Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Ditolak mentah-mentah.


__ADS_3

Episode 48 : Ditolak mentah-mentah.


***


Kiara menutup pintu kamar mandi dengan sopan dan pelan dan langsung bersandar dibalik pintu.


“Tunggu dulu, ja ... jadi barusan dia menolak aku mentah-mentah? karena tubuhku tidak bagus?"


"Wah wah, aku baru sadar sekarang! Apakah aku harus marah atau senang! Ahh! Aku tidak peduli, aku malu sekali sekarang, huhu!” Kiara memukul-mukul udara karena kesal dan malu.


Bagaimana tidak, dia sudah menggunakan cara terakhirnya untuk bisa pergi yaitu dengan menyerahkan dirinya namun nyatanya ditolak mentah-mentah.


“Inilah jadinya jika aku menganggap tinggi diriku, pantas sajalah dia mengatakan itu, mengingat para wanita cantik yang menempel di sekelilingnya selama ini dan Nona Layla, jika dibandingkan dengan aku, aku hanyalah remah-remah rengginang!”


Kiara malu sekali, jika ada lubang untuk tempat agar dia bisa sembunyi, dia sudah sembunyi sekarang.


Entah bagaimana lagi dia mengangkat wajahnya di hadapan Alexander setelah ditolak mentah-mentah.


***


Sedangkan di kamar mandi,


“Ingin ku makan dia sekarang tetapi kenapa aku tidak bisa? dasar Alexander bodoh! kenapa kau menjadi lemah jika melihat si siput itu?!” ketus Alexander memukul-mukul air dalam bathtub.


Dia kesal dengan dirinya sendiri, “Belum terlambat, dia kan yang menyerahkan dirinya sendiri? Kenapa aku harus menahan diriku? Setelah ini aku akan tunjukkan kepadanya apa konsekuensi dari ucapannya!” ketus Alexander dengan cepat merubah pikirnya.


Dia mandi dengan cepat, dia merasa jika yang menyerahkan dirinya adalah Kiara jadi tidak masalah jika dia melakukan hal itu.


***

__ADS_1


Segera Alexander mengenakan handuknya di pinggang, dia keluar dengan gagah, berharap bertemu Kiara di atas ranjang, tetapi dia tidak melihat Kiara di kamarnya.


“Loh? Kemana gadis bodoh itu?” ketus Alexander mencari-cari Kiara.


“Apakah dia kabur lagi? Tapikan kakinya sakit?” geram Alexander sudah memikirkan hal yang aneh.


Dia keluar dari kamarnya hanya mengenakan handuk saja, dia berteriak memanggil Roy.


“Pak Roy!” serunya menggema.


“Iya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” dengan cepat dan hormat, Roy datang dan menunduk.


“Dimana si bodoh itu?” teriak Alexander berkecak pinggang.


“Ma ... maksud anda Nona Kiara?” Tanya Roy memperjelas.


“Umm, Nona Kiara sedang memasak Tuan, dia ada di dapur, saya sudah melarang tetapi beliau memaksa, katanya Tuan memerintahkan dia untuk memasak,” dengan jujur Roy menjawab.


Mengetahui jika Kiara masih dirumahnya membuat Alexander lega, dia segera melangkah dengan cepat ke dapur.


Dengan hanya mengenakan handuk, dengan arogannya ia melangkah, dia akhirnya menemukan Kiara, sedang memasak dengan serius.


“Benar-benar gadis yang penurut!” ketus Alexander duduk di kursi yang langsung menunjukkan pemandangan seluruh dapur.


Dia berpangku tangan melihat gerak-gerik Kiara.


“Kenapa aku bisa kasihan padamu sih? Melihatmu berjuang untuk hidup membuat aku ingin mendukungmu!” gumam Alexander berpangku tangan memperhatikan Kiara.


Dia merasa jika perasaan aneh yang dia rasakan adalah perasaan iba terhadap perjuangan hidup Kiara, tidak mungkin lebih dari itu.

__ADS_1


Kiara yang terlalu serius dengan masakannya hendak menoleh mengambil bumbu yang kurang.


Dia melihat di hadapannya sudah ada Alexander tidak mengenakan baju atasan, berpangku tangan dan melihatnya dengan tajam.


“Aaahhh!” Kiara langsung menutup matanya dan berteriak.


“Ck! Si mesum ini! Kenapa dia bisa ke dapur tanpa baju sih? Gila!” ketus Kiara heran dalam hatinya.


“Heh, masih pura-pura malu?” ketus Alexander menyeringai, dia berdiri dan sekarang datang mendekat.


“kau sudah membuka bajumu di hadapanku, kau juga mencium aku, tetapi sekarang kau pura-pura malu karena melihatku tidak mengenakan baju? Sandiwara mu bagus sekali sayang!” bisik Alexander di telinga Kiara dekat sekali.


“Hah?"


"Aku tidak menyangkal jika aku memang membuka bajuku di hadapan Tuan, tetapi yang mencium bukanlah aku, tetapi Tuan, dan lagi ....”


Belum sempat Kiara melanjutkan ucapannya, Alexander langsung memeluk Kiara dari belakang.


“Diamlah, kau tetap saja berisik seperti biasa, cepat siapkan makan malam untukku, jangan salah sangka aku memelukmu karena aku merasa kedinginan!” ketus Alexander tersenyum.


“Iyalah kedinginan, tidak pakai baju! Dasar aneh! Ah ya sudahlah aku tidak akan bisa waras jika terus melawan dia berdebat! Diam saja dan biarkan seperti ini!” ketus Kiara tidak habis pikir dengan jawaban Alexander yang nyeleneh.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2