Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Teman pertama dan cinta pertama Layla.


__ADS_3

Episode 81 : Teman pertama dan cinta pertama Layla.


***


Kekayaan yang terlalu banyak, kehidupan yang terlalu dirahasiakan dari orang luar, tidak boleh melakukan apa yang dimau dan harus menjadi wanita terhormat menurut standar keluarganya, dia bahkan tidak bisa memiliki teman dan bermain dengan gadis-gadis seusianya.


Layla adalah putri tunggal dari keluarga yang sangat kaya, hatinya terlalu lembut dan rapuh tetapi keluarganya menyayangkan rasa empatinya yang tinggi, menurut keluarganya seorang wantia terhormat dengan kelas sosial yang tinggi harus memiliki hati yang keras dan pendirian yang teguh tidak seperti Layla.


Layla terlalu biasa, dia sama seperti gadis pada umumnya, suka dengan hal sederhana, suka menangis dan bercanda, tetapi tidak satupun ekspresi itu bisa ia keluarkan, dia terkurung didalam gua emas oleh keluarganya sendiri.


Terkadang dia melihat gadis-gadis seusianya bermain bersama, bergosip, pergi karaoke dan belanja hal-hal lucu, rasanya terlihat sangat menyenangkan, tetapi Layla hanya bisa melihat hal itu dari balik sebuah kaca tebal, tangannya mengusap bayang-bayang tawa gadis-gadis muda itu.


Dia, yang katanya adalah wanita bermartabat tinggi dengan sosial tinggi tidak boleh merasakan hal-hal sepele seperti itu, jadi sedari dulu dia hanya melakukan hal-hal membosankan, seperti belajar tata krama, bisnis keluarga, dan menghadiri perjamuan yang membosankan.


***


Suatu hari Layla sangat bosan, dia masih terlalu kecil untuk melakukan semua hal membosankan itu, dia kabur dari pesta perjamuan dan bersembunyi dibawah pohon, dia menangis tetapi juga merepet dan marah-marah sendiri, persis seperti anak kecil perempuan pada umumnya, bukan seorang yang memiliki kelas sosial yang tinggi.


“Woy!”


Tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon, seorang anak laki-laki dengan luka di pipinya, sedang memanggil Layla dari dahan pohon yang tinggi itu.


Layla kebingungan, dia melempar anak laki-laki itu dengan ranting pohon, “Apakah kau tidak takut terjatuh? Kenapa kau bisa sampai diatas sana?” tanya Layla begitu penasaran, bagaimana rasanya bisa naik pohon setinggi itu.


Anak laki-laki itu tertawa, dia mengangkat dagunya dan menunjukkan ekspresi sombong.


“Anak manja sepertimu mana bisa memahami aku? Disini sangat menyenangkan, rasanya aku bisa melihat dunia dengan pandangan yang luas, angin disini juga kencang tetapi sangat menyegarkan, apakah kau lihat luka di pipiku? Ini adalah bukti kesuksesanku memanjat pohon ini, aku terjatuh dan meninggalkan bekas luka, tetapi ini adalah bekas luka yang membanggakan, bekas luka seorang lelaki sejati! Hohoho!”

__ADS_1


Anak laki-laki itu tertawa terbahak-bahak sembari merentangkan tangannya, tetapi keseimbangannya goyah dan dia terjatuh lagi.


Layla kecil yang melihat itu tiba-tiba merasakan sesuatu yang baru, sesuatu seperti debaran aneh, matanya membesar dan berbinar, dia merasa dia bisa menjelajahi dunia dengan anak laki-laki ini.


“Ah, sakit,” keluh anak laki-laki itu mengusap pinggul dan tangannya yang sudah lecet.


Layla mengusap air matanya dan berlari kearah anak laki-laki itu dan mengulurkan tangannya, “Kau keren sekali? Apakah kau mau jadi temanku?” tanya Layla mengulurkan tangannya dengan mata yang sangat berbinar.


Anak laki-laki itu tertegun karena baru pertama kali ada yang mengatakan jika dirinya keren saat terjatuh dari pohon, biasanya semua pelayan dan orangtuanya akan memarahinya habis-habisan, tetapi anak perempuan ini malah mengatakan jika dia keren.


Anak laki-laki itu langsung tertawa, dia meraih tangan Layla, “Hahaha, kau aneh sekali, namaku Alexander, kita akan mulai berteman dari mulai sekarang,”


Ucapan anak lelaki penuh senyuman dan kepolosan itu mendebarkan hati Layla dari saat pertama kali, tetapi sekarang senyuman anak laki-laki itu telah hilang.


Waktu yang menyeramkan entah mengapa menimbun terlalu banyak rahasia yang tidak diketahui oleh Layla, sampai membuatnya harus menerima sikap dingin dan acuh Alexander Grey, teman pertama dan cinta pertamanya.


Layla yang sedang berdiri di kaca kamarnya mengusap kaca yang memantulkan cerminan dirinya, “Aku harap masih sempat,” gumamnya dengan mata yang begitu pilu.


Dia yakin, cintanya akan merubah Alexander sedikit demi sedikit.


***


Waktu akhirnya berlalu, sekarang sudah pagi, Kiara telah bangun dengan tubuh yang ngilu dan pegal, bajunya bahkan sedikit terbuka pagi itu, tetapi dia tidak menemukan Alexander di sisinya.


“Ah, kenapa badanku ngilu dan pegal semua?” keluh Kiara sembari melangkah menuju ke kamar mandi.


Saat ia melihat pantulan dirinya di cermin, dia sangat terkejut saat melihat banyak sekali tanda biru di tubuhnya, “Aaaaa!”

__ADS_1


Kiara berteriak dan menutup mulutnya, dia bahkan sudah seperti macan tutul sekarang, jika diperhatikan dibagian lehernya ada beberapa dan bagian dadanya terlalu banyak.


“Astaga! apa yang dilakukan mosnter itu saat aku tidur? Dasar monster tidak berperasaan! Saat aku tidur pun tetap menghabisiku!” ketus Kiara memutuskan untuk segera membersihkan dirinya, dia harus segera kuliah, ada kelas pagi hari ini di kampusnya.


Kiara tahu jika dia belum dinodai oleh Alexander Grey, dia pasti bisa merasakannya, entah kenapa lelaki arogan yang emosinya meledak-ledak itu benar-benar bisa menahan dirinya dan menghargai Kiara.


Walau Kiara hanyalah mainan pemuas Alexander, tetapi Alexander tetap menghargai Kiara untuk tidak melakukan hal itu padanya saat tidur.


Kiara berendam di bathtub sembari berpikir terlalu keras, “Apakah aku terlalu lama membuatnya menunggu? Aku tahu melakukan hal itu hanya boleh setelah menikah tetapi posisiku sedang dalam tahap tidak memiliki pilihan lain, aku juga sudah janji kan? Sepertinya memang aku harus melakukannya dengan suka rela, agar dia bosan dan melepaskan aku,” seru Kiara sedang berpikir keras dalam bathtub kamar mandi.


Kiara sudah yakin dengan keputusannya, tetapi setelah beberapa menit kemudian,


“Ta … Tapi tetap saja memalukan!”


Saat mengenakan baju dengan pakaian tertutup, dia menggelengkan kepalanya dan menegaskan dirinya, “Tidak Kiara! Kau harus bisa melakukan apa yang ia mau, agar dia bisa melepaskanmu dan bosan padamu, perjuangan hidup memang susah, tapi apa boleh buat!” seru Kiara lagi menyemangati dirinya dan pergi menuju kampus.


Sebelum pulang kampus, Pak Roy sempat mengatakan pada Kiara, jika Alexander Grey tidak akan pulang selama kurang lebih tiga hari karena ada urusan.


Kiara kemudian mengingat ucapan Alexander yang mengatakan jika memang dirinya akan sibuk dalam beberapa waktu.


“Ah, masa bodohlah, lebih bagus lagi jika dia tidak pulang jadi aku tidak perlu mempersiapkan diriku untuk melakukan itu!’ Kiara melanjutkan aktifitasnya untuk kuliah.


Entah kenapa Kiara juga sudah tidak melihat calon istri yang beberapa hari tinggal di kediaman Alexander, Kiara merasa pasti ada hubungannya dengan hal itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2