
Episode 67 : Konsisten dengan kenaifan dan kebodohanmu.
***
Masih di kediaman Alexander Grey,
Saat Kiara melihat orang-orang yang datang ke kediaman Alexander, Kiara sungguh sangat takut, dia mengenal sebagian orang-orang itu, ada beberapa adalah anak laki-laki satu jurusannya di kampus.
Ya, Alexander memang telah mencari tahu semua pesan buruk apalagi pesan yang mengatakan ingin membayar Kiara agar bisa tidur dengan mereka, tangan mereka dilukai oleh anggota Alexander Grey, para pemuda itu bergetar ketakutan saat melihat Alexander Grey datang sembari membawa Kiara.
Sedangkan Kiara yang sudah sangat ketakutan hanya menunduk bergetar, dia malu, takut dan bingung, mengapa Alexander harus melakukan hal ini sampai sejauh ini, terlalu arogan dan semakin membuat jarak yang sangat besar antara dirinya dan Alexander Grey.
Alexander tetap menarik tangan Kiara, dia duduk di kursi sofa besar yang ada ditengah-tengah mereka, dia langsung menarik Kiara sampai jatuh ke pangkuannya.
“Sayang,” bisik Alexander sembari mengusap rambut Kiara.
“Aku melakukan ini untukmu, sebagai balasan agar mereka hati-hati saat menggunakan tangan mereka, tidakkah aku sangat hebat? Ini juga adalah peringatan untukmu agar kau tahu sebenarnya sejauh apa perbuatan yang bisa aku lakukan,”
Ucapan dari Alexander itu membuat tubuh Kiara bergetar hebat, dia seperti sedang di cengkeram oleh hewan buas, tidak bisa melarikan diri dan pasrah untuk hidupnya.
Setiap kali Alexander melakukan sesuatu, saat itu Kiara akan terkejut dan takut, seolah setiap waktu berjalan dia mulai melihat jika lelaki ini adalah lelaki yang sangat berbahaya, dan tidak seharusnya dia bersamanya.
Setelah Alexander membisik dengan suara yang menekan kearah Kiara, segera Alexander melihat kearah para pemuda yang tidak jauh umurnya dari Kiara dengan mata yang sangat tajam.
“Apa yang kalian lakukan? Cepat minta maaf! Atau kalian mau tangan kalian benar-benar patah?” teriak Alexander membuat bsuasana semakin menekan dan mencekam.
“Ti … tidak Tuan,” seru mereka dengan wajah ketakutan dan bisa dilihat dengan jelas jika wajah mereka sudah pucat pasi setelah mendengar ucapan dari Alexander Grey.
Entah apa yang telah dilakukan oleh Alexander kepada mereka tetapi tangan mereka semua sedang diperban dan terluka, wajah mereka trerlihat sangat takut dan tubuh mereka bergetar hebat.
__ADS_1
“Ki … Kiara, ka … kami meminta maaf karena telah salah menilaimu, kami minta maaf karena telah mengirimkan pesan yang membuatmu sakit hati, kami tidak akan berani melakukannya sekali lagi!” seru mereka menunduk hormat tetapi dengan suara yang bergetar.
Kiara tidak berani melihat mereka, tetapi juga tidak tega melihat betapa takutnya mereka.
“Bagaimana sayang? Apakah kau akan memaafkan mereka? Atau apakah kau ingin aku melenyapkan mereka, kau tahu kau bisa melakukannya sekarang, hanya tinggal memohon saja padaku, aku akan membereskan semuanya,” bisik Alexander menyeringai, dia menggenggam tangan Kiara dan menatap Kiara dengan tajam.
Lagi-lagi perasaan seperti ini dirasakan oleh Kiara, perasaan seperti dilahap hidup-hidup, perasaan seperti dia susah berbicara karena ditekan oleh aura Alexander Grey.
Dengan tangan yang bergetar dan ketakutan yang hebat, akhirnya Kiara membuka suaranya, “Tu … Tuan, mohon lepaskan mereka saja, aku memaafkan mereka,” jawab Kiara tidak ingin sesuatu yang lebih mengerikan lagi terjadi.
***
Selama hidup Kiara belum pernah melihat orang yang sangat menyeramkan seperti Alexander, seolah hidup dan mati dan harga diri seseorang tidak bernilai dihadapannya, seolah dia bisa melakukan apapun dengan mudah.
Sama seperti yang dia lakukan pada keluarga angkatnya dan juga teman kampusnya yang mengiriminya pesan yang membuat Kiara tidak berani masuk kampus.
“Ho? Kau memang sangat konsisten dengan kenaifan dan kebodohanmu, padahal kau bisa saja melenyapkan mereka karena sudah menghinamu,” ketus Alexander memberikan kode pada bawahannya untuk memberikan dirinya rokok.
Kiara menelan salivanya, ditahap ini dia bahkan sudah tidak memiliki keberanian untuk melihat kearah Alexander apalagi menyahuti ucapannya seperti biasa.
Kearoganan yang ditunjukkan oloeh Alexander sudah cukup menjadi bukti bahwa Kiara sedang dalam bahaya, dia seperti sedang berjalan diatas tali dimana tali itu bisa putus kapan saja dan menghanguskan dirinya.
***
Alexander yang sekarang sudah merokok melihat kearah para pemuda yang sudah dilukai oleh para anggotanya.
“Seperti yang kalian dengar, dia memaafkan kalian, tetapi aku tidak! Aku sangat ingin menghancurkan tangan kalian sekarang juga, tetapi wanita bodoh ini ingin menyelamatkan orang yang menghinanya, untuk sekarang aku akan mengikutinya, tetapi jika lain kali salah satu diantara kalian ada yang mengusik dia lagi, maka bukan hanya tangan, kalian akan aku hancurkan sampai lenyap!”
Seru Alexander dengan wibawanya yang kuat, matanya yang sangat tajam namun dingin, senyumannya yang menyeringai, benar-benar tampilannya akan membuat semua orang ketakutan.
__ADS_1
Setelah ucapan Alexander, mereka semua diarahkan oleh anggota Alexander untuk segera kembali ke tempat mereka masing-masing, sedangkan Kiara yang sudah ketakutan itu hanya terdiam, tegang dan tidak melakukan apapun.
“Uhuk … uhuk!”
Tetapi asap rokok yang menyebar itu membuat Kiara terbatuk, Kiara segera menutup mulutnya karena takut jika suara batuknya akan memancing kemarahan Alexander.
“Apakah dia akan marah karena aku batuk? Aku bahkan sudah tidak berani melihatnya lagi, siapa sangka dia semenyeramkan ini, sebenarnya apa profesi dari lelaki ini,” benak Kiara mulai penasaran.
Karena terlalu fokus dengan dirinya dan masalahnya, Kiara sering lupa jika di sekeliling Alexander selalu saja banyak anggota yang memiliki wajah menyeramkan, apalagi diantara mereka ada tiga orang lagi yang auranya mirip seperti Alexander.
Harusnya dari hal itu Kiara harusnya menyadari hal yang aneh, tetapi dia sama sekali tidak berpikiran aneh sampai beberapa menit yang lalu saat ia lihat orang-orang yang datang memohon ampun dengan ekspresi wajah pucat pasi dan tangan yang terluka.
Dari tahap ini, Kiara benar-benar curiga jikalau Alexander sebenarnya adalah komplotan kriminal yang berbahaya.
Melihat Kiara terbatuk, Alexander segera mengodekan kebawahannya lagi untuk mengambil asbak dan mematikan rokoknya, dia tersenyum.
“Ini mengingatkan aku saat kau datang ke pelukanku malam itu, kau juga terbatuk karena asap rokokku,” seru Alexander tersenyum dan sudah mematikan rokoknya.
Tetapi tetap tidak ada jawaban dari Kiara, gadis biasa sepertinya disuguhkan pemandangan menyeramkan seperti tadi, ya tentu saja membuatnya syok.
“Sayang, apakah kau takut padaku sekarang?” tanya Alexander lagi menarik dagu Kiara dan menghadaokan wajahnya dekat sekali dengan wajah Kiara.
Karena sekarang mereka sudah bertatapan, Kiara sudah tidak bisa menutupi ekspresi ketakutannya, bahkan bibirnya sampai gemetaran karena takut.
.
.
.
__ADS_1