Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Ucapan terimakasih yang memilukan!


__ADS_3

Episode 76 : Ucapan terimakasih yang memilukan!


***


Di kediaman Alexander Grey,


“Setelah semua harapanku hancur, untuk apa hidup lagi? Perkataannya benar, tidak akan ada yang menungguku, tidak akan ada yang akan mengetahui jika aku mati atau hidup, mungkin memang mati adalah jawabannya, ditempat gelap dan dingin ini aku akan meninggalkan segalanya, meninggalkan kekosongan dan harapan palsu yang terus berakar di hatiku,”


Air mata yang menetes itu seperti harapan terakhir Kiara, matanya yang kosong dan hatinya yang hancur membuatnya tidak ingin mencoba bertahan hidup lagi.


***


Di dunia ini ada hal yang dinamakan keberuntungan, kesialan, cinta, harapan dan penderitaan, rasanya semua perasaan itu akan membuat setiap individu menjadi kuat, tetapi harus ada fondasinya, harus ada tempat untuk pulang dan tempat untuk bersandar.


Dan bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk pulang, maka mati dan hilang arah adalah apa yang akan mereka terima.


Kiara tidak akan pernah tahu dia akan jatuh cinta pada Bian, juga tidak akan tahu jika Bian akhirnya mengkhianatinya.


Dan beberapa minggu lalu, dia juga tidak akan tahu jika dia akan bertemu lelaki yang katanya akan menjadi tempat peraduan dan tempat untuknya pulang.


Tangan hangat lelaki yang meraihnya dari rasa sakit itu ternyata menjadi tangan yang sama yang akan mengakhiri hidupnya.


“Kenapa hatiku sakit sekali? Lebih sakit daripada melihat Kak Bian bertunangan dengan Kak Bella ….” Kiara kembali menangis ditempat gelap itu.


“Jika ingin membiarkan aku mati sendiri, kenapa meraih tanganku dan memberiku harapan? Kenapa mengatakan perkataan menyakitkan seperti tadi, kenapa memperjelas jika memang tidak ada tempat untukku pulang?”


Kiara kembali mengingat ucapan kejam Alexander Grey, hatinya menjadi semakin sakit dan penderitaan yang ia rasakan seperti memberikan luka parah di hatinya, dia sampai sesak dan rasa perih yang ia rasakan tidak kunjung hilang.


Setelah beberapa saat ….


Sudah sekitar beberapa jam Kiara berada di ruangan gelap itu, dia tidak tahu apakah ini sudah malam atau masih sore, matanya yang kosong sudah tidak memiliki harapan apapun, darah mengering yang ada di sikunya sudah tidak terasa perih lagi.


“Ah, jika aku mati mungkin kehidupan semua orang akan menjadi lebih baik kan? Bian akan bersama dengan Bella, orangtua angkatku akan menjadi lega karena tidak harus bersandiwara lagi, dan Alexander … Alexander akan menemukan mainan barunya, aku hanya sebuah mainan usang yang sudah dibuang, tidak dibutuhkan lagi dan disingkirkan ….” Dari matanya yang kosong air matanya lagi-lagi mengalir.

__ADS_1


“Bisakah aku mati dengan cepat? Aku sudah lelah,” seru Kiara pelan dan lemah, dia jatuh ke lantai dan menatap kegelapan, dia menatap kegelapan dengan matanya yang kosong dan hampa, tanpa sedikitpun harapan disana.


Ruangan yang gelap ini tidak asing bagi Kiara, dia juga mengingat jika dulu setiap kali di hukum dia akan dikurung di ruangan gelap oleh orangtua angkatnya, dia juga akan dibiarkan sendiri didalam ruangan tanpa memberikan makan atau minuman.


Bedanya, sekarang yang melakukan hal itu bukan orangtua angkatnya melainkan Alexander Grey, seseorang yang memberinya harapan palsu dan hanya beberapa saat langsung menghancurkannya.


Kiara dengan perlahan mulai memejamkan matanya, dia berharap saat bangun nanti dia sudah ada di dunia yang berbeda, dia berharap dia tidak akan kembali ke kehidupan menyedihkan yang selama ini ia jalani.


***


Disisi yang berbeda, di ruangan pribadi Alexander dimana dia melihat Kiara menderita rasanya ada rasa sakit yang perih di dada Alexander Grey.


“Tuan,” panggil Pak Roy yang melihat keadaan itu.


“Hm?”


“Apakah tidak berlebihan? Sepertinya Nona Kiara sudah dehidrasi, jika dibiarkan terus menerus dia bisa saja ….” Belum sempat Pak Roy melanjutkan ucapannya, mata Alexander langsung menatap tajam dan memicing kearah Pak Roy.


Rasanya hatinya masih murka dan membara, dia akan memberikan pelajaran bagi siapa saja yang berani melewati garis dengannya, apalagi perselingkuhan dan kebohongan.


“Tring … Tring … Tring!”


“Halo Bos? Seru Yuza yang sedang dihubungi oleh Alexander Grey.


“Selidiki mengenai hubungan Kiara dan Bian Agler, aku tunggu secepatnya!” seru Alexander langsung mematikan panggilan itu.


Lalu setelah itu mata Alexander tertuju lagi pada cctv yang menunjukkan keadaan Kiara, dia melihat Kiara sudah tersungkur ke lantai, memejamkan mata seolah-olah Kiara tidak memiliki harapan untuk hidup, seolah Kiara tidak ingin meminta tolong atau memohon ampun padanya.


“Aku ingin tahu sejauh apa kau bisa bertahan Kiara, apakah kau akan memohon ampun atau memilih mati!” ketus Alexander dengan matanya yang tajam menatap langsung kearah layar.


Sepertinya Alexander benar-benar murka dan serius sekarang, dia sama sekali tidak akan menolong Kiara jika Kiara tidak memohon ampun, hatinya yang dingin dan kejam sudah tidak akan mengasihani Kiara lagi.


Dua hari kemudian,

__ADS_1


Kiara kembali membuka matanya, tetapi masih gelap, dia menemukan dirinya masih hidup, tetapi dia haus dan lapar sekali, tubuhnya sangat lemah dan bergetar karena dehidrasi.


“Sudah hari ke berapa ini? Aku sudah kehilangan tenagaku, suaraku sudah habis, apakah aku sudah akan mati?”


Kiara tidak bisa bergerak, matanya yang kosong menjelajah seluruh ruangan gelap gulita itu, “Ah, mungkin ini akan menjadi pemandangan terakhirku, akhirnya aku bisa melepaskan bebanku dan pergi, walau tidak akan ada yang tahu dan menyadarinya,” seru Kiara dengan suara yang lemah, dia sudah ditahap membuka matanya saja sudah sulit.


Setelah terdiam begitu lama, sangat menyedihkan memang menunggu kematiannya sendiri, tetapi mati baginya adalah sebuah keinginan sekarang.


Seseorang yang tidak diinginkan dan dibutuhkan, mungkin memang benar perkataan Alexander jika saat ia mati tidak akan ada yang menyadari nya.


Matanya yang kosong itu mulai terpejam tetapi mulutnya mengucapkan sesuatu yang membuat Alexander berlari dan jantungnya berpacu sangat kencang.


Rasa sakit yang menghujam nya yang belum pernah ia rasakan selama ia hidup, dia berlari kearah Kiara.


Kiara sebelum menutup matanya, sebelum semuanya gelap dan sebelum ia menghilang, dia ingin mengucapkan terimakasih pada Alexander Grey, karena telah memberinya harapan beberapa minggu terakhir, juga rasa terimakasih karena telah membantunya mengakhiri hidupnya yang sudah tidak memiliki harapan.


Kiara yang tahu jika Alexander sedang melihat dirinya dari layar oleh cctv mengucapkan terimakasih dengan bibirnya, dia mengucapkan huruf per huruf agar Alexander mengerti, dia sudah terlalu lemah untuk bisa mengeluarkan suara, jadi dia hanya mengucapkan terimakasih hanya dari gerakan bibir.


Setelah itu dia sudah pasrah, dia memejamkan matanya dan semuanya menjadi gelap.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentar membangun nya ya.


Maaf juga jika kalian menemukan banyak sekali kekurangan di novel ini, dan jika ada kesalahan ketik di komen saja ya, agar langsung author perbaiki.


Sayang kalian banyak banyak 🤍

__ADS_1


__ADS_2