Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Cerita dongeng.


__ADS_3

Episode 53 : Cerita dongeng.


***


Orang adalah mahluk paling menyeramkan di dunia, mereka akan menghujat dan menghina orang lain dari cara mereka melihat, mereka tidak peduli dengan kebenaran karena lebih tertarik dengan kesenangan.


Orang-orang akan puas jika mendapat berita baru, akan puas saat mereka menemukan orang baru untuk dihujat dan dihina.


Mulut mereka gatal dan hati mereka busuk, kebenaran bukan hal penting dan menarik bagi mereka, yang paling penting adalah jika mereka benci dan tidak suka mereka akan membunuh musuhnya dengan mulut mereka.


Tidak peduli jika orang itu salah atau benar.


***


Disini dibawah pohon rindang, tempat dahulu Kiara dan Bian sering bertemu dan bermain-main.


Jika Kiara mendapatkan masalah dan tidak tahu bagaimana melepaskan emosinya dia akan datang kesini untuk hanya sekedar menangis atau berteriak.


Kiara bersandar di bawah pohon, cahaya yang mengintip dari bebalik daunan membuatnya teringat akan Bian.


Rasanya baru kemarin dia tahu penghianatan Bian, rasanya masih seperti mimpi, seolah hatinya tidak bisa mempercayai pengkhianatan itu.


“Kau bilang jika aku takut, aku harus datang kesini karena kau akan menemukan aku disini, tetapi kau tidak ada!” ucap Kiara pelan.


Air matanya belum juga mengering, dia tidak tahu bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya setelah ini.


“Sekarang aku takut sekali, ingin pergi kabur dan tidak kembali, apakah kau akan datang dan membawaku kabur? Aku takut melihat mata mereka melihatku dengan hina, aku takut mendengar mulut mereka menghinaku! Aku takut!”


Kiara meringkuk, dia tidak bisa membohongi hatinya jika saat ini dia ingin Bian datang dan membawanya pergi.


Manusia memang sangat bodoh, mengharapkan sesuatu seperti cerita dongeng, sesuatu yang tidak akan pernah datang dan terjadi.


Tetapi setidaknya Kiara harus membiarkan hatinya seperti ini dulu, mulutnya yang selalu berbohong mengatakan jika segalanya baik-baik saja hanya mengeluarkan keluhan tangis.


Sekarang tidak ada lagi tempat dia untuk bersembunyi dan melarikan diri, dia sendirian dan menangis ditempat sepi.


***

__ADS_1


Disaat yang sama di kediaman Alexander Grey,


“PAK ROY!”


Alexander berteriak memanggil Pak Roy, dia sudah menunggu selama lima menit tetapi rasanya seperti sepuluh jam.


Pak Roy yang gugup dan khawatir saat nomor ponsel Kiara tidak bisa dihubungi segera menghadap tuannya yang sudah uring-uringan.


“Ya Tuan?”


“Kenapa dia masih belum ada disini? Apa saja yang kau lakukan! Tidak becus! Aku memberimu upah dan pelatihan terbaik tetapi hanya memanggil seorang gadis bodoh saja tidak becus!” Alexander berteriak, menumpahkan rasa kesal dan tidak sabarannya pada kepala pelayan rumahnya.


“Maaf Tuan, tetapi nomor ponsel Nona Kiara tidak bisa dihubungi, saya baru meminta informasi dari kampus beliau dan mendapatkan informasi ini,” Pak Roy masih dengan hormat dan sopan memberikan ponselnya yang sudah berisikan berita tidak benar tentang Kiara.


Pak Roy memang sudah terbiasa dan terlatih menerima sikap arogan dan teliti tuannya ini, Alexander Grey memang adalah orang seperti ini, suka marah tidak jelas dan akan murka jika bawahannya tidak becus dalam bekerja.


Alexander yang hanya mengenakan piyama tidur dan berkecak pinggang, masih dengan mata yang memicing menerima ponsel Pak Roy.


Alexander membaca berita yang membuat kemarahannya meledak.


“Brengsek! Aku tahu gadis siput itu bodoh sekali tetapi tidak seharusnya menjebak dia sejauh ini! Aku akan memburu siapapun yang menyebar berita ini dan meremas bajingan tengik itu sampai remuk ke tulang!” geram Alexander dengan ucapan yang serius dan mata yang tajam.


Kemarahannya berada di tahap yang berbeda.


Tetapi ada yang lebih membuat Pak Roy khawatir,


“Tu ... Tuan,”


Seru Pak Roy sedikit khawatir dan gugup, beserta senyuman kakunya yang terpampang nyata.


“APA?!” decak Alexander masih dalam keadaan super marah.


“Po ... Ponsel saya,” seru Pak Roy dengan matanya yang melekat pada ponselnya yang sedang diremukkan oleh Alexander menggunakan tangannya.


“Oh, aku tidak sengaja! Beli saja yang baru! Aku harus menangkap para tikus dulu!” garam Alexander mengembalikan ponsel yang tidak bersalah itu dalam keadaan rusak pada pemiliknya.


Sedangkan Alexander pergi mengambil ponselnya dan menelepon Yuza yang sedang tidur di kediamannya dengan tenang.

__ADS_1


Setelah Yuza dipanggil oleh Bosnya membuat Yuza yang masih mengenakan piyama tidur itu segera ke depan komputer kerjanya yang ada dikamarnya dengan wajah yang masam dan muram.


Dia tidak suka waktu tidur berharganya diganggu, apalagi ini semua hanya karena seorang gadis bukan untuk misi penting.


Setelah dia menemukan lokasi terkahir ponsel Kiara berada dan melacak alamat IP penyebar berita, dia langsung mengirimkannya pada Bosnya.


“Bos, sudah aku kirimkan semua yang Bos perintahkan,” ucap Yuza sedang menelepon Alexander Grey.


“Baiklah, setelah ini hapus berita yang sedang tersebar di kampus Kiara, kirimkan mata-mata kita kesana dan jika ada yang berbicara aneh tentang Kiara, berikan mereka pelajaran sampai mereka menyesal!”


“Dan nanti malam ingat lakukan tugasmu! Ingatkan Sin dan Fin juga, sepertinya aku akan sedikit terlambat karena harus mengurus sesuatu!”


Alexander segera mematikan panggilan itu dan segera membuka berkas yang dikirimkan oleh Yuza.


Sedangkan Yuza yang sudah bersiap-siap untuk tidur lagi dengan penutup matanya hanya melihati kasur dengan cara yang menyedihkan.


“Sepertinya kita akan berpisah sebentar,” serunya mengusap kasur kesayangannya dan mulai melakukan persiapan untuk menghapus berita yang telah menyebar itu juga rencana malam ini.


Alexander sudah memeriksa alamat IP yang sudah dilacak oleh Yuza, dia melihat siapa orang yang menjebak Kiara.


“Sialan! Sudah kuduga, habislah kau setelah ini!” geram Alexander segera berangkat hendak menjemput Kiara terlebih dahulu.


Alexander sudah mengetahui siapa yang menjebak Kiara dan sepertinya Bella tidak akan bisa lepas dengan mudah kali ini.


***


Pak Roy segera mempersiapkan mobil untuk tuannya, dan mereka pergi ke lokasi terakhir ponsel Kiara di deteksi.


Alexander sudah sampai di lokasi, tempat itu adalah sebuah taman luas, tempatnya sepi, pohon besar dan rindang ditengahnya langsung menarik perhatian Alexander, dia melihat gadis yang sedang ia cari sedang meringkuk menangis dibawah pohon itu.


“Disana kau rupanya,”


Alexander yang hanya mengenakan piyama dan sendal karena terburu-buru menjemput Kiara berjalan dengan sangat cepat menuju Kiara.


Langkah kakinya yang sudah dekat menyadarkan Kiara jika ada seseorang yang mendekat kearahnya.


“Apakah itu Kak Bian?” seru Kiara masih menunduk. Memang hanya Bian dan dirinya lah yang tahu tempat rahasia mereka ini.

__ADS_1


Kiara segera mengangkat wajahnya, “Kak Bi ....”


Belum sempat dia melanjutkan ucapannya, matanya langsung membelalak saat melihat siapa yang ada si hadapannya itu.


__ADS_2