatu yang buruk terjadi kepada Layla.


Layla itu wanita yang baik dan lembut, jika ada orang lain di tempat itu memanfaatkan Layla maka utusannya akan menjadi besar nanti.


Tentu saja Alexander Grey tetap khawatir, mau bagaimana pun Layla adalah bagian dari kehidupannya sejak kecil.


Cinta adalah pembahasan yang lain, walaupun selama ini Alexander menyalah artikan perasaannya menjadi perasaan cinta kepada Layla, namun tetap saja dia menyayangi layla, jika bukan cinta maka menyayangi sebagai sahabat atau saudara.


Kiara yang bisa mendengar panggilan antara Alexander dan Layla hanya bisa terdiam, melihat wajah lelaki yang baru saja menghangatkan hatinya terlihat sangat khawatir dan kalang kabut hendak pergi menjemput tunangannya.


“Sayang, aku ada urusan, kau tunggu disini ya,” seru Alexander Grey dengan buru-buru mengambil jaketnya dan pergi ke luar.


Kiara yang mendengar itu hanya diam saja, saat itulah Kiara akhirnya tahu jika mungkin jauh di dalam hatinya, sepertinya dia telah membutuhkan kasih sayang lelaki ini lebih dari siapapun.


Hal yang ditakutkan oleh Kiara adalah dia tanpa sadar telah berharap besar kepada lelaki itu.


Sikap Alexander yang selama ini memaksa namun menerima Kiara tanpa syarat, mungkin telah menggerakkan hati Kiara dari yang paling dalam.


Jadi saat Alexander pergi dengan cepat meninggalkan dirinya demi wanita lain ada perasaan sakit yang begitu menyelekit di hatinya sekarang.


Dia sampai mengusap dadanya karena rasa perih yang ditimbulkan.

__ADS_1


Saat pundak Alexander yang selalu ada di dekatnya semakin menjauh, rasa sakitnya semakin besar.


“Beginilah nanti saatnya dia akan meninggalkan aku juga kan? ucapan manisnya tidak akan bertahan lama bukan? Kenapa hatiku sakit sekali? Sejak kapan aku berhak merasakan sakit untuk lelaki yang bukan milikku!”


“Sampai kapan harapan yang besar ini terus menyakitiku, aku ingin bebas tetapi hatiku tidak mau menurut, apa yang harus aku lakukan?”


Kiara duduk di depan pintu, dimana Alexander sudah pergi, dia tidak tahu akan sesakit ini, harapan yang dijanjikan Alexander padanya menjatuhkannya sampai ke dasar.


Hanya melihat Alexander pergi ke tunangannya saja sudah membuat Kiara terluka sekali.


Mungkin Kiara memang harus melakukan sesuatu, dia memang sudah egois mengakui rasa sukanya di hadapan tunangan Alexander.


Dan walau Alex mengatakan tidak akan menikahi Layla akan tetapi ucapan Alex belum bisa dipegang sepenuhnya.


***


Saat Kiara duduk di depan pintu dan merasakan sakit hati yang berlebihan, dia sudah membuat sebuah pilihan.


Dia akan memberikan kesempatan kepada Alex beberapa saat untuk membuktikan ucapannya yang katanya akan mulai serius dengan hubungan mereka.


Akan tetapi jika Kiara tidak melihat sebuah perubahan, dan jika karena dirinya Layla akan semakin terluka maka mungkin dia harus benar-benar pergi dan menghilang.


Mungkin akan sulit jika dia mau melarikan diri dan menghilang akan tetapi dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.


Dia bersama Alex tanpa hubungan yang jelas, disaat yang sama Alex juga memiliki tunangan.


Rasa suka Kiara yang semakin besar kepada Alex benar-benar membuatnya takut, Kiara takut akan lebih terluka dan tidak akan pernah bisa sembuh dari luka ini.


"Mungkin aku harus berdiri dengan kedua kakiku saja, aku akan lihat sebentar lagi ...." Kiara berbicara pelan, dia meringkuk di depan pintu.


Hati nuraninya sebagai seorang wanita sungguh tidak tega melihat Layla.

__ADS_1


__ADS_2