Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Mainan Alexander Grey.


__ADS_3

Episode 65 : Mainan Alexander Grey.


Masih di kediaman Alexander,


***


Setelah semua konflik dirinya sendiri itu, Kiara segera menyiapkan air mandi untuk Alexander.


“Tuan, air mandinya sudah siap,” dengan hormat dan masih memakai piyama tidur Kiara mempersilahkan Alexander yang masih berbaring di kasur untuk segera membersihkan dirinya.


Mendengar itu Alexander langsung berpangku tangan, tersenyum sangat nakal dan melihat intens kearah Kiara. “Sayang, bagaimana jika kita mandi bersama? Pasti akan sangat menyenangkan ya kan?” Alexander memberikan usulan paling hebat pagi itu.


Dia tersenyum nakal dan mengatakan hal-hal yang sangat memalukan bagi Kiara.


“Ap … apa? Mandi bersama?” seru Kiara langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ti … tidak mau, bagaimana mungkin dua orang dewasa mandi bersama? Kita bukan anak kecil juga,” seru Kiara dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.


Dia menunduk dan menolak permintaan aneh Alexander secara refleks.


“Haaahhhh!"


"Sial!"


"Aku beri waktu satu bulan! Ah tidak ... aku beri waktu satu minggu! Satu bulan terlalu lama, kau harus menyiapkan hatimu dan tubuhmu, aku tidak akan menahan ini terlalu lama!” seru Alexander yang lagi-lagi harus meredam gairahnya pagi itu.


Dia melempar bantal dan marah-marah sendiri, tidak jelas. Langkahnya bahkan terdengar kuat hanya untuk melangkah ke kamar mandi saja.


“Sa … satu minggu? Tidaaakkk!"


"Apa yang harus aku lakukan? Baik tubuh atau batinku tidak akan pernah siap! Haruskah aku kabur? Tetapi dia pasti bisa menemukan aku! Aaaaaa! Bagaimana ini?” teriak Kiara pelan sekali agar tidak terdengar oleh Alexander, dia bahkan mengusap keras rambutnya saat Alexander sudah berada di dalam kamar mandi.


Tekanan baru harus dirasakan oleh Kiara lagi, dia dipaksa harus mempersiapkan tubuh dan batinnya dimana dia tidak akan pernah siap untuk hal itu.


***

__ADS_1


Pagi itu seperti biasa akan dilalui oleh Kiara seperti biasa, Alexander hanya akan memerintahkannya melakukan ini dan itu, bahkan untuk mengeringkan rambutnya sampai mengurut pundaknya.


Hari itu Kiara tidak diijinkan pergi ke kampusnya, juga Kiara memang belum siap melihat pandangan mata dan bisikan mengerikan yang ia terima, jadi dia setuju untuk tidak masuk kampus dulu.


Semuanya berjalan sampai pada siang hari,


“Ahh, kepalaku pusing sekali, apakah aku kebanyakan minum? Ck, kesempatanku tidur dengan Tuan Alexander jadi hilang karena minuman sialan itu!” ketus Sarah Serge sudah membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan baju ketat dan seksi, dia merequest baju itu pada kepala pelayan Alexander yaitu Pak Roy.


Dia tidak tahu jika Sarah bisa tidur sampai siang adalah ulah Pak Roy, akibat dari perintah aneh Alexander pada dirinya.


“Dimana Tuan Alexander sekarang?” tanya Sarah pada Pak Roy yang sepertinya bersikap biasa saja walau telah melakukan hal itu pada Sarah.


“Beliau sedang ada di ruangan pribadinya Nona,” jawab Pak Roy sopan dan bersikap normal.


“Ahh, kepalaku,” keluh nya lagi memegangi kepalanya sembari bangkit untuk berjalan menuju ruangan pribadi Alexander.


“Oh iya, bisakah kau tunjukkan dimana ruangan pribadinya? Aku ingin bertemu,” seru Sarah lagi pada Pak Roy.


“Baik Nona,” jawab Pak Roy sembari menunjukkan ruangan pribadi Alexander Grey berada.


“Aku tidak boleh kehilangan kesempatan kali ini,” ketus Sarah segera membuka pintu ruangan pribadi Alexander Grey, mereka memang telah sampai di depan ruangan pribadi Alexander Grey.


Saat Sarah masuk kedalam, dia bisa melihat jika Alexander sedang membaca sesuatu di tangannya, dia terlihat terlalu tampan sampai membuat Sarah tidak sabar ingin menjadikannya sebagai miliknya.


“Tu … Tuan, aku datang,” ucap Sarah tersenyum menggoda, dia berjalan mendekat kearah Alexander Grey.


“Oh Sarah, kau sudah bangun? Kemari lah,” jawab Alexander melancarkan sandiwaranya, dia masih harus memperdaya Sarah tentunya untuk kelancaran rencananya.


Dengan sangat bersemangat Sarah berlari kearah Alexander, lagi-lagi tanpa disuruh dia langsung duduk di pangkuan Alexander dan memeluknya.


“Aku sangat senang mengetahui jika kita dijodohkan, jadi tidak apa kan aku memelukmu seperti ini,” seru Sarah tersenyum puas, dia sangat senang dan bahagia sekarang.


“Cih, parfumnya lagi-lagi membuatku ingin muntah, kenapa setiap gadis selalu saja melempar dirinya padaku, ck, menyebalkan,"


"Oh iya, ada satu yang tidak, si gadis bodoh!” benak Alexander tetap tersenyum menutupi rasa jijik dan kesalnya.

__ADS_1


“Oh iya Sarah, nanti malam kau tahu kan kita akan bertemu dengan ayahmu, mau kah kau melakukan sesuatu padaku?” Alexander mulai melancarkan rencananya.


Dia berbicara dengan senyuman memabukkan dan aura mengendalikan, dan tentu saja Sarah terperdaya oleh ketampanan Alexander, tanpa memikirkan hal lain dia langsung mengangguk setuju.


Hal itu membuat Alexander tersenyum puas, rencananya ini terbilang sangat mudah karena dia bisa mengendalikan Sarah seperti membalikkan telapak tangan, sangat mudah.


“Aku ingin kau pergi ke tempat yang aku berikan padamu, disana akan ada kejutan untukmu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan ayahmu, mau kan?” bisik Alexander membisik di telinga Sarah.


Hal itu membuat darah Sarah seperti mendidih, dia dibutakan oleh pesona Alexander dan seperti wanita bodoh hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Alexander.


“Baiklah, tetapi aku ingin hadiah yang lain,” goda Sarah menyentuh bahu Alexander , dia tersenyum dan mencoba menggoda Alexander dengan pesonanya.


“Baiklah, aku akan melakukannya, tetapi akan kita lakukan saat kau pergi ke tempat ini ya,” seru Alexander lagi masih tersenyum.


“Oke, aku akan menantikannya,” balas Sarah tidak sabar ingin bisa tidur dengan Alexander Grey, lelaki yang diinginkan banyak gadis diluaran sana.


“Tok … Tok … Tok!”


Terdengar suara ketukan pintu dari pintu pribadi Alexander Grey.


“Saya masuk Tuan,” seru Kiara sedang membawakan teh kepada Alexander Grey, Pak Roy sudah memberikan list rutinitas pada Kiara, dan jam siang seperti ini dia harus mengantarkan teh ke ruangan pribadi Alexander Grey.


Tetapi saat ia masuk, pemandangan yang ia lihat lagi-lagi seolah menusuk jantungnya, seolah menyadarkan Kiara jika jarak antara dirinya dan Alexander seperti langit dan bumi.


Entah mengapa tangannya bergetar dan dia terdiam sebentar, semua debaran dan rasa hangat yang ia rasakan semuanya hanyalah kebohongan dan permainan Alexander, Kiara disadarkan jika dia sedang dijadikan salah satu mainan untuk meramaikan hidup Alexander Grey.


“Harusnya aku sudah tahu, kenapa aku selalu berada di titik yang sama? Lelaki ini sangat jahat! Dia bisa bermesraan dengan gadis yang ia inginkan, tetapi tetap menggodaku! Apakah aku memang hanyalah mainan yang menyenangkan untuk dipermainkan?” geram Kiara dalam benaknya, akan tetapi ia tetap mengantarkan teh itu pada Alexander Grey.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan komen membangun nya ya.. Terimakasih banyak 🤍


__ADS_2