Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Hari pertunangan Bian Agler.


__ADS_3

Episode 72 : Hari pertunangan Bian Agler.


***


Keesokan harinya di kediaman Alexander Grey,


Mood Alexander Grey sedari tadi entah mengapa sangat meledak-ledak, ekspresinya saja sudah terlihat suram, melihat Kiara bersiap-siap untuk pergi ke acara keluarga angkatnya membuat Alexander kesal dan menunjukkannya dengan kemarahan kepada Pak Roy dan semua pelayan yang ada di sekelilingnya.


Begitu juga dengan Kiara tentunya, tidak akan luput dari kemurkaan Alexander, setiap kali Kiara selesai memakai pakaian yang sudah tersedia, Alexander akan berteriak.


“Siapa yang suruh kau paku gaun se seksi itu? GANTI!”


“Siapa yang memilihkan baju itu? Pak Roy kah yang menaruh baju itu di lemari! Buang!”


“Ganti! Terlalu terbuka!”


Kiara sudah lelah dan kemarahannya sudah memuncak.


Sedari tadi dia disuruh ganti pakaian, padahal pakaian yang ada di lemari yang telah di sediakan oleh Pak Roy semuanya sopan dan tertutup, karena memang Alexander telah memerintahkan Pak Roy saat lalu untuk membuang semua pakaian Kiara dan menggantinya dengan pakaian baru yang tertutup.


“Ada apa dengan rasa makanan ini? Apakah kalian becus bekerja?!” lagi-lagi semua yang ada disekitar Alexander kena omelannya pagi itu, kediamannya benar-benar ramai karena bentakannya.


“Tuan, umm, maksudku sayang, ini adalah gaun paling sopan yang ada di lemari, aku sudah hampir terlambat, jadi boleh kan? Kau sudah janji tadi malam,”


Ucap Kiara mengenakan gaun pilihan terakhirnya.


'Cih, aku sudah menggunakan tubuhku sebagai taruhan, dan kau masih kesal karena aku akan pergi? Dasar, membuat orang susah dan capek saja!' geram Kiara dalam hatinya.


Alexander sekarang sedang mengenakan piyamanya, duduk di ruang makan dan sarapan.


Mendengar ucapan Kiara, Alexander segera melihat Kiara dari atas kebawah, memperhatikan detail gaun panjang yang dikenakan oleh Kiara.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba matanya memicing, “Apakah kau harus pergi? Tidak bisakah kau disini bersamaku saja? Kedepannya aku akan sangat sibuk dan akan jarang pulang,” Alexander kembali membujuk Kiara agar tidak pergi.


Walau sebenarnya tadi malam dia sudah setuju tetapi entah kenapa dia tetap tidak ingin Kiara pergi kesana.


“Sayang, kau sudah janji, aku harus pergi kesana, hanya sebentar kok, setelah itu aku akan langsung pulang,” dengan memelas dan suara yang paling lembut dia membujuk Alexander yang terlihat kesal dan tidak suka.


“Kau keras kepala sekali! Yasudah cepat pulang!” ketus Alexander berpangku tangan dan menujukkan raut wajah muram saat dia tidak berhasil membujuk Kiara untuk tinggal dengannya saja hari ini.


Akhirnya Kiara bisa segera pergi dari kediaman Alexander, setelah melakukan segala usaha akhirnya dia bisa membuat Alexander setuju membiarkannya untuk keluar rumah Alexander dan pergi ke acara keluarga angkatnya.


Baru juga Kiara melangkah keluar sebentar, Alexander sudah semakin marah dan kesal.


***


Dia memarahi semua orang yang ada di rumahnya, rasanya semua mengesalkan baginya hari ini, Pak Roy yang sudah tidak tahan dengan teriakan Alexander memiliki ide brilian agar Alexander tidak marah dan kesal seharian lagi.


“Tuan,” seru Pak Roy dengan sikap sopan dan hormat.


“Umm, kenapa Tuan tidak ikut Nona Kiara saja, saya dengar hari ini Kakak angkat Kiara bertunangan dengan salah satu putra keluarga Agler, bukankah anda memiliki hubungan dengan keluarga Agler? Itu bisa menjadi alasan yang bagus untuk datang kesana,”


Dengan wajah santai dan senyuman yang tergambar di wajahnya, Pak Roy merasa telah memberikan saran paling jitu yang pernah ia sarankan.


Mendengar itu Alexander segera berdiri, matanya langsung berbinar dan senyumannya mereka, “Haha, benar juga, kenapa aku tidak memikirkan ini?” ucap Alexander sekarang wajahnya sudah tidak muram malah sudah berbinar-binar.


“Pak Roy, persiapkan semua yang dibutuhkan, aku akan pergi kesana, hoho,” Alexander segera bangkit dan membersihkan dirinya, dia bahkan bergumam lagu karena senang akhirnya dia memiliki alasan untuk pergi kesana dan melihat Kiara.


“Baik Tuan,” sahut Pak Roy akhirnya tuannya sudah senang kembali, itu adalah tugasnya untuk menenangkan hati tuannya, jadi Pak Roy akan melakukannya dengan senang hati.


***


Sedangkan di kediaman Bella,

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan akhirnya Kiara sampai ke rumah dimana dia sebelumnya tinggal, hanya dari pekarangan dan taman rumahnya dia melihat betapa indah dekorasinya, dia melangkah masuk dan semua mata langsung tertuju padanya.


Seperti yang di duga oleh Kiara, ayah dan ibunya menyambutnya dengan senyuman dan kehangatan, karena ada media yang meliput juga banyak tamu yang sedang hadir, jadi mereka harus menujukkan betapa harmonisnya keluarga mereka.


“Kiara, putri Ibu sudah datang, kemarilah,” seru ibunya memeluk Kiara, tetapi dia berbisik, “Jangan membuat masalah, lupakan perasaanmu pada Bian, ini demi kebaikan kita semua,” bisik Ibunya lalu setelah itu melepas pelukan dan tersenyum lagi.


Kiara hanya bisa tersenyum pahit, dia tersenyum dan membiarkan ibunya bersandiwara seperti itu.


Inilah hidup Kiara, mungkin bagi kebanyakan orang Kiara terlalu bodoh karena membiarkan sikap keluarga angkatnya itu, tetapi bagi Kiara menjadi sebatang kara adalah yang paling membuat menderita, tidak apa bersandiwara sedikit yang penting namanya ada di kartu keluarga, yang artinya dia tidak sendiri.


Bagi Kiara keluarga adalah sesuatu yang ia dambakan, tetapi sepertinya dia memang sial mendapatkan keluarga angkatnya yang penuh drama yang menjadi pengadopsi nya.


***


Melihat betapa harmonisnya keluarga pemilik yayasan terbesar di negera itu semuanya mejadi kagum, merasa jika orangtua angkat Kiara adalah orang yang sangat baik, bisa mengadopsi dan mendidik Kiara dengan baik.


Kiara bisa melihat jika Bella sekarang mengenakan gaun yang sangat indah, dia tampak bersinar, disisinya ada Bian Agler, dia melihat mereka berdua, matanya bertemu Bian Agler yang juga sedang menatap kearahnya, menyadari itu Kiara langsung menunduk, seperti yang dikatakan ibunya, dia tidak ingin membuat masalah demi kebaikan mereka.


Tetapi akan bohong jika Kiara tidak merasa sakit hati, dia melihat perempuan yang bersanding dengan Bian bukan dirinya, dahulu saat mereka masih kecil dia dan Bian sering berpura-pura menikah, Kiara akan berdiri di sisi Bian, dan mereka akan melakukan upacara pernikahan yang katanya akan terjadi saat mereka sudah dewasa.


“Aku tidak akan melepaskanmu, dan akan menikahimu saat kita sudah besar,” itulah ucapan Bian saat itu, yang diingat sampai saat ini oleh Kiara.


“Siapa yang tidak bisa melepas siapa! Sekarang yang ada disisimu adalah orang lain Bian, apakah kau ingat janjimu padaku? Sekarang aku bahkan tidak bisa menangis karena rasa sakit hatiku! Sial, aku ingin menangis, aku tidak tahu jika melihat adegan ini secara langsung akan sangat menyakitkan,” gumam Kiara tidak menyangka jika melihat Bian dan Bella yang hendak bertunangan itu akan sangat menyakitinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2