
Episode 89 : Coba saja jika berani pergi!
***
'Dia bilang aku cantik, kenapa sangat senang dipuji olehnya, hehe,'
'APA? Kau pasti sudah gila Kiara, hanya karena dipuji cantik olehnya kau lupa jika kau sedang ditindas, kenapa hatiku sangat lemah jika dipuji?! Kumpulkan dirimu dan jangan mau terlena begitu cepat!'
Geram Kiara merasa dia terlalu lemah, dia bahkan merona hanya karena dibilang cantik dan tidak mendengar kata selanjutnya yang mengatakan jika dia hanyalah teman tidur semata.
“Ta ... tapi yang jelas dia hanya teman satu kampusku, dan satu bulan ini aku akan sering bertemu dengan dia karena kami harus mengerjakan tugas bersama, jadi, tolong mengertilah sedikit,” Kiara mencoba bangkit untuk duduk, dia sudah merasa tidak nyaman tengkurap di pangkuan Alexander.
Tapi Alexander menahan tubuh Kiara agar tidak bisa bergerak.
“Tidak boleh, kau tidak boleh bertemu dengan dia lagi! Aku akan menyuruh orang ku mengurus semuanya, yang penting dia tidak boleh berada di sekitarmu lagi! Tidak peduli apapun!"
"Kau diam lah sebentar! Aku ingin memeriksa sesuatu!” ketus Alexander membuang sapu tangan yang tadi ia gunakan mengusap tangan Kiara.
__ADS_1
Dia membalikkan tubuh Kiara dengan salah satu tangannya, membuka sedikit kerah tinggi yang dikenakan oleh Kiara untuk memeriksa tanda kepemilikan yang ia tinggalkan saat pagi tadi, saat Kiara masih tidur.
Dia kemudian tersenyum nakal dan wajahnya memerah, “Masih ada,” ucapnya membayangkan bagaimana ia meninggalkan tanda kepemilikan itu tadi pagi dengan begitu bersemangat.
“Dasar nakal, apa yang kau lakukan? Lagian teganya kau melakukan hal itu saat aku tertidur!” ketus Kiara langsung menutup kerahnya dan duduk menunduk karena malu sekali.
***
Setelah perdebatan yang selalu saja memojokkan Kiara mulai mereda, Kiara hendak kembali ke kafe dan melanjutkan diskusi mereka mengenai bahan presentasi kelompok barunya nantinya.
Dia juga merasa suhu udara semakin panas dan malu karena tiba-tiba saja Alexander membicarakan mengenai hal nakal yang dia lakukan pagi tadi pada tubuh polosnya.
Karena sepertinya Alexander pun belum bisa move on dari bayangan nakalnya membayangkan bagaimana dia melakukan hal itu tadi pagi, dia masih tersenyum seperti orang bodoh dengan pipi yang merah.
Alexander bahkan tersenyum jika membayangkannya, entah apa saja yang ia lakukan, Kiara sama sekali tidak tahu karena dia tertidur, tetapi rasanya semakin tidak nyaman karena yang ada di bayangan Alexander adalah hal-hal nakal mengenai dirinya.
'Apa sih yang ada di kepalanya, ini sudah melanggar hak asasi simpanan, kepada siapakah aku harus melaporkan lelaki buas ini!” ah, bodoh lah, aku harus segera pergi, itu yang penting!' seru Kiara berteriak dalam dirinya, dia merasa geram karena Alexander sedang senyam senyum sendiri entah membayangkan hal apa.
__ADS_1
“Aku, emm, itu, masih ada tugas yang harus aku selesaikan jadi, aku permisi kembali dulu,” seru Kiara lembut sekali, dia sudah berhasil membuka pintu dan hendak melarikan diri.
Tetapi ….
“Coba saja kau pergi, jika mau aku menghabisi mu di dalam mobil ini!”
“Aku kan sudah bilang akan mengurus segalanya, kau tidak akan bertemu cecunguk sok keren itu lagi! Hari ini kau ikut aku! Jangan berani menolak ku!” geram Alexander santai.
Dia sungguh berada di kelas tinggi jika berada dalam urusan ancam mengancam dan mengambil keuntungan dari orang lain, khususnya Kiara.
“Ta … tapi,” Kiara mencoba menjawab dengan panik.
Alexander yang tidak suka mendengar penolakan apalagi dari Kiara menarik tangan Kiara dan hendak memberinya ciuman, tetapi Kiara langsung dengan sigap mengalihkan wajahnya.
.
.
__ADS_1
.
.