Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Jiwa seorang pemimpin.


__ADS_3

Episode 152 : Jiwa seorang pemimpin.


***


Setelah kekacaun yang terjadi di markas Alexander, Alexander dibuat terdiam sebentar, dia ingin mencari tahu alasan mengapa Kakeknya memberikan cincin ini hanya untuk dirinya seorang, seolah ada maksud dan tujuan dalam semua ini.


Alexander Grey mengusap kepalanya dengan kasar, dia tetap tidak menemukan petunjuk apapun, tidak ada ingatan yang menindikasikan jika kakeknya memberikan petunjuk mengenai simbol D itu.


Tapi Alexander semakin yakin dan jelas dengan tujuannya, bahwa selama ini kakeknya memperjuangkan sesuatu yang besar, dan hal itu semakin jelas dan terang, walau saat tewasnya George Serge, Alexander menemukan jalan buntu tetapi disaat yang bersamaan tujuan mereka menjadi semakin jelas.


Bahwa kakeknya meninggalkan perkumpulan mafia Grey adalah untuk suatu alasan.


“Haruskah aku menanyakan ini kepada Ayah? Tetapi jika aku kembali dia pasti berbesar kepala dan menujukkan wajah sombongnya itu, itu akan membuatku kesal!” geram Alexander sudah bingung langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


“Bos,”


Fin datang melapor kepada Bosnya mengenai penyelidikan mata mata yang diduga kuat selama ini berpura pura menjadi anggota mereka.


Setelah mereka selidiki ternyata memang benar ada satu orang yang menghilang, sepertinya pihak lawan telah menyandera keluarga dari anggota mereka ini sampai sampai ia rela menghianati Alexander Grey.

__ADS_1


“Brak!"


Alexander menghantam meja yang ada di hadapannya.


“Sialan! Kalian lihat saja, seberapa keras pun kalian bersemubunyi tidak akan kubiarkan kalian menang lebih lama, lihat saja!” geram Alexander benar benar serius.


Walau sekarang dia masih menemukan jalan buntu dari semuanya ini tetapi ia yakin akan menemukan jalan suatu saat nanti.


Dia juga menenangkan diri sejenak lalu mencari tahu maksud dari simbol D yang ada di cincin peninggalan kakeknya juga simbol D yang dituliskan oleh George Serge.


“Langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya Bos?” tanya Yuza juga sudah datang ke ruangan Alexander Grey.


Alexander menghela nafasnya dalam-dalam dan kemudian menenangkan dirinya, sepertinya dia telah terbawa emosi dan menjadi panik, sebagai seorang ketua dia tidak seharusnya bersikap seperti ini.


Dia berdiam diri sejenak, lalu ia kembali mengambil sikap tenang, “Kita diam dulu, sebelum kita menemukan sesuatu kita mengamati saja dulu, sama seperti musuh, kita juga harus bisa lebih tenang dari mereka, mereka melakukan ini pasti untuk membuat kita panik, jika kita panik pasti akan lebih mudah di hancurkan!"


“Hampir saja aku termakan oleh pancingan menjijikkan mereka, kali ini kita sudah jelas dengan musuh, hanya saja kita perlu melacak jaringan mereka yang luas,"


"Aku yakin, jika kita diam mereka akan bergerak lebih dulu, dan saat itulah misi kita yang terakhir akan kita lakukan, untuk sekarang jangan ada yang melakukan apapun, kecuali mencari tahu simbol D ini,”

__ADS_1


Perintah Alexander kemudian menenangkan dirinya, dia mencoba tetap tenang, dan saat ia tenang dan berpikiran jernih ia segera bisa membaca taktik lawan.


Taktik seperti ini sebenarnya adalah taktik lawas yang sudah jarang digunakan tetapi jika diremehkan bisa menghancurkan organisasi besar sekalipun.


Kesabaran, ketenangan dan kebijaksanaan adalah kunci dari seorang pemimpin agar bisa memutuskan sebuah keutusan yang tepat, dan itulah yang sedang dialkukan oleh Alexander Grey sekarang.


Sebenarnya pihak lawan sudah mengantisipasi Alexander Grey sebab bisa menumbangkan anggota penting mereka yaitu George Serge.


Mereka ingin memancing Alexander agar bertindak gegabah dalam amarah karena menemukan jalan buntu.


Tetapi sepertinya mereka salah besar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2