
S2. Episode 215 : Perubahan rencana dari Alexander.
***
Setelah pertemuan antara Alexander dan Nelson, ada sebuah keputusan yang telah diambil.
Dimana Nelson Dutch sekarang sudah tidak memiliki kelemahan, Goran tak akan bisa mengontrol Nelson Dutch untuk tidak menyerangnya lagi.
Karena sekarang pintu untuk kebahagiaan nya sudah terlihat, jika istrinya melihat putri mereka masih hidup maka kesembuhan Adelia sudah bisa dipastikan.
Kemarahan hati Adelia lambat laun juga akan sembuh.
Alexander sudah kembali dari pertemuan mendadaknya dengan Nelson Dutch.
Dan sekarang Nelson melangkahkan kakinya kembali ke ruangan istrinya, dimana disana istrinya sudah tertidur karena kelelahan meneriakinya sejak tadi.
"Sayang ... apakah kau tahu? anak kita masih hidup ..."
Nelson membisik pelan sekali, dia tersenyum dan akhirnya dia menitikkan air matanya di sisi istrinya yang terlelap.
Perasaan cintanya kepada istrinya, belahan jiwanya satu-satunya, Nelson akan terus berada di sisi istrinya sampai akhir hayatnya.
"Kau pasti akan sembuh kan? iya kan?"
"Aku sangat sangat merindukan masakan buatan mu, aku merindukan saat dimana kah mengomel kepadaku karena bekerja terlalu larut ..."
"Aku rindu saat kita kencan dan kau tertidur di bahuku, aku rindu semua kenangan itu ..."
"Saat aku sudah membereskan musuhku, dan mempertemukan mu dengan putri kita, aku akan menagih semuanya, kenangan indah yang tertunda harus kita lunasi di masa tua kita!"
"Aku mencintaimu istriku, selalu begitu, tak akan pernah berubah ..." Nelson memiliki kesetiaan yang tak bisa diadu.
Dia mengecup kening istrinya yang masih tertidur, lalu memeluknya sesaat.
Dia ingin berbagi kebahagiaan sejenak, walau untuk saat ini Adelia tak akan mengerti karena belum bisa bertemu dengan Kiara.
Tetapi Nelson ingin menyampaikan kebahagiaan nya melalui pelukan dan perasaannya.
***
Disaat yang bersamaan,
Di dalam mobil Alexander Grey,
"Tring ... Tring ... Tring!"
Alexander segera menghubungi Yuza yang sudah standby untuk menerima perintah selanjutnya dari Bosnya.
"Halo Bos?"
__ADS_1
Yuza dengan sigap langsung duduk di depan monitor nya dan juga mempersiapkan sambungan kepada Fin dan Sin yang sekarang berada di wilayah musuh.
"Yuza ... kesepakatan ku dengan Nelson berhasil, cepat sambungkan aku dengan Sin dan Fin, ada perubahan rencana ..." seru Alexander sedang menepikan mobilnya di pinggir sebuah danau dekat rumah sakit yang baru ia kunjungi.
"Baik Bos ..." seru Yuza segera mengaktifkan komunikasi antara Bos nya dengan Fin dan Sin.
"Tring!"
Sambungan yang tak bisa diakses siapapun dari luar segera terhubung kepada Sin dan Fin.
Ketika sambungan itu terhubung, Sin langsung heboh dan Fin hanya bisa mendengarkan kehebohan Sin di sampingnya.
"Bos, katanya kau sudah menikah? saat kami berada di lokasi musuh ... teganya kau Bos!"
"Kami mempertaruhkan nyawa sedangkan kau bersenang-senang dengan istrimu ..."
"Aku juga mau mendapatkan pacar ..."
Banyak hal langsung diucapkan oleh Sin, semua dari mereka langsung tahu jika Sin sebenarnya hanya merindukan kebersamaan mereka saja.
Berada jauh dari saudaranya membuat Sin kesal dan bosan, ingin menyelesaikan misi dengan cepat dan bisa bermain-main dengan rekan-rekannya.
"Haaahh!"
Alex menghela nafasnya dalam dan tahu jika Sin akan berbicara sangat banyak.
Ketika Alex mengatakan hal itu, baik Sin, Fin maupun Yuza langsung terdiam mendengarkan Bos mereka.
"Aku sebenarnya sudah mengetahui dalang dari pembunuhan George Serge, Kakekku dan juga dalang yang membakar desa kalian ..."
Alex mengatakannya dengan nada yang serius.
Ketika mendengar mengenai pembakaran desa yang merupakan kenangan paling buruk selama hidup Fin, Sin dan Yuza.
Ekspresi mereka segera berubah menjadi sangat mengerikan dan serius.
"Dia adalah sahabat Kakek, namanya Goran ... ya, dia adalah seorang politikus penting di pemerintahan, dan menutupi dirinya sebagai orang yang bersahaja!"
"Dahulu dia menjebak Kakekku dengan cara membakar desa kalian, menjebak Kakek dan menghabisi nya, begitu juga dengan musuhnya yang lain!"
"Dia bahkan tak segan menghabisi banyak nyawa demi idelogi gilanya yang ingin mengontrol segala hal dibalik layar!"
"Nama organisasi nya adalah Dawn, simbol yang kita cari selama ini adalah nama yang diciptakan Kakekku sendiri!"
"Aku akan segera menyusul kalian kesana satu minggu lagi, dimana saat perkumpulan besar organisasi itu yang hendak merekrut kalian!"
"Kita sudah mendapatkan bala bantuan dari Nelson Dutch ..." Alexander membahas mengenai Nelson Dutch memberikan Fin dan Sin terkejut bukan main.
"Nelson Dutch?"
__ADS_1
Bahkan Fin sampai mengulang namanya karena tidak yakin bagaimana Bosnya bisa meyakinkan Nelson, orang paling misterius dan tak bisa disentuh itu.
"Ya ... ceritanya panjang, intinya Nelson Dutch adalah Ayah kandung Kiara ... kita kesampingkan dulu mengenai dia ..."
"Kalian harus fokus saat pertemuan besar itu, jangan membuat kesalahan sedikitpun, bantuan Nelson Dutch akan membuat dia kalah telak dan tak akan bisa menang dari kita!"
"Mari kita habisi dia dengan meriah, sama seperti dia mengambil orang-orang yang kita sayangi!" geram Alexander memajukan rencana nya untuk menghabisi Goran dan para antek-anteknya.
Bantuan Nelson Dutch memang sangat besar, sesuai dengan ucapan dari ayahnya sendiri.
Dimana bantuan Nelson Dutch akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam misi Alexander menghabisi Goran.
"SIAP BOS!"
seru Fin dan Sin langsung kompak, mereka sedang dalam semangat api yang sangat besar.
Bagaimana selama ini musuh utama mereka ternyata selalu muncul di layar kaca.
Ialah Goran yang dikabarkan sebagai politikus yang membela rakyat kecil, tetapi nyatanya malah menghabisi mereka dari belakang layar menggunakan nama nama besar yang sudah ia kontrol.
Pemerintah benar-benar dia kontrol dari belakang layar sama seperti ideologi dan rencananya.
Fin dan Sin segera mengakhiri panggilan itu karena harus menyusun strategi lapangan untuk bisa menghabisi Goran tanpa harus menarik perhatian lebih.
Setelah panggilan dengan Fin dan Sin terputus, Yuza adalah orang terakhir yang masih terhubung dengan Bosnya.
"Bos ..."
Yuza memanggil Bosnya, ada hal yang ingin ia tanyakan secara pribadi.
"Ada apa Yuza? apakah ada yang kurang jelas?" balas Alexander yang hendak mengemudikan mobilnya untuk segera pulang ke kediamannya.
"Ada yang ingin aku tanyakan, Bos mengatakan tahu musuh kita setelah melihat beberapa foto ditunjukkan oleh Tuan John, jadi ... apakah selama ini Tuan John sudah tahu pelaku nya? jika dia sudah tahu mengapa tidak mengatakannya kepada kita?" tanya Yuza sedikit terusik dengan hal itu.
Jika John Grey sudah tahu musuh mereka, lalu mengapa tidak memberitahu mereka sejak awal.
Saat mendengar itu Alexander terdiam, namun ia tahu alasan ayahnya.
.
.
.
.
Author : Jangan lupa dukung karya ini dengan cara berikan like nya ya 🤍
Btw masih ada dua episode lagi nyusul ya sebentar lagi.
__ADS_1