
Episode 70 : Alexander Grey murka.
***
Di dalam rumah kosong ditepi pantai,
Kebahagiaan yang ada didalam angan-angan Kiara lenyap seperti mimpi buruk, dia kira dia bisa kabur bersama Bian Agler, sungguh harapan yabg naif dan sangat bodoh, dia tahu akan segera tertangkap tetapi tidaklah secepat ini.
Dia hanya ingin menikmati waktu sebentar lagi saja dengan Bian, tetapi ternyata orang-orang kuat yang berkuasa itu bisa mengejar mereka kemanapun mereka pergi.
“Aku ingin tahu siapa yang menyuruh kalian, setidaknya sebelum aku mati,” dengan suara yang gemetaran, dan takut Kiara tetap ingin tahu suruhan siapa yang ingin membunuhnya ini.
Tetapi semua orang itu hanya tertawa, seolah meledek pertanyaan Kiara.
Dengan tubuh yang gemetaran dan tidak bisa bergerak karena diikat, Kiara menangis dan semakin takut.
“Apakah kalian suruhan Alexander atau ayah Bian? Tolong jawab aku, aku harus tahu keselamatan Bian,” keluh Kiara masih mengeluarkan keberaniannya yang tersisa untuk mengetahui siapa yang menangkap mereka pertama kali.
Jika itu ayah Bian maka tidak apa, karena pasti Bian akan aman, tetapi jika itu Alexander, maka sudah bisa dipastikan keamanan Bian sedang tercancam.
“Gadis bodoh yang lugu, aku akan memberitahumu petunjuk agar arwahmu bisa mencari tahu sendiri, yang menyuruh kami bukan dari kedua orang itu,”
“Jadi … selamat tinggal, gadis muda yang malang,” seru lelaki menyeramkan itu hendak menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya.
Kiara langsung memejamkan matanya, tubuhnya yang bergetar hebat, dan rasa takut akan kematian langsung menghantuinya, tetapi ada sedikit rasa lega, jika bukan Alexander yang menangkapnya maka Bian masih aman.
Tetapi tetap saja dia takut mati, apalagi saat mendengar bunyi pistol yang hendak mengarah kepadanya itu.
Kiara hanya seorang gadis biasa, yang ingin meraih kebahagiannya bersama seseorang yang ia inginkan, tetapi kenyataannya hidup tidak seindah harapan.
Kebahagiaan yang ia kira sudah datang kepadanya ternyata dalam sekejap mata sudah menghilang, seolah ditelan kegelapan, Kiara memejamkan matanya dan dia ingin pasrah.
Dia tidak ingin menyesali apapun, dia tahu jika Bian masih tetap mencintai nya dan tidak mengkhianati nya, itu saja sudah cukup, walau hanya ada satu orang yang mencintainya maka itu sudah cukup.
'Inikah akhir dari kehidupan singkat ku yang menyedihkan, bodoh, di waktu terakhir seperti ini kenapa suaranya terngiang di kepalaku?' benak Kiara dengan air mata yang tetap menetes walau ia memejamkan matanya.
Tubuhnya sudah dingin dilahap ketakutan, jadi membuka matanya saja dia sudah tidak bernai.
__ADS_1
Dan anehnya, disaat terakhirnya, yang ia ingat hanyalah Alexander yang selalu memarahinya, menggenggam tangannya sesuka hatinya dan menariknya kesana kemari.
Suara menekan Alexander juga menggema di telinganya, seolah pertemuan singkat mereka memang sangat berbekas di hati Kiara.
“Buk!"
"Bak!"
"Buk!”
Terdengar suara keributan di sekelilingnya, hal itu membuat Kiara semakin takut, ketakutan yang melahapnya membuat adrenalinnya meningkat dan membuat jantungnya melemah, dia akhirnya pingsan karena terlalu takut sebelum sempat melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekelilingnya.
“Tuan, apakah Nona Kiara baik-baik saja?”
Pak Roy bertanya saat melihat Alexander sudah keluar dari rumah kosong itu menggendong Kiara yang sedang diikat tangan dan kakinya.
“Diam dan jangan bicara!” ketus Alexander masih dengan api amarah di matanya, seolah dia tetap tidak bisa memaafkan pengkhianatan Kiara padanya.
Untung saja di ponsel Kiara dipasang chip oleh Fin saat lalu, jadi Yuza bisa melacak keberadaan Kiara kemanapun ia pergi, jadi sebelum para bandit itu melakukan eksekusinya, Alexander sudah terlebih dahulu datang dan menghajar mereka seorang diri.
“Tring … Tring … Tring!”
“Yuza, untuk menebus kesalahanmu, kau harus menemukan siapa yang menjebak Kiara, semua bandit itu ada di lokasi terakhir aku menemukan Kiara, temukan dengan cepat dan berikan padaku infomasinya, oh ya para bandit itu, lenyapkan mereka!” ketus Alexander menghubungi Yuza.
Lalu sekarang matanya tertuju pada Kiara, dia memicing dan mengerenyitkan dahinya, dia marah sekali sampai ia hampir melempar Kiara keluar saja.
Dia bahkan mengepal tangannya dan memegang Kiara dengan sangat kasar dan kuat.
“Pengkhianat harus mendapatkan hukuman setimpal, kau mengkhianatiku jadi aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!” geram Alexander menatap sinis wajah Kiara yang sedang pingsan itu.
***
Setelah beberapa saat, malam akhirnya tiba, Kiara yang tidak sadarkan diri sudah bangun, saat ia membuka matanya, yang ia lihat adalah pemandangan familiar, karena ia sebenarnya bangun di kamar tidur Alexander Grey.
Kiara hendak bergegas bangkit, ketakutannya langsung mencekam dirinya, seolah lebih takut saat ditepi pantai tadi, jika Alexander Grey sudah berhasil menangkapnya maka habislah nyawanya.
“Aku harus kabur, aku harus cepat pergi,” keluh Kiara beberapa saat setelah sadar.
__ADS_1
Tetapi ia baru sadar jika kedua tangannya diikat dengan tumpuan tiang ranjang, dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.
“Ho? Kau sudah bangun? Sayang?” suara Alexander terdengar dari sisi kirinya, Kiara yang sudah ketakutan setengah mati bahkan tidak berani melihat ke sampingnya.
Alexander hanya mengenakan piyama birunya seperti biasa, di tangannya sedang ada gelas berisikan wine merah.
Yang beberapa detik setelah itu, dirasakan oleh Kiara jika Alexander menyiram tubuhnya dengan air, yang baru diketahui oleh Kiara jika itu adalah wine yang ada ditangan Alexander.
Tatapan Alexander sangat menyeramkan, senyumannya yang selalu lembut pada Kiara telah lenyap, yang ada hanya seringaian menyeramkan yang membuat jantung berdegup kencang dan rasa takut yang hebat.
“Bagaimana rasanya bermalam dengan orang yang kau sukai? apakah dia sudah memuaskan mu? Hmm?” Alexander melempar gelas wine itu sampai pecah, lalu ia naik ke ranjang dan menarik dagu Kiara yang sudah sangat ketakutan agar melihat kearahnya.
Hanya suara pecahan gelas itu saja sudah hampir membuat Kiara menangis, rasanya ini sangat menakutkan, aura kemarahan yang terasa dari Alexander tidak main-main menekannya, seolah Kiara bisa ditelan hidup-hidup olehnya.
“A … Alexander,”
Dengan segala tenaganya yang tersisa Kiara mencoba meminta maaf tetapi tangan Alexander semakin mencengkeram kedua pipinya dengan kuat.
“Sssttt!"
"DIAM! Kau jangan berbicara, jika kau berbicara satu kata lagi mungkin aku akan melenyapkan mu sampai tidak berbekas, kau sudah aku peringatkan beberapa kali, mengkhianati ku artinya mati,” bisik Alexander menekan membuat Kiara gemetaran hebat, wajahnya sudah pucat pasi.
Wajah hangat Alexander yang selama ini menenangkannya telah hilang, yang ada hanyalah seorang lelaki menyeramkan yang haus akan kemarahan.
Hanya beberapa detik setelah Alexander membisik ....
Alexander kemudian merobek baju yang dikenakan oleh Kiara, lalu tangannya mengusap leher Kiara, memberikan gigitan sampai berbekas, nafasnya yang panas dan memburu menambah rasa sakit di area itu.
“Ah, sakit,” keluh Kiara tidak bisa melarikan diri karena tangan dan kakinya diikat.
Tanpa menghiraukan rasa sakit Kiara, wajah Alexander yang tadi bermain di leher naik ke wajah Kiara, dia berbisik dekat sekali, tatapannya adalah tatapan merendahkan.
“Tapi, jika aku langsung melenyapkanmu penantianku untuk menikmati tubuhmu akan sia-sia, walau kau sudah melakukannya dengan lelaki itu, tidak apa menjadi yang kedua, ya kan?"
"Toh aku juga sudah sering melakukannya sebelum kau,” bisik Alexander kemudian menyebarkan wine yang tadi jatuh kebaju Kiara ke seluruh tubuh Kiara yang terbuka.
Sekarang ini, yang ada di kepala Alexander hanyalah bahwa Kiara mempermainkannya hanya karena dirinya bersikap sedikit lembek.
__ADS_1
Bahkan dikepala Alexander yang terpikirkan adalah bahwa Kiara sudah menyerahkan kesucianya pada lelaki yang Kiara sukai itu.
***