
Episode 77 : Kenapa meraih tanganku kalau untuk melepasnya?
***
Masih di kediaman Alexander Grey,
Rasanya terlalu lelah untuk berjuang, siapa yang sangka menyerah bisa begitu mudah dan melegakan hati, pergi dengan tenang dan meninggalkan semua rasa sakit.
Gelap yang selama ini melekat dalam kehidupannya bisa ia lepas, perjuangan dan rasa lelah di pundaknya bisa ia singkirkan.
Sudah cukup baginya untuk selalu kabur dan melarikan diri dari masalahnya, tentang Bian dan perasaannya biar lah lenyap bersama kegelapan.
“Ah, aku bisa mencium aroma coklat panas disini? Apakah ini surga?” seru Kiara merasa penciumannya menangkap bau coklat berada dekat dengannya.
Perlahan Kiara membuka matanya, samar samar ia bisa lihat langit-langit kamar yang familiar.
“Heh, jangan bilang aku gentayangan di rumah si arogan itu, apakah aku sudah menjadi roh yang bergentayangan sekarang dan lagi tetap terkurung di rumah lelaki arogan itu? Tidaaakkk!” teriak Kiara merasa badannya terasa sangat lelah dan ngilu.
Dia kemudian merasakan nafas hangat yang menyentuh wajahnya, lalu ia menoleh ke samping asal dari nafas itu.
“Aaaaa!”
Lagi-lagi Kiara berteriak, di sampingnya dia melihat Alexander sedang berpangku tangan sedang melihatnya dengan lekat sekali.
Dari piyama yang digunakan oleh Alexander, bisa dipastikan jika hari sudah malam.
“Aku, aku kenapa masih disini? Apa yang terjadi?” seru Kiara tidak paham dengan apa yang sedang ia alami, apalagi lelaki yang sedang ada di sisinya ini, entah kenapa selalu saja ada dimanapun dia berada.
“Apakah kau memang sebodoh itu? Disuruh mati malah mau mati, tidak meminta tolong padaku!” ketus Alexander masih berpangku tangan, matanya tajam sekali, membuat orang tidak berani menatapnya.
__ADS_1
“Bagaimana caraku meminta tolong? Kau menutup pintunya,” sahut Kiara dengan wajah yang menunduk.
Dia akhirnya sadar entah apa yang telah terjadi saat ia pingsan, tapi sepertinya Alexander datang menyelematkan nya.
“Aku kan sudah bilang ada cctv, kau tinggal melambaikan tangan saja! Apa susahnya! Ha!” sekarang nada suaranya semakin meninggi membuat Kiara terkejut dan terdiam.
'Cih, memangnya ini uji nyali apa, kan yang mengurungku disana juga adalah kau, kenapa kau yang jadi marah-marah!! Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya!' geram dalam hatinya, Kiara masih terdiam dan tidak mau melihat kearah Alexander.
“Lupakanlah itu! Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” sekarang nadanya sudah menjadi datar, matanya tetap tajam dan ekspresinya masih muram.
Alexander ingin mendengar kata permintaan maaf karena ketahuan selingkuh dari nya, dia masih sangat marah tetapi dia memang sama sekali tidak bisa menghabisi Kiara, saat melihat Kiara pingsan di ruangan gelap itu, rasa panik berlebihan langsung menyerang Alexander dan membuatnya berlari secepat mungkin ke ruangan itu.
'Iya Kiara! Lagian kau sudah selamat dari kematian, katakan saja apa yang mau kau katakan! Apapun yang akan dia lakukan biarkan saja!' gumam Kiara meneguhkan hatinya dan akan mengatakan apa yang ada di benaknya.
Dia akan berterus-terang dan tidak ingin terus menerus membohongi dirinya.
“Tu … Tuan,” Kiara kembali memanggil Alexander dengan sebutan tuan, membuat Alexander mencengkeram kasur dan wajahnya sudah semakin menujukkan ekspresi yang sangat marah.
Disaat Kiara masih berbicara, Kiara sedikit melirik kearah Alexander, ekspresi Alexander yang sekarang benar-benar sangat menyeramkan, membuat Kiara sangat gugup untuk melanjutkan ucapannya.
“Ja … jadi,”
“Brak!”
Dengan kuat Alexander langsung mendorong dan menghempaskan Kiara ke kasurnya, nafasnya sangat berat dan memburu, cengkeraman tangannya di bahu Kiara terasa sangat sakit.
“Sampai kapan kau ingin selalu pergi dariku? Sedari awal kau sama sekali tidak ingin ada di sisiku kan? Apakah karena si Bian itu? Hm?” Alexander membisik dan menekan tubuh Kiara, walau Kiara baru saja siuman dan bangun, Alexander sudah tidak bisa menahan kemarahannya.
Bahkan saat Alexander mengampuni Kiara, Kiara tetap saja ingin pergi darinya, seolah semua yang dilakukan oleh Alexander sama sekali tidak berarti bagi Kiara.
__ADS_1
“Bu … bukan karena Kak Bian, Tuan, aku hanya tidak ingin menjadi wanita simpanan, aku ingin menjalani kehidupan biasaku, juga Tuan bukannya sudah punya calon istri?” dengan tetap bergetar ketakutan Kiara memberanikan dirinya untuk berbicara.
Dia memang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun lagi, apalagi menjadi seorang simpanan, setelah kejadian di ruangan gelap itu sepertinya Kiara sudah tidak takut dengan apapun lagi.
Alexander semakin memperkuat cengkeramannya di bahu Kiara, menodorngnya sampai terasa sangat menekan ke kasur.
“Ah, sa … sakit,” keluh Kiara pelan, dia meringis kesakitan karena tenaga lelaki ini sangat kuat.
“Kau bahkan membelanya, heh? Apakah kau lupa siapa aku? Ingatkan aku bisa melakukan apapun, kulihat kau sangat mencintai lelaki yang aku hajar tempo lalu itu, bagaimana jika aku menghabisinya? Jika kau tahu aku akan menghabisinya saat kau masih mencoba pergi dariku, apa yang akan kau lakukan?”
Entah kenapa kemarahan yang meledak-ledak membara dalam diri Alexander setiap kali Kiara menyebut nama Bian, rasanya dia ingin memusnahkan Bian dan menghapus nama Bian dari seluruh dunia, agar Kiara tidak akan menyebutkannya lagi.
“Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus aku, kenapa selalu mengancam ku, menyuruhku mati lalu menyelamatkanku,"
"Menyuruhku pulang kesini tetapi selalu memberikan ancaman yang mengerikan padaku! Sebenarnya apa yang kau inginkan!” Kiara sudah tidak tahan, dia berbicara dengan sisa tenaga yang ia punya, air mata yang entah kenapa sering mengalir akhir-akhir ini membanjiri pipinya.
“Kau meraih tanganku tetapi juga melukainya, kau bilang ingin tidur denganku tetapi kau membawa calon istrimu ke rumah, aku ingin pergi tetapi kau juga menahan dengan memberi ancaman, kenapa kau tidak biarkan saja aku mati di ruangan itu! Kalian semua hanya mau memberikan aku harapan palsu, seperti orangtua angkatku, seperti Bian juga kau, kalian meraih tanganku tetapi dengan mudah melepaskannya! Kenapa?”
“Kenapa meraih tanganku kalau ingin melepasnya, kalian tidak tahu betapa hatiku sakit selalu diperlakukan tidak adil! Apakah kalian puas?”
Kiara akhirnya mengeluarkan semua sakit hatinya, dia berteriak dan menangis, disaat Kiara berteriak dan menangis sekuat yang ia bisa, cengkeraman tangan Alexander mulai melonggar, dia terdiam melihat wajah Kiara, terlihat sangat lemah dan penuh penderitaan.
“Aku tidak akan melepaskan tanganmu!” suara penuh kepercayaan diri dan menggema di seluruh ruangan, mengejutkan Kiara dan membuatnya terdiam.
Sama seperti pertama kali Alexander meraih tangannya ditengah kerumunan yang menghinanya, meraih tangannya dan membawanya pulang, seolah kata itu sangat mudah keluar dari mulut Alexander tetapi terlalu berarti bagi Kiara.
.
.
__ADS_1
.
.