Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Apakah kau merindukan ku?


__ADS_3

Episode 129 : Apakah kau merindukan ku?


***


Cemburu? Marah? Kecewa? Sakit hati? Semua perasaan yang terpendam itu kembali mencuat, tangannya gemetaran sesaat, dia merasa mata lembut itu tadinya hanya miliknya tetapi sekarang pemilik aslinya yaitu tunangannya telah mengambil alih kembali posisinya.


Ya, Kiara melihat Alexander Grey dan layla duduk di dekat meja yang dipesankan Alan untuk mereka, sepertinya kondisi Layla sudah membaik, dia kelihatan sangat cantik saat makan malam dengan Alexander Grey sekarang.


“Kiara? Ada apa?”


Alan memanggil Kiara yang tiba-tiba berhenti dan terdiam, tangan Alan tetap menggenggam tangan Kiara, mencoba menyadarkan Kiara dari lamunannya itu.


Kiara yang sedang menahan tangisnya melihat ke arah Alan dan tersenyum paksa, dia mengikuti langkah Alan yang menariknya pelan, tidak berani matanya melihat ke sisi sebelah tempat dimana Alexander Grey dan layla berada.


Suara Alan yang tidak terlalu kuat tetap terdengar di ruangan, bahkan para pelayan restoran bisa mendengar, gedung itu memang menimbulkan suara yang menggema, jadi Alexander Grey dan Layla langsung bisa mendengar nama itu.


Tangan Layla segera bergetar saat mendengar nama itu, dia segera melihat ke arah Alexander Grey, dia menjadi takut jika keberadaan Kiara akan menggoyahkan Alexander Grey, lelaki yang sangat ia cintai ini.


Tetapi saat Layla memeriksa kearah Alexander, Layla menjadi sedikit tenang, Alexander bahkan tidak bergeming sedikitpun, itu membuat Layla tenang dan percaya jika Kiara memang benar-benar hanya pengganti sama seperti wanita wanita mainan Alexander yang lain, dia lah yang sebenarnya ada di hati Alexander Grey, dan ini adalah buktinya.


***


Di sisi Alan dan Kiara,


Kiara yang sudah memantapkan hatinya untuk pura-pura tidak mengenali Alexander Grey sudah duduk di hadapan Alan, Alan merasa bangga dan bahagia, bunga yang ia persiapkan dibawa oleh pelayan dan diberikan kepada Kiara.


“Nih, bunga, walau tidak secantik kamu tetapi tetap saja mereka indah dan pantas untuk aku berikan,” suara Alan yang selalu saja terdengar dalam membuat Kiara kembali fokus untuk tujuan utamanya, ialah untuk menemani Alan dan makan malam, agar Alan tidak terus mengganggunya.

__ADS_1


Mereka akhirnya makan bersama, saling tertawa karena candaan Alan yang sesuai selera Kiara. Kiara memang sudah tahu jika Alan yang digosipkan seorang bad boy ini adalah lelaki yang humoris, jika di sisi Alan maka Kiara akan merasa terhibur karena candaan ringannya.


“Kiara, sebentar ya, aku kesana dulu, ada yang mau aku ambil dan berikan untukmu, aku tidak ingin orang lain mememgangnya selain aku dan kau,” seru Alan hendak berdiri menuju ruangan belakang restoran, entah kejutan apa lagi yang disiapkan oleh Alan ini.


Kiara tersenyum lalu membiarkan Alan melakukan apa yang ia mau.


Tetapi saat Alan berdiri dan berlalu,


“Deg!”


Jantung Kiara seperti melompat dan dia menjadi tegang, mata Alexander Grey sedang melihatnya dengan lekat dan tajam sekali, Alexander Grey menatapnya dengan intens sembari meminum wine yang ada di gelasnya.


Kiara mencari-cari keberadaan Layla, padahal jelas-jelas tadi Layla ada di depan Alexander, karena waktu berlalu begitu saja apalagi Alan bercanda membuat Kiara tidak tahu jika Layla sepertinya sudah pergi duluan entah kemana.


“Glek!”


Kiara menelan salivanya, dia mencoba mengalihkan pandangannya kearah yang lain, entah apa yang ada dipikiran Alexander Grey sekarang, tetapi matanya sangat tajam dan menyeramkan.


Wajah tanpa riasan, pakaian sederhana, rambut yang diuraikan begitu saja, Kiara memang cantik sekali, sederhana dan membuat orang tertarik, bahkan diantara wanita wanita berkelas yang mengenakan pakaian mahal dan riasan kelas atas, Kiara tetap lebih menonjol dari mereka semua.


Tidak jarang jika banyak lelaki yang ada di restoran yang sama melirik kearah Kiara, tetapi diantara mereka semua, Alexander Grey lah yang paling intens dan memiliki aura menekan yang serasa mencekik Kiara.


Hanya beberap saat kemudian Alan datang membawa sebuah bingkisan, Kiara segera menggelengkan kepalanya dan mencoba tetap berfokus kepada Alan, dia tersenyum lalu mengikuti langkah Alan yang berjalan kearah nya.


“Nih, aku susah susah mencarinya untukmu, jangan dibuka sekarang ya, nanti saja saat dirumah,” seru Alan memberikan bingkisan itu dengan senyuman dan wajahnya yang memerah.


Kiara menerima bingkisan itu, melihat gelagat Alan yang tidak seperti biasanya membuat Kiara terkekeh ringan, dia merasa Alan sangat lucu dan imut, tidak seperti gosip yang menyatakan jika Alan adalah bad boy.

__ADS_1


Rasa ketidaknyamanan Kiara yang melihat Alexander menatap mereka berdua di tutup rapat oleh Kiara, semua perasaannya ia tutupi, dia memang sangat pintar dalam hal ini, dia bisa tersenyum bahkan saat hatinya hancur saat tadi.


Dia bahkan bisa merespon candaan saat dia merasakan nyeri dan sakit hati yang dalam saat melihat lelaki yang memberikan mimpi singkat itu dengan wanita lain yang sebenarnya adalah pemilik hati lelaki itu.


Waktu akhirnya berlalu, Kiara sedikit melirik ke tempat dimana Alexander Grey tadi duduk dan menatapnya, tetapi kursi itu kosong sekarang, “Dia pergi,” gumam Kiara entah kenapa air matanya menetes dengan tiba-tiba.


“Kenapa hatiku sakit sekali, aku tidak tahu diri, wanita sepertiku,” keluh Kiara entah mengapa hancur lagi, dia menangis dan membuat Alan kebingungan.


“Ada apa Kiara?” tanya Alan bingung, “Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?” tanya Alan lagi melihat Kiara tiba-tiba saja menangis saat ia tersenyum tadi.


Kiara menggelengkan kepalanya, “Ti … tidak, aku menangis karena mendapatkan hadiah, aku senang sekali,” seru Kiara sesenggukan namun tentu saja ia berbohong.


Kiara menangis karena harapan harapan kosong di hatinya, dia menangis karena hatinya yang tidak ia duga hancur begitu saja karena lelaki yang memberikan dia mimpi singkat.


Alan yang melihat Kiara menangis hanya karena hadiah tertegun, dia merasakan jantungnya berdegup semakin cepat, 'Sial, dia imut sekali, terlalu imut, hanya karena hadiah kecil dia menangis, oh tidak, sepertinya aku semakin menyukainya,' benak Alan memalingkan wajahnya yang sudah memerah, namun ia akan bersabar sebentar lagi, dia ingin membuat Kiara spesial dan tidak akan terburu-buru.


Setelah Kiara berhenti menangis, mereka berdua memutuskan untuk pulang, apalagi besok Kiara tetap kekeh harus bekerja, jadi Alan mau tidak mau harus mengantar Kiara pulang.


Sesampainya di depan kontrakan yang bangunanya seperti apartemen itu, Alan pamit pulang sedangkan Kiara masuk kedalam kontrakannya.


Dia berjalan menuju unit tunggal yang ia sewa dengan harga mahasiswi, tetapi saat ia sampai di dekat pintu ruangannya, bingkisan yang tadi ia genggam jatuh dan dia hampir terjatuh melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapan pintu kontrakannya.


Sembari menyeringai dan matanya yang tajam dia tersenyum melihat Kiara yang sudah membeku melihat dirinya, “Hei, gadis penurut, apakah kau merindukan ku?” serunya pelan namun menekan, suara langkah kakinya menggema dan melangkah kearah Kiara.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2