
Episode 129 : Wanita murahan
**
Setelah melihat lelaki itu, hatinya seolah runtuh, dia takut tetapi tidak seharusnya ia takut, namun lelaki ini menekannya hanya dengan suara kecil dan langkahnya yang mendekat.
“Aku harus lari!”
Hanya itu kata-kata yang terbersit di kepala Kiara sesaat setelah melihat Alexander Grey mendekat.
Bingkisan yang tadi diberikan oleh Alan terjatuh dari genggamannya, bagaimanapun tangannya telah kehilangan kekuatan dan tidak bisa menggenggamnya karena rasa takut yang tiba-tiba dia rasakan.
Jantungnya seolah berderu kencang, dia berlari ke belakang hendak melarikan diri, tetapi baru juga menghadap ke belakang dia sudah melihat Ben dan menunduk memberikan hormat kepada Kiara.
Yang artinya Kiara sudah tidak bisa melarikan kemanapun lagi, matanya yang menjelajah dan wajah paniknya belum sampai disitu, Alexander sudah ada di dekatnya, memeluknya dari belakang lalu membisik di telinganya.
“Sayang, kau mau lari kemana?” bisiknya mengeratkan genggamannya di tubuh Kiara, nafasnya terasa panas dan senyumannya mengerikan.
Mulut Kiara seolah tertekan dan tidak bisa berbicara, tubuhnya bergetar hebat dan dia menjadi gugup, dia menahan nafasnya, entah kenapa dia bisa setakut ini, seolah dia mengetahui Alexander Grey sedang murka, terlihat dari mata dan senyumannya, dan Kiara takut apa yang akan dilakukan Alexander Grey padanya setelah ini.
Kiara pernah melihat sisi mengerikan dari Alexander Grey, dia takut sekali dan dia tidak ingin melihat hal itu lagi.
“Tu … Tuan, mohon lepaskan saya, saya tidak memiliki urusan dengan anda, saya ….” Belum usai Kiara menyelesaikan ucapannya, tangan kokoh Alexander Grey sudah meraih wajah Kiara, ******* bibirnya begitu saja, menutup mulut Kiara agar tidak melanjutkan ucapannya.
Ciuman itu semakin panas, Kiara mencoba mendorong tetapi tubuhnya tenggelam begitu saja didalam tubuh bidang Alexander Grey.
“Le … lepaskan, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Jika tidak aku akan berteriak!” ketus Kiara mencoba berbicara disela-sela kegiatan memaksa yang sedang dilancarkan oleh Alexander Grey.
__ADS_1
Alexander Grey kemudian menyeringai dan terkekeh, Alexander Grey mengusap rambut Kiara, menghadapkan wajah Kiara lekat dan dekat sekali dihadapan wajahnya.
Nafas panas mereka berdua seperti bersatu, tatapan Alexander Grey begitu tajam melekat kearah Kiara sampai Kiara harus menunduk mengindari tatapan mengerikan itu.
“Kita tidak sejauh itu sampai kau harus memanggilku Tuan, ingat, aku lah yang memilikimu, dan tidak apa jika kau berteriak, orang-orang tidak akan ada yang datang menolong mu, hanya aku yang tersisa untukmu, ingat?” bisik Alexander Grey mengusap erat wajah Kiara.
Tangan gemetaran Kiara kemudian ia genggam erat, sampai saat Kiara tidak sadar, Alexander sudah menarik tangannya dan mengangkat tubuhnya, Alexander dengan mudah menggendong Kiara, melangkah menuju keluar, sembari berjalan Alexander tidak lupa menendang bingkisan di berikan Alan tadi yang telah terjatuh.
“Lepaskan aku! Aku bilang lepas! Aku bukan milik siapapun, apalagi milikmu! Punya hak apa kau atas ku! Bajingan, akan ku laporkan kau ke polisi!” Kiara sudah kehabisan kesabarannya, dia memukul-mukul dada bidang Alexander dan meronta-ronta.
Tetapi seperti tidak terpengaruh, Alexander Grey tetap berjalan lurus, wajahnya yang angkuh dan tatapannya yang tajam tidak bergeming sedikitpun.
Alexander tidak mendengar Kiara sedikitpun, dia tetap membawa Kiara menuju mobil yang sudah terpakir dan Ben sudah ada terlebih dahulu di mobil itu untuk segera mengemudikannya.
Di dalam mobil pun, Alexander tidak melepaskan Kiara, dia menggenggamnya erat sekali, sampai ia memerintahkan Ben untuk melajukan mobilnya.
“Kau mau merendahkan aku serendah apa lagi Tuan? Apa lagi yang mau kau ambil dariku? Tolong lepaskan aku dan kita hidup di jalan masing-masing, aku ….” Tangisannya sudah pecah,.
Dia merasa akan kembali ke kehidupannya yang sebelumnya, dimana dia harus bersama Alexander lagi tanpa status apapun, menyandang wanita murahan yang hanya ditiduri begitu saja dan tidak akan pernah dinikahi.
Kiara tidak ingin mengalami hal itu lagi, mengalami hidup sebagai wanita penghangat ranjang.
“Aku bersumpah, jika kau berteriak dan selalu ingin pergi dariku lagi, aku akan menghabisi mu di mobil ini! diam lah selagi aku memberimu kesempatan!” ucap Alexander Grey dengan nada nya yang rendah namun menekan.
Mendengar itu, ketakutan seolah menjalar ke seluruh tubuh Kiara, bibirnya bergetar, suara rendah itu menyeramkan sekali, tentu saja itu mampu mendiamkan Kiara, dia terdiam dan matanya melihat dengan tatapan kosong.
Seolah jurang tanpa batas yang ia kira sudah ia lepaskan dan bebas darinya telah menariknya kembali, kali ini apakah dia bebas lagi, apakah memang takdir Kiara memang harus menjalani kepahitan ini!
__ADS_1
Tanpa sadar Kiara telah sampai di rumah yang sama, rumah yang ia tinggalkan sekitar satu bulan yang lalu, mobil di buka oleh Ben, merasa ini adalah kesempatan untuk lari.
Kiara langsung berlari sekuat tenaga dari mobil, namun semuanya memang sudah tidak bisa, tangannya ditangkap oleh Alexander lagi dan dia langsung di bopong bagai karung beras kedalam kediaman Alexander Grey yang memberikannya banyak kenangan manis namun juga pahit disaat yang bersamaan.
Kiara menangis, dia memukul-mukul pundak Alexander, “Lepaskan aku, lepaaaasss!” teriaknya pelan, kekuatannya seolah hilang, tanpa sadar ia sampai lagi di kamar Alexander Grey, dimana ia kehilangan kesuciannya.
Kiara mundur ke sudut ranjang yang luas, dia melempar Alexander dengan bantal, mencoba menjauhkan diri dari Alexander Grey.
“Kontrak kita bahkan belum berakhir, tapi kau sudah mau kabur?” celetuk Alexander sembari membuka kemeja putih yang tadi sedang ia kenakan.
Saat Alexander membuka kemejanya, dia segera naik ke ranjang, menarik tangan Kiara dan mendekapnya, namun Kiara terdiam, dia membisu setelah melihat ada perban besar melilit di tubuh Alexander Grey, sepertinya karena tadi dia memukul-mukul dada Alexander Grey, perban itu menimbulkan bercak darah segar.
Mata Kiara terbelalak, air matanya menetes lagi, bibirnya bergetar, dia melihat tangannya, dia sadar jika sudah ada bercak darah di tangannya sekarang.
“Apa yang terjadi? kenapa ada darah disini?” dengan bergetar dan menangis dia menanyakan pada Alexander yang tidak sadar, Alexander segera menjauh dan melepas Kiara, dia melihat lukanya yang memang sudah mengeluarkan darah lagi.
Alexander tidak menjawab Kiara sama sekali, Alexander melangkah menjauh dan pergi menuju kamar mandinya, sepertinya dia mau melepas perban itu dan menggantinya ke perban yang baru.
Kiara tertegun, dia tidak tahu apa yang ia rasakan lagi, dia terdiam melihat luka itu, jantungnya berderu kencang sekali, dia bertanya-tanya sebenarnya dalam satu bulan terakhir apa yang telah terjadi, kenapa bisa ada luka di tubuh Alexander dan sepertinya itu bukan luka ringan.
.
.
.
.
__ADS_1