
Episode 71 : Sayang, aku mau kamu.
***
Di kamar pribadi Alexander Grey,
'Apa ini? Kenapa lembut sekali? Aku kehilangan diriku lagi, lelaki ini apakah sungguh akan melakukan itu padaku?' gumam Kiara tidak sadar jika dia mengikuti permainan Alexander Grey, dia memejamkan matanya dan membiarkan Alexander membuka bajunya.
Malam itu udara terasa dingin, angin yang berhembus melewati gorden terasa menyegarkan, bulan yang bersinar memberikan penerangan alami di kamar Alexander, tetapi udara menyegarkan dan bahkan Ac tidak bisa mendinginkan tubuh Alexander dan Kiara.
Tubuh mereka seperti terbakar dan jantung mereka berpacu.
Alexander belum pernah merasakan sensasi seperti ini, sensasi mendebarkan yang membuat jantungnya berdegup sangat cepat.
Dia mulai membuka bajunya, Kiara bisa melihat tubuh bidang Alexander Grey, mereka diam satu sama lain, tetapi tatapan mereka berbicara, setelah Alexander melepas bajunya dia mulai mencium Kiara lagi.
Ciuman itu turun sampai di leher dan memberikan tanda kepemilikan di bagian itu, jemarinya secara perlahan mulai membuka baju Kiara, Kiara yang entah mengapa tidak bisa menolak hanya mengikuti ritme yang di dominasi oleh Alexander Grey.
'Ahh, kenapa tubuhku panas sekali, kenapa aku tidak bisa menolak? Apakah tubuh ini masih menjadi tubuh ku, aku harus menghentikannya!' gumam Kiara merasa darahnya seperti mendidih.
Saat tangan hangat Alexander menyetuh dirinya, jantungnya semakin berpacu dan dia menjadi pusing karena merasakan hal aneh di tubuhnya.
“Sayang, aku mau kamu,” bisik Alexander tanpa sepengetahuan Kiara bajunya sudah dilucuti oleh Alexander, sekarang Kiara sudah polos dihadapan Alexander Grey.
'Tidak boleh! Jelas-jelas dia punya gadis tadi dan Layla, tidak boleh melakukan ini padaku,' gumam Kiara dengan keras mencoba mengumpulkan kesadarannya yang tersisa.
Saat jemari Alexander mulai menjamah tubuhnya, Kiara segera menarik tangan Alexander.
“Aku belum siap,” sahut Kiara dengan suara yang lemah, dia juga kebigungan sebenarnya mengapa dia juga menginginkan hal ini, mengapa dia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghentikan Alexander.
Rasanya seperti dia terlena dan lupa diri untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
“Ahh, sayang, tapi aku sudah tidak tahan,” bisik Alexander mencoba merayu Kiara.
Kiara menggelengkan kepalanya, entah kenapa dia menangis, dia bingung apakah air mata ini karena dia merasa menjadi wanita murahan atau karena apa, Kiara tidak mengerti tetapi dia hanya menangis tidak berani melihat ke arah mata Alexander.
“Aku takut dan tidak ingin melakukan ini sebelum menikah, maafkan aku tapi hanya kehormatanku lah yang tertinggal, aku tidak ingin menghancurkan kehormatanku, aku minta maaf,”
Tangisan yang memilukan, dia bahkan sampai sesenggukan, dia setidaknya harus mempertahankan kehormatannya walau dengan cara apapun.
Walau dari sikap Alexander, pastinya Alexander tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Alexander yang melihat tangisan polos Kiara segera berpikir, dia baru tahu jika hal itu sangat berharga bagi wanita, karena selama ini dia selalu mendapatkannya dengan mudah, membuatnya merasa jika melakukan hal itu adalah hal biasa saja.
Selama sesama pasangan itu memiliki ketertarikan secara seksual maka tidak masalah melakukan hal itu.
Tetapi malam ini dia belajar hal baru dari Kiara, jika hal itu adalah hal yang penting dan berharga, setidaknya bagi Kiara.
Alexander segera turun dari tubuh Kiara dan melentangkan tangannya, melihat langit-langit kamar.
Seru Alexander membuat Kiara menyadari posisinya sekali lagi.
Tidak bisa dinikahi tetapi harus melakukan hubungan suami istri, benar-benar nasib yang menyedihkan.
Tetapi Kiara masih bersyukur bahwa Alexander tidak melakukan hal itu sekarang, walau tubuhnya sudah tidak menggunakan apapun, tetapi Alexander bisa menahan dirinya.
Ada hal yang sangat menonjol dari Alexander, yaitu dia sebenarnya sangat memperhatikan dan menghargai pendapatan Kiara, walau tidak pernah mengatakannya.
Setelah beberapa saat, Kiara meraih selimut dan menutupi dirinya, Kiara sudah mencari-cari bajunya tetapi sepertinya sudah dicampakkan oleh Alexander keujung ruangan, tidak mungkin Kiara menarik selimut untuk menutupi dirinya untuk mengambil baju itu.
Apalagi dia baru saja menolak Alexander untuk kesekian kalinya, jadi dia tidak ingin mengasah kesabaran Alexander dan menarik perhatiannya.
Melihat gelagat Kiara itu Alexander kepikiran ide nakal lagi.
__ADS_1
Dia masuk kedalam selimut dimana Kiara menutupi tubuhnya, dia dengan sigap langsung mendekap tubuh Kiara.
“Tu … tuan, eh sayang, apa yang kau lakukan, kau bilang tidak akan melakukannya,” seru Kiara sangat malu dan geli, bagaimana tidak, Alexander masuk kedalam selimut dan mendekap tubuh polosnya.
“Memang, aku tidak akan melakukan itu, aku hanya memelukmu saja, jangan berani menolak ini juga, jika ingin pergi besok ke rumah orangtua angkatmu maka kau harus memelukku dan tidur bersamaku tanpa baju,” bisik Alexander puas, dia tersenyum nakal sekali dan dia menikmati dirinya terbenam di tubuh Kiara.
'Apa yang harus kulakukan? Ini terlalu berlebihan untuk aku tangani, rasanya geli dan tidak nyaman, tapi lebih baik dibanding jika dia melakukan itu, masa bodohlah, saat bangun nanti aku harus lupakan malam ini!' gumam Kiara mau tidak mau membiarkan Alexander mendekapnya erat sekali.
“Tubuhmu wangi sekali, sebenarnya parfum apa yang kau pakai?” tanya Alexander tidak melonggarkan dekapannya, wajahnya bahkan terbenam di dada Kiara membuat Kiara semakin geli.
Apalagi setiap Alexander berbicara nafasnya akan langsung terasa di kulitnya.
'Aish, bukan saatnya berbincang Tuan arogan! Rasanya terlalu geli, apakah aku pura-pura pingsan saja! Siapapun tolong aku!' gumam Kiara langsung tegang dan semakin malu saat Alexander berbicara dan membuatnya merinding.
“Apa yang kau lakukan? Cepat jawab,” seru Alexander lagi membuat Kiara ingin mendepak Alexander saat itu juga, tetapi apa boleh buat dalam keadaan ini Alexander adalah rajanya dan dia adalah budak yang harus menurut.
“A … aku tidak pakai parfum, tidak bisakah kita tidur saja?” seru Kiara sudah tidak sabar ingin memisahkan diri dan memakai bajunya saat Alexander tidur nanti.
“Heheh, baiklah sayang, usap rambutku kalau begitu,” balas Alexander memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di pelukan Kiara.
'Argghhh! Ingin ku semprot pakai semburan api naga si mesum ini! Aduh aku tidak bisa menolak lagi! Seolah apa yang dikatakan adalah sebuah perintah mutlak!' Ketus Kiara mau tidak mau mengusap rambut Alexander yang hendak terlelap itu.
.
.
.
Jangan lupa like dan komentar membangun nya ya.
Maaf juga jika kalian menemukan banyak sekali kekurangan di novel ini, dan jika ada kesalahan ketik di komen saja ya, agar langsung author perbaiki.
__ADS_1
Sayang kalian banyak banyak 🤍