
Episode 74 : Pelukan membawa petaka.
***
Masih di acara pertunangan Bian Agler dan Bella,
Seperti pecahan kaca yang berserakan, semua ingatan indah akhirnya berubah menjadi luka, sebuah harapan yang telah dipupuk sekian lama berubah menjadi hampa, rasa sakit yang terus menerus tidak berhenti datang menyadarkan Kiara jika dunia ini akan selalu menjadi tempat yang kejam untuknya.
Alexander tentunya melihat kejanggalan itu, dia melihat wajah Kiara terlihat tertekan dan seperti sedang terluka, bahkan dia bersedih di pertuangan kakak angkatnya sendiri.
Matanya menjadi tajam seolah mencari tahu sebabnya, dia sudah mencium sesuatu yang tidak beres dalam hal itu.
Lalu matanya tertuju pada nama pasangan yang hendak bertuangan, Bian Agler dan Bella, mata Alexander semakin tajam lalu teringat akan nama Kak Bi yang disebutkan Kiara saat dia mendapatinya dibawah pohon.
“Ho, ternyata Kak Bi yang dia sebutkan adalah Bian Agler? Ternyata wajah polosmu telah menipuku, jadi ini adalah hubungan terlarang dengan calon kakak iparmu sendiri? Menjijikkan! Semua wanita memang sama!” geram Alexander yang langsung paham dan melihat Kiara dengan tatapan mematikan.
Alexander akhirnya paham mengapa Kiara bersikeras datang ke pertunangan ini, bukan karena keluarga angkatnya melainkan karena Bian Agler.
Selama acara Alexander menjadi diam dan tidak senang, wajahnya menjadi muram dan membuat orang takut mendekatinya.
Acara telah selesai, Kiara memilih untuk menghindari Alexander sebisa mungkin, dia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya, sepertinya matanya telah bengkak karena menahan tangis tadi.
Dia sedikit khawatir mengapa Alexander tidak mengiriminya pesan lagi, dan wajahnya yang berubah menjadi menyeramkan.
Tetapi bukan saatnya memikirkan keanehan pria itu, baru saja mantan kekasih dan seseorang yang Kiara cintai bertunangan, dia masih sibuk memikirkan hatinya dan tidak memiliki waktu untuk memikirkan perubahan sikap Alexander.
Kiara membasuh wajahnya dan melihat wajahnya di cermin, matanya memang sudah sedikit bengkak, “Ah, kenapa hidupku selalu menyedihkan, aku kira aku sudah melupakan perasaan tetapi setelah aku melihat ini aku jadi tahu ternyata aku hanya menyembunyikannya,"
"Perasaanku sama sekali belum berubah terhadapnya, sekarang di posisi ini aku telah menjadi sisi yang jahat karena tetap menyukai calon kakak ipar sendiri!” Kiara berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin, mengusap wajahnya yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Dia sadar ternyata selama ini dia hanya kabur dan menutupi perasaannya saja, ternyata hatinya masih sama, masih memiliki perasaan yang kuat untuk Bian, hubungan yang telah terikat sedari ia kecil, bagaimana mungkin memang bisa berubah hanya dalam beberapa minggu.
Kiara akhirnya menyudahi membasuh wajahnya, setelah ia mengeringkannya dia keluar dari kamar mandi dan melihat Bian sedang menunggunya di luar.
“Deg … Deg … Deg!”
Jantung Kiara langsung berpacu saat melihat Bian yang masih mengenakan jas dengan gagahnya menunggunya ditempat itu.
Rasanya seperti Bian masih memiliki perasaan untuk Kiara, tetapi Kiara segera menepisnya, “Tidak, hubungan kami sudah akan menjadi keluarga, jangan berpikiran yang tidak tidak, dan segeralah pergi Kiara!” geram Kiara langsung menunduk.
“Kiara,” seru Bian hendak meraih tangan Kiara, tetapi Kiara langsung menghindar dari berjalan dengan cepat.
“Tidak, tidak boleh, kenapa dia menungguku? Apa yang dia inginkan lagi?” tanya Kiara dalam hatinya, dia merasa perasaannya semakin kacau, rasa haru, marah, senang, tidak enak hati semuanya bercampur.
Rasanya dia penasaran mengapa Bian masih menunggunya padahal dia sudah menjadi tunangan kakak angkatnya, rasanya Kiara ingin tahu apakah Bian sebenarnya sedang menyembunyikan apa darinya, tetapi Kiara juga tahu semuanya telah terlambat bagi mereka dan tidak ada jalan untuk kembali.
Melihat Kiara menunduk dan mengindarinya membuat Bian sudah tidak tahan lagi, dia sangat merindukan Kiara dan tidak bisa menceritakan keluh kesahnya kepada siapapun, untuk hari ini saja dia ingin membagi perasaanya yang sesungguhnya, menceritakan jika semua ini hanyalah sandiwaranya untuk melindungi Kiara.
Kiara yang menyadari itu langsung terdiam, matanya membelalak dan jantungnya berdegup tidak karuan, rasanya seperti berpelukan dengan orang yang sangat ia rindukan.
Nafasnya menjadi sesak dan dadanya nyeri, pelukan lelaki yang sangat ia cintai dan inginkan ini terasa sangat erat dan hangat tetapi disaat yang bersamaan juga sangat menyakitkan.
'Tidak boleh, ini tidak boleh, aku sudah tidak dalam posisi memiliki harapan untuknya, tidak boleh ….' Kiara akhirnya menangis sampai tersedu-sedu.
'Tetapi kenapa aku tidak bisa melepasnya dan menyuruhnya pergi? Kenapa aku membiarkannya memelukku, kenapa hatiku sakit tetapi juga senang? Ada apa sebenarnya denganku?' gumam Kiara tertunduk dan menangis tersedu-sedu.
Setelah sekian lama, lelaki yang ia tunggu pulang, lelaki yang memberikannya harapan dan janji, lelaki yang memberikannya cinta akhirnya memeluknya, tanpa ucapan kata hanya pelukan yang memberikan banyak makna, rasanya waktu di sekelilingnya berjalan lambat, hangatnya pelukan Bian melelahkan benteng pertahanannya.
Hangatnya pelukan Bian, meruntuhkan persembunyian yang ia atur sedemikian rupa selama ini, melarikan diri ternyata tidak bisa melupakan perasaannya.
__ADS_1
“Tunggu aku sebentar lagi saja Kiara, sebentar lagi, kali ini tolong biarkan aku memelukmu sebentar saja, rasanya terlalu berat untukku akhir-akhir ini, hatiku terlalu hancur dan sakit jadi biarkan aku memelukmu sebentar saja,” suara yang pilu dan hancur terdengar dekat di telinga Kiara.
Kiara bahkan bisa merasakan tangan Bian yang bergetar hebat, rasanya seperti yang terluka ternyata bukan hanya Kiara ternyata Bian juga, melanggar janjinya sendiri ternyata juga menyakiti Bian.
***
Beban berat dan sakit hati yang dirasakan oleh Bian, dia ingin sebentar saja memeluk Kiara dan melepas penatnya, dia lelah bersandiwara tetapi belum juga urusannya usai, dia ingin segera menyelesaikan segalanya dan kembali pada Kiara, tetapi waktu baik tetap saja belum datang.
Mereka telah bersama dalam waktu yang lama, Kiara tahu jika sekarang dia yakin jika Bian sedang menyembunyikan sesuatu, dan sekarang Bian sedang hancur dan sedih, sikap dan gelegat Bian langsung ia kenali, tetapi tetap saja posisi mereka sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
Kiara meraih tangan Bian yang mendekapnya, “Bian, aku ….” Belum sempat Kiara melanjutkan ucapannya terdengar langkah kaki dari arah depan Kiara.
“Tak … Tak … Tak!”
Kiara yang teralihkan perhatiannya langsung melihat kearah asal suara sepatu itu, matanya terbelalak dan sekujur tubuhnya menjadi bergetar ketakutan setengah mati, lelaki itu datang dengan kewibawaan yang besar, senyuman yang mengerikan dan mata yang tajam.
Seolah dewa kehancuran sedang datang untuk melahap Kiara.
Rasa takut langsung melahap Kiara dan tubuhnya menjadi beku, seolah dia telah melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya.
.
.
.
Jangan lupa like dan komentar membangun nya ya.
Maaf juga jika kalian menemukan banyak sekali kekurangan di novel ini, dan jika ada kesalahan ketik di komen saja ya, agar langsung author perbaiki.
__ADS_1
Sayang kalian banyak banyak 🤍