Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
S2. Episode 219 : Goran menjebak Alexander.


__ADS_3

S2. Episode 219 : Goran menjebak Alexander.


***


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Alex berdegup sangat kencang, dan amarah di dalam wajahnya tak lagi terbendung.


Ketika ia mendengar bagaimana Goran bisa berbicara begitu santai, ketika banyak nyawa yang sudah ia korbankan demi kepentingan gila nya.


"Kalian berdua, apakah kalian pikir aku orang bodoh?"


Suara Goran mengejutkan Alexander, juga Din dan Sin yang ada di ruangan itu bersama Goran.


Mata Fin dan Sin melebar dan menjadi siaga, baik Fin dan Sin sudah memasukkan tangan mereka ke dalam jas untuk mengambil senjata kalau kalau mereka akan di serang..


"Aku tahu kau pasti anggota dari cucunya si Grey kan? untuk memata-matai aku dari dekat, dan dengan berani mengirim kalian ke sisiku!"


"Aku akui, siapapun yang memalsukan data kalian, dia sangat hebat karena bisa mengelabui semua tim ku!"


"Tetapi mataku tidak akan pernah salah!"


Goran langsung menunjukkan wajah serius nya, dia bersandar di kursi kebesarannya dan melihat Fin dan Sin dengan tatapan yang meremehkan.


*Goran menggunakan kode tangan*


Ketika kode tangan itu di keluarkan, langsung banyak titik mereka di sekujur tubuh Fin dan Sin, juga ada beberapa orang yang sudah menjaga di semua pintu dengan persenjataan lengkapnya.


"Kalian pasti sudah tahu kan? salah gerak sedikit, nyawa kalian akan habis!" geram Goran sebenarnya menjebak Alexander dalam hal ini.


Goran tahu trik kecil ini, menghancurkan Goerge Serge dan memasukkan anggota nya menggantikan George Serge.


Lalu setelah itu memata-matai anggota Dawn dan menghabisinya ketika waktu nya tepat.


Tetapi Goran bukan orang yang bodoh yang bisa dibodohi, dia memang sengaja mengundurkan Fin dan Sin ke pertemuan besar ini agar Alexander tahu sekecil apa Alexander dibandingkan dirinya.


Prediksi Goran sebenarnya tidaklah salah sama sekali, trik itu memang yang sedang dilancarkan oleh Alexander.


Hanya saja Goran tidak waspada dengan kemungkinan lain, ialah Nelson Dutch yang sudah tahu seluk beluk perkumpulan itu, jadi Alexander tak perlu harus turun tangan dan menghabiskan waktu untuk menyelidiki lebih dalam.


Goran awalnya memang merasa menjebak namun sebentar lagi, dia lah yang akan terjebak.


***


*Cklek*


Terdengar suara senjata yang hendak ditembakkan ketika Sin sudah mulai merogoh sesuatu dari kantungnya.

__ADS_1


"Wooo ... tunggu dulu, sabarlah anak muda!"


"Aku tahu kalian tidak membawa siapapun kesini, karena seluruh gedung ini sudah ditutup akses dan pemeriksaan sudah dari segala sudut!"


"Jadi apapun yang akan kalian lakukan percuma saja!"


"Kalian akan mati dalam waktu satu menit!"


"Sebelum itu aku ingin menyampaikan pesan kepada Bos mu yang terhubung dari alat kecil kalian!"


Goran berbicara santai, dia bahkan duduk sembari mengangkat kakinya ke atas meja.


Dimana seluruh anggota nya sedang terdiam melihat situasi yang belum mereka mengerti.


"Hei ... kau pasti cucunya Galilea Grey kan? melihat mu berusaha keras seperti ini membuat ku mengingat Kakek mu, dia juga selalu berusaha keras dalam semua hal yang ingin ia lakukan!"


"Tapi sayang sekali, kau mengusik aku ... kau bodoh sekali karena mengira akan berhasil menjebak aku! aku tahu semua rencana kecilmu."


"Aku sudah hidup begitu lama, dan sudah banyak musuh dan kawan yang aku habisi, termasuk Kakek mu!"


"Sebagai pembalasan kau menghabisi salah satu anggota ku, maka jangan marah ketika mereka berdua akan mati disini saat ini juga!"


Seru Goran berbicara bukan kepada Fin dan Sin melainkan kepada Alexander yang memang benar sedang terhubung kepada Fin dan Sin.


"Tuan, jika mereka akan dieksekusi, haruskah kami ada disini?"


Salah satu anggota Dawn mencoba menginterupsi.


Jika memang Fin dan Sin akan dihabisi, apakah mereka harus berada di ruangan yang sama.


"Jadi kalian ingin pergi dari ruangan ini? sayang sekali kalian akan melewatkan tontonan yang menarik!"


"Tetapi, kalian memang tidaklah bertugas dalam hal pertumpahan darah jadi tidak masalah kalian ke ruangan yang lain ..."


"Tunggu aku lima menit lagi, karena aku ingin menonton saat darah mereka habis dan nafas mereka tersengal-sengal ketika peluru menembus tubuh mereka!"


Goran tetap berbicara santai, dengan kaki masih berada di atas meja.


Dia menonton Fin dan Sin yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh, namun entah mengapa Sin dan Fin belum bergerak sama sekali.


Bukan karena mereka memiliki untuk tidak bergerak, akan tetapi mereka masih harus menunggu aba-aba dari sang bos.


"Baik Tuan ..." seru para anggota Dawn segera pergi menuju ruangan yang lain yang ada di gedung ini.


Meninggalkan Goran dengan kegilaannya yang hendak melihat Fin dan Sin mati.


"Kalian berdua apakah ada pesan terakhir untuk Bos kalian itu?"

__ADS_1


"Apakah kalian tidak ingin menangis tersedu-sedu dan mengadu,"


"Ayolah, memohon ampun lah ... aku ingin lihat tangisan kalian!" ucap Goran lagi sekarang berpangku tangan.


Lelaki tua yang sering menyuarakan suara hari rakyat di televisi itu sedang tersenyum mengerikan sembari berpangku tangan, meminta Fin dan Sin untuk memohon ampun dan merengek demi nyawa mereka.


Sungguh penampilan seseorang tak akan bisa menggambarkan siapa orang itu sebenarnya.


Seperti Goran yang terlihat biasa saja malahan terlihat bersahaja dan tak mungkin melakukan kejahatan.


Sekarang malah tak sabar ingin melihat darah Fin dan Sin tercecer di lantai itu.


"Apakah kau mengatakan ini juga kepada ayah kami ketika mereka berdemo untuk tidak menghancurkan desa kami?"


"Apakah ketika kau ingin membunuhnya, kau juga meminta ayah kamu merengek dan menangis memohon ampun untuk nyawa nya?"


"Apakah benar begitu?"


Fin yang biasanya lebih bisa mengontrol emosinya berbicara dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Ketika mendengar Goran mengatakan itu, yang ada di kepala Fin sekarang hanyalah ayah mereka yang ada di desa dulu.


Yang demo untuk memperjuangkan rumah mereka, namun dibunuh dan desa mereka dibakar dengan sadis.


Gambaran di kepala Fin sudah menggila, bagaimanapun Goran pasti melakukan hal yang sama kepada ayah mereka.


"Hmmm? ayahmu? desa?"


"Sangat aneh, banyak desa yang sudah aku hilangkan, aku tidak ingat mereka semua yang menangis memohon ampun untuk nyawa mereka ..." balas Goran santai sekali.


Seolah dia sedang tidak membahas nyawa manusia sekarang ini.


.


.


.


.


Author : Jangan lupa dukung karya ini dengan cara berikan like nya, btw maafkan ya jika banyak hal yang mengerikan di novel ini.


Ini semua hanyalah hasil imajinasi saja, tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan, jadi jangan dibawa terlalu serius ya.


Jangan lupa jika ini hanyalah halu semata. 🤍


Btw masih ada satu episode lagi nyusul ya sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2