
Episode 84 : Layla memberikan sesuatu.
***
Di kafe X,
Layla sudah berdandan sangat cantik, orang-orang melihat kearahnya karena dia begitu anggun, cantik dan terlihat lembut, dia sedang menunggu Alexander Grey.
Alexander Grey yang sudah menerima pesan itu, sedikit berpikir namun dia putuskan untuk datang menemui Layla, katanya Layla memiliki sesuatu untuk diberikan.
Alexander melonggarkan waktunya sebentar untuk menemui Layla di kafe yang sudah dikatakan oleh Layla.
Setelah dalam perjalanan beberapa saat, akhirnya Alexander sampai di kafe X, dia melihat jika Layla sedang menunggunya dan tersenyum begitu lepas saat melihatnya datang, senyuman itu sama dengan senyuman Layla yang ia kenal, senyuman lepas dari wanita yang lembut dan mudah terluka hatinya.
“Ada apa?” ketus Alexander langsung to the point, sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Layla.
Layla yang terlalu senang saat Alexander menemuinya, masih harus mengatur pernafasannya, dengan senyuman yang lebar dan manis, dia menjadi gugup.
__ADS_1
“Apakah kau sibuk? Ah tidak, apakah kau sudah makan siang? Ah tidak, apakah kau tidak bisa makan bersamaku sebentar?” karena gugup Layla bahkan tidak bisa memilih kata-katanya lagi.
Alexander yang melihat Layla tidak berubah sama sekali semakin kacau hatinya, dia menjadi marah dan hatinya campur aduk.
“Layla, aku sedang tidak dalam waktu untuk bermain-main seperti anak kecil denganmu, cepat katakan apa yang mau kau sampaikan?” dengan tegas Alexander memberitahu Layla, agar segera menyelesaikan urusannya.
“Ah, bermain-main ya,” gumam Layla masih tetap mempertahankan senyumannya, walau hatinya sudah hancur.
“Alexander, apakah kau marah karena aku pergi selama satu tahun? Aku ….” Layla melanjutkan ucapannya, tetapi saat mengatakan hal itu, Alexander mulai kesal dan tiba-tiba berdiri.
“Jika kau masih ingin mengatakan omong kosong, aku pergi!” ketus Alexander Grey hendak beranjak pergi.
Setelah Alexander duduk kembali, Layla membuka tasnya mengambil sesuatu,
“Aku ingin memberimu ini,” ucap Layla menyodorkan sebuah kotak pada Alexander.
Alexander melihat kotak itu dan membukanya, mata Alexander langsung melebar saat melihat apa yang ada dalam kotak itu.
__ADS_1
“Kau bilang itu sangat berharga bagimu, aku tadinya ingin memberikannya saat aku kembali, tetapi kau sama sekali tidak ingin bertemu dan berbicara denganku, jadi …” Layla masih tersenyum, memberikan senyuman terbaiknya dan menunduk, tidak melanjutkan ucapannya lagi, takut mengganggu Alexander Grey.
“Jangan bilang kau ….” Seru Alexander dengan mata yang lebar sembari mengambil cincin pemberian kakeknya, yang telah dibuang oleh ayahnya ke kolam dekat rumahnya dulu.
Alexander sudah mencari cincin itu sangat lama, Layla melihatnya hari itu, jadi saat Alexander sudah lelah dan hatinya masih lemah saat kakeknya meninggal, Layla menggantikan Alexander mencari cincin itu, dia tidak menyerah, menyelam kedalam air kolam yang dingin untuk menemukan cincin itu saja.
Entah kenapa saat itu dia tidak bisa memberikan cincin itu pada Alexander, entah apa yang terjadi pada dirinya saat itu, tetapi hanya dia yang tahu dan itu adalah rahasianya.
“Itu sudah lama, tidak masalah, sangat mudah untuk menemukannya, saat aku masuk kolam aku bisa langsung lihat,” ucap Layla tetap tersenyum.
Tetapi tentu saja Alexander tahu Layla berbohong, pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencari cincin ini.
.
.
.
__ADS_1
.