Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Kesedihan Layla.


__ADS_3

Episode 154 : Kesedihan Layla.


***


Malam itu di sebuah Bar,


Layla yang melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita muda bernama Kiara itu sungguh telah menempati hati tunangannya benar-benar menghancurkan hatinya sekarang.


Layla begitu kalut dan sedih, dia sangat terluka, harapannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Alexander Grey semakin rapuh.


Dia sedang ada di Bar sekarang, meminum banyak sekali minuman keras, dia ingin mabuk dan melupakan rasa sakit hatinya.


Bagaimana pun Alexander Grey adalah cinta pertamanya, sampai sekarang dia masih setia pada Alexander.


Tetapi sepertinya Layla telah salah sejak awal mengartikan perhatian Alexander Grey yang dulu sebagai rasa suka, kenyataan yang ia ketahui seolah menghujamnya sampai ke dasar.


Ternyata selama ini Alexander tidak pernah menyukainya sebagai wanita, Alexander sepertinya memang hanya menyayanginya sebagai teman pertama dan menyayanginya sebagai sahabat saja.


Layla yang terlalu perkasa sungguhan telah salah arti, perhatian Alexander yang dulu adalah sebagai rasa suka, ternyata hanyalah perhatian biasa seperti kakak kepada adiknya.


“Aku bahkan tidak bisa berbuat jahat kepada gadis itu, kenapa aku hanya bisa menangis dan bersedih seperti ini? kenapa aku harus rela saat melihat tunanganku bersama wanita lain? Kenapa dunia ini sangat tidak adil padaku?”

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Layla berteriak seperti gadis biasa, dia sudah tidak tahan dengan luapan rasa sakit di hatinya, dia menangis seperti orang gila dan meneguk banyak sekali minuman.


“Aku bodoh, aku tidak memiliki keberanian dan hanya bisa menangis, huaaaa!” Layla sudah sempoyongan.


Dia tidak bisa lagi mengendalikan langkahnya.


Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah bagaimana bodohnya dirinya hanya diam saat mengetahui tunangannya bersama wanita lain.


Dan yang lebih parah, tunangannya menggunakan statusnya sebagai tameng untuk melindungi wanita yang dicintainya itu.


“Tring … Tring … Tring!"


***


Layla yang selama ini telah diam dan menahan hatinya karena merasa Alexander masih memiliki perasaan untuknya, sekarang sedang meluapkan perasaannya, dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit di hatinya.


Sebagai seorang wanita penyabar yang tidak menginginkan hal lebih, hanya menginginkan sebuah balasan perasaan tulus dari tunangannya, tetapi itu pun tidak ia dapat sudah cukup untuk membuat Layla sangat kecewa dan sakit hati.


Walau Alexander belum mengatakan jika Alexander sungguh mencintai Kiara, tetapi Layla bisa tahu dengan jelas, baru kali ini Layla melihat seseorang yang begitu lama tetap berada di sisi Alexander.


Hatinya seperti tercabik, sebagai seseorang yang setia dan mencurahkan segala isi hatinya kepada lelaki yang sudah jelas mencintai orang lain, tidak ada yang lebih menyakitkan dari hal itu lagi.

__ADS_1


***


“Ponselmu berbunyi,” seru Kiara pada Alexander yang masih bersandar di pundaknya.


“Biarkan saja, palingan itu anak buahku,” ketus Alexander tidak mau mengangkat panggilan itu.


“Bagaimana jika itu penting ….” Belum sempat Kiara menyelesaikan ucapannya.


“Ck, berisik sekali, awas saja jika ini tidak penting akan ku hajar mereka .... lihat saja!” ketus Alexander langsung bangkit dan mengambil ponselnya dengan wajah yang merah dan membara.


Tetapi saat ia lihat yang menghubungi adalah Layla, Alexander jadi terdiam sebentar.


“Tunggu disini sebentar ya sayang, aku akan mengangkat telepon,”


Alexander mengusap rambut Kiara dan dia segera pergi ke balkon untuk mengangkat panggilan dari Layla yang sekarang memang tengah mabuk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2